
"Jika kau di beri pilihan Meninggal kan atau di tinggal kan. Maka yang mana akan kau pilih? Bukankah ke dua nya sama-sama terasa kejam?"
~Kim Sohyun ~
.
.
.
.
.
Ke dua mata bulat itu terlihat begitu kosong. Di luar rumah besar keluarga Kim penuh dengan orang-orang berpakain hitam. Banyak orang yang menyampaikan kata belasungkawa untuk keluarga besar Kim. Baik itu dari kerabat terdekat, para Pengusaha dan juga beberapa reporter yang berdiri di luar rumah.
Para Pengawal menjaga ketat rumah besar baik di luar mau pun di dalam. Wanita rambut sebahu itu hanya dapat diam. Ia seakan bisu dan tuli. Lingkaran hitam di ke dua matanya. Setelah isakan tangis menyayat hati dengan erangan ketidak adilan yang ia rasa. Wanita itu kini bagai patung tak memiliki jiwa.
Wanita paruh baya, mantan Ibu mertua nya masuk ke dalam kamar. Ia menatap perih mantan menantunya. Ia tau kehilanggan bukanlah hal yang mudah. Dengan langkah berat wanita itu mendekati ranjang. Ia memeluk tubuh Sohyun dengan belaian di belakang punggung wanita yang tampak pucat itu.
"Relakan semuanya sayang. Eomma tau ini berat untukmu. Tapi kita tidak bisa berbuat banyak sayang." Tutur Hyemi dengan suara serak.
Hyemi merasakan apa yang Sohyun rasakan. Tidak ada tangis atau pun pergerakan. Seakan jiwanya ikut pergi bersama dengan kepergian ke dua orang yang ia sayangi.
Tak beda jauh dengan Sohyun. Lelaki dengan raut wajah pucat pasi itu menatap ke dua foto di atas meja. Di temani bunga Kristan di atas meja. Senyum itu tidak pernah bisa ia lupakan. Suara itu tidak pernah ia lupakan. Lelaki itu meminta orang-orang meningalkan ruangan berkabung. Hinga menyisakan ia sediri di sana.
"Kenapa kau pergi? Appa belum mengatakan apa-apa padamu sayang. Appa belum memperlihatkan dan memperlakuakan Jinna dengan baik? Jinna~ya..." Kai terisak pedih.
Kim Jinna. Masih melekat di ingatakan Kai saat pertama ia bersitatap dengan sang Putri. Di mana ia pertama kali ia memeluk sang Putri. Tapi pada akhirnya ia melukai hati sang Putri dengan sandiwara. Sang Putri seharusnya membenci dirinya dan tidak ingin bertemu dengan dirinya. Meski Kai meregang nyawa. Harusnya Jinna tidak peduli.
Tapi apa? Kim Jinna malah mendatanggi nya dengan permintaan untuk ia sehat. Jinna memeluknya dan memangil dirinya dengan panggilan Appa. Setelah apa yang ia lakukan.
Air mata kembali menyapa pipi turus Kai. Lelaki itu memandang satu foto lagi. Dimana wanita manis dengan senyum hangat. Wanita yang sudah jelas ia sakiti. Namun wanita itu tetap memberikan perhatian dan juga kasih sayang tulus pada Kai dan sang Putra bahkan sang Putri.
Choi Nina adalah wanita ke dua yang hadir dalam hidupnya setelah Kim Sohyun. Meski ia tidak mencintai wanita Choi itu. Akan tetap ia menghargai dan menyayangi Nina meski ia memafaatkan wanita itu. Bahkan wanita itu hamil anaknya. Anaknya yang belum lahir di dunia juga ikut meregang nyawa bersama sang Ibu.
"Kai~ah." Suara Chanyeol menyapa gendang Kai.
