
"Di dunia ini kau tidak bisa memilih siapa yang ingin kau Cintai. Namun, di dunia ini kau dapat memilih siapa yang ingin kau lindunggi."
~Kim Jongin~
.
.
.
.
Jari panjang kokoh milik Kai mengetuk perlahan pintu kamar yang tertutup rapat. Sudah dua hari jagoannya tidak mau keluar dan mengacuhkan dirinya berserta orang-orang yang ada di sekeliling nya.
"Jonghyun~ah ! Appa ingin bicara." Seru Kai dari luar kamar sang Putra.
Tidak ada Jawaban. Kai menghempas kasar napas beratnya. Bagi Kai di acuhkan oleh sang Putra adalah hal yang menyiksa. Kai begitu menyayanggi sang putra terlepas dari siapa Ibu yang melahirkan anak tampan itu. Lalu bagaimana dengan Jinna? Tidak kah lelaki itu merasakan sesuatu yang bergetar.
Bergetar saat melihat tatapan Sendu Jinna. Dan bergetar saat melihat wajah imut anak itu. Jawaban nya adalah Iya ! Kai merasakan perasaan aneh saat melihat anak itu. Perasaan yang tidak dapat di katakan dengan gamblang. Lalu kenapa Kai sangat tidak menyukai Jinna. Bahkan berlaku kejam pada anak itu.
Beda saat mereka di rumah sakit. Kai sangat baik dan hangat. Itu semuanya penyebabnya adalah wajah itu. Wajah itu begitu mirib dengan wanita itu. Wanita yang ia benci. Entah kenapa meski status Jinna dan Sohyun adalah anak dan Ibu angkat. Lalu kenapa ke dua nya bisa mirib. Awalnya Kai berpikir Jinna adalah anaknya.
Namun ingatan masa lalu membuat Kai menepis harapan itu. Karna bagaimana pun Jinna bukan anaknya. Jika pun Hong Bin berbohong mengatakan bahwa Jinna anak angakat Sohyun. Bisa jadi wanita tua itu mencoba menyembunyikan aib dari keponakan nya itu.
"Jonghyun.."
"Pergi ! Aku benci Appa !" Teriak Jonghyun lantang memotong laju perkataan Kai.
Nina memegang tangan Kai. Membuat lelaki itu menoleh ke arah Nina dengan wajah letih.
"Istirahatlah Oppa. Jonghyun akan baik-baik saja, dia hanya butuh waktu untuk mengerti saja. Aku akan siapakan air hangat untuk Oppa." Tutur Nina dengan senyum lembut.
Kai mengangguk. Ia melangkah meninggalkan pintu kamar Jonghyun. Anak lelaki di dalam kamar menatap layar ponsel milik Sohyun. Wanita itu tidak membawa apa-apa.
Karna saat ia di tarik paksa oleh Hong Bin. Ponselnya berada di kamar karna kehabisan daya. Jonghyun menatap wajah Jinna dan Sohyun. Jari jemarinya mengeser layar. Menatap begitu banyak foto Jinna dan Sohyun. Dan juga foto Sulli berserta Hong Bin tentunya.
Yang membuat Jonghyun tersenyum perih adalah dimana begitu banyak foto dirinya ketika bayi dan balita. Berserta foto Jinna. Tampa sengaja Jonghyun membuka fille tertulis kan masa lalu.
Jari Jonghyun membukanya dengan memasukan kode gabungan ulang tahun nya dan Jinna. Jonghyun menatap foto Sohyun remaja. Foto Sohyun bersama sang Appa dengan balutan baju sekolah. Wanita cantik itu masih menyimpan foto ia dan Kai. Tampa satu pun di hapus.
"Eomma !" Ucap Jonghyun lirih.
Sedangkan di kamar Kai, lelaki itu menatap hamparan bunga mawar merah di balkon kamarnya. Ia kembali menginggat masa lalu. Dimana ia melihat Sohyun yang begitu membuat ia membenci wanita itu.
Flasback on
Kai melangkah dengan tergesa-gesa. Setengah berlari, di lorong arpartemen sederhana. Jonghyun putranya terjangkit Demam Berdarah. Dan Ia butuh Sohyun untuk merawat Jonghyun. Karna anaknya tidak ingin di gendong olehnya. Bahkan sang anak berumur tiga tahun itu selalu menangis dan memanggil Sohyun.
Pertengkaran dia dan Sohyun. Membuat Sohyun pergi dari rumah dan tinggal di Arpartemen yang pernah ia tinggali saat di SHS dulu. Saat sampai di depan pintu arpartemen Sohyun. Lelaki itu langsung saja menekan kode sandi pintu.
Pintu terbuka perlahan. Dan ia masuk ke dalam arpartemen yang termaram. Waktu masih menunjukan pukul delapan malam. Bukan ke biasaan Sohyun sekali untuk tidur di waktu yang terbilang masih dini.
Kening Kai berlipat melihat sepasang sepatu lelaki yang berada di rak sepatu. Namun ia tidak mengindahkannya, lelaki itu masuk terburu-buru ke dalam arpartemen yang luasnya tak seberapa itu.
Melihat pintu kamar Sohyun terbuka sedikit dengan di temani oleh cahaya lampu tidur. Kai melangkah mendekati pintu kamar. Karna ia yakin, Sohyun pasti berada di kamar. Namun saat ia membuka lebar-lebar pintu kamar.
Ke dua mata Kai mencolos. Melihat bagaimana tubuh wanita yang masih menjadi istri nya itu di tindih oleh seorang pria. Lelaki itu mengepalkan tanganya melihat lelaki itu mencumbu leher Sohyun. Sohyun mendesah samar atas perlakuan lelaki itu dengan ke dua mata terpejam.
Kai tersenyum miris. Anaknya tengah sakit, terbaring lemah dengan selang infus. Dan wanita itu belum sah bercerai dengan nya tengah bercumbu mesrah dengan baju yang berantakan. Jangan lupa rok sebatas betis tersingkap tinggi. Tangan kekar lelaki itu bahkan tidak segan-segan mengelusnya.
Rahang Kai mengeras. Ke dua matanya memerah karna amarah dan juga rasa kecewa. Kai membalikan tubuhnya berjalan keluar dengan membanting pintu arpartemen Sohyun dengan keras. Air matanya mengalir deras, dadanya di remas dan keras.
Sohyun mendorong lelaki itu saat ke kesadaran kembali. Sohyun meringsut dengan menutupi tubuh bagian atas yang terekpos. Kepala Sohyun berdenyut nyeri, lelaki itu menatap Sohyun dengan pandanggan mengoda.
"Kenapa sayang? Kita harus melanjutkan nya." Tutur lelaki itu dengan menaiki tempat tidur.
Sohyun meringsut. Ia takut, ia pikir lelaki itu adalah Kai. Sohyun frustasi saat harus meninggal kan Kai dan Jonghyun. Ia memutuskan minum sedikit, memang dasarnya Sohyun bukan lah orang yang kuat minum. Hinga dua gelas kecil dia sudah mabuk.
Bertemu lelaki yang kini kembali menindihnya dengan paksa. Ia pikir Kai dan berakhir di tempat saat ini. Tapi lihatlah?! Lelaki itu bukan suami nya. Sohyun berteriak kencang dan meronta. Lelaki itu memaksa Sohyun untuk di tiduri.
Beruntung saat itu Hong Bin yang datang mengagalkan kejadian yang hampir membuat Sohyun kehilanggan harga dirnya. Sohyun menangis sejadi-jadinya di pelukan Hong Bin. Tubuhnya gemetar hebat, ia takut. Jika saja Hong Bin tidak datang maka sudah pasti Sohyun tidak akan bisa lagi melihat matahari pagi.
Sudah pasti ia akan melakukan aksi bunuh diri karna merasa kotor. Namun apa yang terjadi. Saat ia tau Jonghyun, putra nya sakit. Sohyun berlari seperti orang gila ke rumah sakit.
Yang ia dapatkan adalah tuduhan berselingkuh. Dan juga hinaan dari Kai. Kata-kata kasar yang membuat Sohyun merasa rendah. Memang benar ia hampir tidur dengan lelaki lain. Namun itu semua bukanlah atas dasar sadar. Lelaki bejat itulah yang memafaatkan ke adaan tak sadarnya. Sejak saat itulah Kai membenci Sohyun. Benci-sebencinya pada Sohyun.
Flasback Off
"Setelah apa yang kau lakukan padaku. Lalu kau pikir aku akan mudah menerimamu. Meski kau kehilanggan separuh ingatanmu. Tapi tidak dengan aku, Kim Sohyun. Aku bahkan merasa benci harus menanamkan benihku di rahim wanita kotor sepertimu." Ucap Kai memandang hampa bunga mawar merah.