Lelaki berkulit tan itu tidak menyahuti seruan Chanyeol. Chanyeol memberi hormat untuk pertama dan terakhir kalinya ke pada dua orang berbeda usia. Chanyeol sempat mendengar pembicaraan polisi. Nina melindunggi Jinna saat terjadi kecelakaan lalu lintas karna tabrakan beruntun. Namun naasnya Jinna yang di lindungi terpental saat Nina meregang nyawa. Bakan Kim Hong Bin wanita tua itu terpenting keluar mobil saat tabrakan beruntun terjadi.
Ke tiganya habis pulang dari rumah sakit. Karna Jinna ingin bertemu dengan sang Ayah. Ia ingin menguatkan Kai untuk menjalani pengobatan. Dan juga untuk memberikan suport agar ia tau Kai masih mencintai sang Ibu yang sebentar lagi akan menikah dengan lelaki lain.
Meski pun Jinna masih anak-anak tapi ia dapatkan merasakan perasaan orang dewasa. Bukankah banyak yang bilang anak-anak lebih peka di banding orang dewasa? Itulah yang di rasakan Jinna. Setelah selesai menjenguk sang Ayah. Jinna dan Hong Bin di antar kan Pulang Oleh Nina.
Tidak ada yang bisa menghindari kematian. Itulah yang terjadi. Mobil Nina kehilanggan ke seimbangan karna aspal yang licin. Akbibat salju bersamaan dengan itu. Di depan mobilnya ternyata sudah banyak yang mendapatkan hal yang sama. Tabrakan beruntun terjadi.
Banyak orang yang meninggal. Termasuk ketiga wanita dengan umur berbeda itu. Kim Sohyun kehilanggan dua orang sekaligus sama halnya dengan Kai. Lelaki itu kehilanggan sang Putri dan Istri. Sedangkan Sohyun kehilanggan Sang Bibi dan sang Putri.
"Jangan menyalahkan dirimu Kai~ah. Semua yang terjadi adalah takdir." Hibur Chanyeol pelan.
Tidak ada jawaban. Kai hanya diam dalam tangisnya. Chanyeol mengusap punggung belakang Kai dengan perlahan. Lalu beralih menatap foto Jinna. Chanyeol tidak tau apa yang akan ia lakukan seandainya di posisi Jinna adalah Jillo.
"Aku, Appa yang Kejam Hyung." Tutur Kai dengan pandanggan nanar.
"Tidak. Jinna tidak pernah mengangabmu begitu. Bukankah karna itu ia selalu hadir di setiap pengobatanmu? Jinna mencintai mu. Ia menyangimu dan tidak pernah membencimu Kai~ah. Jangan biarkan Jinna kecewa padamu." Tutur Chanyeol bijak.
Kai mengeleng. Ia bembantah apa yang Chanyeol katakan. Ia adalah orang tua yang bodoh dan kejam. Hinga ke dua anaknya membenci nya. Dan sekarang ia hanya mempunyai satu orang anak. Kim Jonghyun, ia masih tidak mendekati Kai. Ia masih takut dan masih dalam pengobatan psikiater.
****
5 bulan kemudian
Hari tampak gelap. Kim Rowoon meletakan buket bunga di atas makam yang masih basah. Tidak ada lagi air mata seperti kemarin. Ia duduk di samping makam wanita yang ia Cintai. Rowoon menegadahkan wajahnya menatap langit yang kelabu. Sekelabu hatinya, ia tersenyum miris.
"Bukankah kau berkata akan berpisah dengan nya. Tapi kenapa kau berpisah seperti ini? Bukan seperti ini yang aku ingin lihat Nina~ya." Tutur Rowoon pelan.
Flashback on
Rowoon melangkah mendekati wanita yang tengah hamil besar di sudut Caffe. Ia menarik kursi untuk ia duduki. Di atas meja Caffe Milk Shake dingin telah tersedia. Wanita terlihat semakin Cantik di usia dewasa. Di mata Rowoon Choi Nina selalu Cantik apa pun kondisi nya.
"Oppa !" Seru Nina dengan senyum hangat.
Nina masih sama seperti dulu. Penuh kehanggatan dan juga lembut. Saat mereka masih berpacaran tahun-tahun lalu. Nina selalu menampilkan senyum hangat dan juga perhatikan.
"Ada apa Anda memanggil saya kesini Ny.Kim?" Tutur Rowoon dengan nada dingin.
Nina tersenyum. Ia meneguk minumannya dengan senyum tak pernah pudar. Lalu meletakan minuman nya di atas meja. Ia menatap Rowoon dengan wajah serius.
Rowoon tidak mengindahkan permintaan Nina. Ia malah menyandarkan pungung belakang nya di kursi lalu menatap Nina dengan wajah yang sama.
"Baiklah. Oppa masih sama, masih keras kepala seperti dulu." Tutur Nina dengan kepala mengangkuk singkat.
"Tidak usah basa-basi. Katakan apa yang ingin Anda katakan." Tuntut Rowoon dengan formal dan dingin.
"Apa Oppa masih Mencintai aku?"
Hampir saja Rowoon tersedak air ludahnya sendiri. Ia terkekeh sinis mendengar pertanyaan Nina.
"Apa guna nya kau tau?" Tutur Rowoon sarkas.
"Aku hanya ingin tau. Mungkin aku bisa mengubah keputusan mu." Tutur Nina setenang mungkin. "Jika Oppa masih Mencintaiku kita bisa kembali lagi Oppa. Aku akan menceraikan Kai Oppa. Dan Oppa batalkan pernikahan Oppa dan Sohyun." Lanjut Nina dengan suara tenang.
Rowoon tersenyum sinis. Ia tidak menyangka jika wanita di depannya itu begitu egois.
"Wah ! Kau egoi sekali. Bertindak semaumu." Ucap Rowoon tak percaya.
Nina mengeleng. Ia mengelus perut buncitnya di sertai hembusan napas berat.
"Ya, aku harus egois Oppa. Agar dia tetap hidup dan bahagia." Tutur Nina yang tidak di mengerti.
"Dia?" Ulang Rowoon membeo.
"Kai Oppa. Aku tau ini akan menyakiti hatimu dan melukai perasaanmu Oppa. Tapi aku tidak bisa berbohong lagi." Ucap Nina dengan pelan.
Ke dua alis mata Rowoon terangkat. Pertanda ia tidak mengerti apa yang di katakan oleh Nina.
"Kai Oppa sakit. Dia menybunyikan ke adaanya dari keluarga dan juga orang-orang di segitarnya. Aku baru saja tau. Aku ingin Sohyun dan anaknya kembali pada Kai Oppa. Dan kau kembali padaku Oppa. Dengan begitu kita bisa hidup dengan tenang. Aku ingin melihat nya sembuh dan bahagia." Tutur Nina dengan ke dua mata memancarkan ketulusan.
Rowoon berdiri dengan kasar. Hinga gesekan kaki kursi dan lantai terdengar cukup nyaring.
"Kau begitu mencintai nya? Kau tak pernah berpikir perasaanku Nina? Apa kau tau aku sudah mencoba merelakanmu dengan nya. Aku tidak peduli dia sakit atau pun mati. Aku tidak peduli apa pun yang terjadi termasuk dirimu. Kau adalah wanita terkejam yang pernah aku temui. Mulai sekarang jangan pernah hubungi aku lagi. Dan pernikahan aku dan Sohyun akan tetap terjadi." Ucap Rowoon dengan emosi.
Ia membalikan tubuhnya akan meninggalkan Nina.
"Kau masih sama Oppa. Kau egois ! Kau hanya memikirkan orang diri sendiri. Dulu saat aku mengatakan tak ingin kau pergi. Kau tetap pergi. Aku mencintai mu Oppa ! Sungguh. Dan pergi bertahun-tahun tampa kabar. Aku tidak butuh harta belimpah saat itu Oppa. Aku hanya butuh dirimu dan Cinta mu. Tapi apa?! Tampa bertanya padaku, Kau pergi meninggalkan aku sendiri. Aku merasa di buang dan di campakan." Tutur Nina dengan air mata.