***
Tubuh Sohyun berkeringat. Kepalanya terlihat mengeleng seolah menangkis sebuah kejadian. Kejadian yang seolah-olah itu semuanya nyata. Sohyun berteriak nyaring. Ia terduduk dalam tidurnya. Cahaya matahari memasuki kamar arpartemen mewah Sohyun. Sohyun meraih gelas berisi air putih di samping nangkas.
Meneguk habis isinya. Napasnya masih tidak stabil. Di atas kaca rias memo tertempel di sana. Dimana Bibi dan Sulli tidak di rumah. Ke duanya membawa Jinna jalan-jalan. Sudah satu bulan Sohyun bermimpi buruk. Ah tidak ! Mungkin lebih tepatnya kilasan pengalan kisah masa lalu.
Sohyun menekuk kakinya. Membenamkan wajah di ke dua lutut nya. Ia menangis dalam diam.
"Aku tidak menghianatimu." Ucap Sohyun pelan."Aku bukan wanita kotor. Aku tidak pernah begitu Kai~ah. Jangan membenci aku." Lanjut Sohyun meremas surainya hinga kusut.
Sohyun turun dari rajang meraih gunting di atas meja. Ia menatap pantulan tubuh di cermin. Ia memotong asal rambut nya hinga sebahu. Kim Sohyun, berserta alasan yang tidak ingin Kai tau. Membuat ia merasa frustasi.
Jika Sohyun mengatakan ke beradaan Jinna pada Kai. Apakah lelaki itu akan bahagia? Tentu tidak. Kai pasti menuduh itu adalah anak lelaki itu. Dan jika pun Kai tau Jinna adalah darah dagingnya. Maka Kai akan merampas Jinna seperti ia merampas Jonghyun. Karna Kai pernah menghina Sohyun dengan sebutan wanita murahan. Wanita yang tidak pantas menjadi seorang Ibu.
Sohyun tersenyum perih. Ia menarik napas pelan dan membuangnya dengan kasar.
"Kai~ah. Aku mencintai mu, tapi jika Cinta yang aku miliki adalah sampah yang menjijikan untukmu. Tapi Jinna kita bukanlah anak yang bisa kau sakiti. Aku kuat karna nya, dan aku akan hidup untuk Jinna. Aku tidak akan mengharapkanmu lagi Kai. Seperti saat dulu." Tutur Sohyun tersenyum sendu.
Di lain tempat lelaki berkulit tan itu babak belur. Sedangkan wanita cantik itu berteriak keras dan berlutut dengan di pegangi oleh pengawal Ayah Kai. Lelaki tua itu mengajar Kai habis-habisan. Meski sudah memasuki umur lima puluh lima tahun ke kuatan fisik Tn.Kim perlu di acungin jempol.
Sedangkan Hyemi menatap Kai tampa bisa membantu. Nina menghiba pada Hyemi, meminta wanita yang berstatus sebagai mertuanya itu untuk menghentikan Appa Kai.
Hyemi tidak mau. Ia memilih menatap jijik Nina dan mendorong Kecil Nina dari ke dua tanganya. Bagaimana bisa wanita itu menikah dengan anaknya. Hyemi merasa tercabik saat tau Kai telah menikah. Dan saat ini Nina hamil empat bulan.
"Pergi dari rumahku." Seru Tn.Kim mengelegar.
"Appa." Tutur Kai dengan lirih.
"Bawa jalang ini sekalian. Rumahku kotor karna rubah betina ini." Timpal Hyemi tampa perasaan.
Nina berlari membantu Kai berdiri. Pembatu rumah Kai hanya bisa melihat tuan mudanya dengan pandanggan kasihan.
"Dia tidak jalang Eomma ! Kim Sohyun lah yang jalang. Wanita itu peng..."
"Cukup ! Pergi ! " Bentak Hyemi dengan melengking.
Nina membatu Kai berdiri dan melangkah meminta Kai tidak melanjutkan perdebatan itu lagi. Hyemi tersenyum lirih. Putranya menghancurkan hatinya untuk ke dua kalinya. Suami Hyemi hanya bisa memalingkan wajah melihat istri nya terluka.
"Eun~ah, maafkan aku tidak bisa melindunggi Sohyun dan memberikan dia kebahagian. Seharusnya aku tidak menikahkan putra-putri kita. Sohyun tidak akan menderita seperti ini. Maafkan Putraku Eun~ah." Ucap Hyemi dengan tangisan.