Rowoon terdiam. Ia merasa di tampar oleh perkataan Nina. Memang benar ia pergi tampa persetujuan Nina. Itu semuanya ia lakukan agar bisa membahagiakan Nina. Tapi ia lupa, jika bahagia tidak berpatokan dengan harta.
"Lalu kau marah aku mencintai lelaki lain. Dan egois untuk lelaki lain. Lalu tidak kah kau melihat jika kau lebih egois dari pada aku. Kau menikahi wanita yang tidak mencintai mu. Oppa aku mohon batalkan pernikahan itu sebelum semuanya terlambat." Ujar Nina dengan suara serak.
"Aku tidak bisa." Tutur Rowoon.
Ia melangkah pergi meninggalkan Nina yang menagis di sudut Caffe. Jika saja Ego Rowoon tidak tinggi. Ia sudah pasti memeluk Nina dan mengatakan ia mau melakukan nya. Asalkan Nina kembali padanya. Ia sadar kepergian Nina adalah salahnya. Ia yang meninggal terlebih dahulu. Jadi tidak salah wanita itu mencintai lelaki lain.
Apa boleh buat kata-kata yang ingin di dengar Rowoon adalah. Nina mengatakan ia masih mencintai dirinya dan ingin kembali. Bukan mencintai pria lain dan berkoban demi pria itu.
Flashback off
"Maafkan aku Nina~ya. Harusnya saat itu aku mengatakan aku akan mengabulakan keinginan mu." Ucap Rowoon dengan suara lirih.
Di lain tempat Sohyun mengusap lebut puncak kepala sang Putra. Sohyun tidak ingin kehilanggan Jonghyun seperti ia kehilang Jinna. Lima bulan sudah berlalu meski luka itu masih membekas.
"Eomma, tidak akan pernah meningalkan Jonghyun satu detik pun. Tidak akan." Tutur Sohyun.
Sohyun terlihat lebih posesif pada sang Putra. Ia meninggal kan karir nya dan juga membatalkan pernikahan nya dengan Rowoon. Lelaki itu tidak marah saat Sohyun mengatakan tidak ingin menikah.
Jonghyun memeluk tubuh sang Ibu. Sohyun membalasnya dengan lebih erat. Jonghyun tinggal dengan Sohyun di Arpartemen. Ia hanya tinggal berdua saja. Jika di tanya kabar Kai. Lelaki itu menghilang bagaikan di telan bumi.
Sohyun selalu mengawasi Jonghyun. Baik di sekolah mau pun keluar rumah. Jika satu detik saja ia tidak melihat wajah sang Putra ia kan seperti orang gila mencari Jonghyun. Kim Jonghyun sudah bisa berbica. Ia tau jika sang adik telah tiada bersama sang pengasuh.
Tidak ada kalimat terlontar di bibir Jonghyun mengatakan rindu pada sang adik di depan Sohyun. Choi Sulli, melarang Jonghyun mengatakan kata Jinna. Agar Sohyun tidak semakin terpuruk.
Keluarga Kai membantu Sohyun menjaga Jonghyun. Dan juga perkembangan mental Sohyun. Sohyun sempat despresi berat pasca kepergian Jinna dan Hong Bin. Keluarga Kai tidak tau di mana keberadaan sang Putra. Perusahaan di pimpin oleh Kim Jisoo. Adik kandung Kai.
"Eomma akan melindunggi Jonghyun." Tutur Sohyun terus mengulang perkataannya sampai ia memejamkan matanya.
Wanita itu tertidur. Saat itu ke dua mata Jonghyun terbuka. Ia mengelus perlahan pipi tirus sang Ibu. Ia kasihan melihat Sohyun seperti saat ini.
Jonghyun rindu Appa dan juga sang adik. Tapi apa boleh buat ke adaan harus membuat Jonghyun menelan mentah-mentah kata rindu itu.
"Eomma ! Jonghyun rindu Jinna dan Appa." Tutur Jonghyun dengan air mata.