
"Hidup itu tidak selalu di isi dengan warna putih. Ada kalanya warna hitam hadir dalam hidupmu."
~Kim Sohyun ~
.
.
.
.
Rintik hujan terlihat jelas di balik kaca bening rumah sakit. Sohyun menatap rintik hujan yang menghujani bumi dengan brutal. Awan gelap menyelimuti kota Seoul.
Mata bulat itu tidak lagi memiliki kata bening di sana. Netra hitam itu terlihat kelam. Sekelam langit yang di tutupi oleh awan hitam. Rasa sakit itu lebih dari pada tusukan yang ia lakukan. Biarlah orang-orang berkata ia gila, ia tidak peduli.
Yang ia pedulikan adalah bagaimana rasa sakit itu bisa terbalaskan. Cinta yang ia pikir akan berubah, membawa angin segar. Tapi nyatanya tidak sama sekali. Kai merobek hatinya, menginjak jiwanya. Hinga tidak di temukan lagi Sohyun yang dulu.
"Kenapa berdiri di sana?"
Suara berat itu membuat Sohyun menoleh. Lelaki itu tersenyum hangat pada Sohyun. Di tangan lelaki itu sebuket bunga Lily kesukaannya terlihat begitu menyesakan.
Langkah. Lelaki itu mendekati posisi Sohyun berdiri dengan perlahan. Sohyun menatap bunga putih itu sebentar lalu beralih pada pemandangan di balik kaca.
"Aku tidak suka bunga Lily lagi Seonbae." Ujar Sohyun ketika lelaki itu akan memasukan bunga itu ke Vas kosong di samping ranjang Sohyun.
Lelaki bermaga Jung itu terhenti. Ia menoleh ke arah sang adik kelas. Ia mendesah resah.
"Lalu kau menyukai bunga apa?" Tanya Jaehyun yang sebenarnya tidak berguna sama sekali.
Jaehyun tau. Kim Sohyun, ia terlihat berbeda dari yang dulu. Ah, tidak ! Kim Sohyun yang sekarang tak terkenal. Jaehyun tidak kenal wanita yang membelakanggi tubuh nya.
"Mawar hitam." Ujar Sohyun pelan.
Alis Jaehyun terangkat. Ia bukan Dokter psikologi hinga tau apa arti dari perkataan Sohyun. Namun ia bukan lelaki bodoh yang tidak tau artinya dari bunga Mawar Hitam. Yaitu duka dan kelahiran kembali. Namun Jaehyun tidak tau, dari dua artian itu yang mana Sohyun pilih.
Duka? Atau Kelahiran kembali?! Apa pun yang adik kelasnya itu pilih Jaehyun harap bukan luka lagi. Ia kasihan melihat Sohyun. Lalu apa kabar dari lelaki yang bermarga sama dengan Sohyun. Jika Sohyun terluka sedalam ini. Maka lelaki yang sudah di angab adik oleh Jaehyun pasti juga terluka.
"Baiklah. Lain kali akan aku bawa Mawar Hitam untukmu." Jawab Jaehyun dengan senyum hangat.
Sohyun membalikan tubuhnya. Ia menatap Jaehyun dengan pandangan tak terbaca.
"Tidak usah. Aku ingin bawakan lelaki itu untukku." Ucap Sohyun dengan senyum misterius.
"Kau...."
Sohyun tersenyum melihat keterkejutan Jaehyun. Tidak ada kata yang keluar dari bibir Jaehyun.
***
Jisoo menatap sang keponakan dengan padangan sedih. Kim Jonghyun masih belum bisa bersuara. Anak itu sudah beberapa kali melakukan rehabilitasi. Mengembalikan cahaya di balik matanya. Agar sang suara kembali hadir.
Tidak ada yang dapat orang-orang lakukan. Kim Sohyun, ia menolak menemui Jonghyun berapa minggu ini. Dengan alasan ke adaanya yang masih tidak bisa jauh dari tempat tidur. Dan menolak untuk Jonghyun menemuinya di ke adan yang tidak fiit.
Alasan ! Ya, itu hanya alasan saja. Ia mau sang anak semakin tersiksa hinga benci begitu dalam pada Kai. Terbukti Jonghyun histeris menolak keberadaan Kai. Saat Kai datang Jonghyun melempari Kai dengan semua benda yang ada di sekeliling nya tampa teriakan.
Ke dua mata Jonghyun menunjukan rasa marah dan takut. Hinga Dokter melarang Kai untuk menjenguk Jonghyun, terkecuali saat anak itu tidur. Menyiksa?! Oh tentu saja, Kai tersiksa dengan ke adaan.
Bukan hanya Jonghyun saja yang beraksi marah dan takut padanya. Jinna, anak itu bahkan berteriak dan menjerit saat Kai mendatanggi nya di taman kanak-kanak. Anak itu bahkan menangis mengatakan untuk Kai pergi.
Meski bibir orang Dewasa tidak mengatakan kenapa Ibunya terbaring di ranjang rumah sakit. Namun Kim Jinna dapat mencuri dengar dari Suster yang mana mereka mengosipkan jika Sohyun tertusuk di rumah Kim. Yang mana Jinna tau betul Kim siapa yang mereka katakan.
Gadis kecil itu berspekulasi Kai lah yang berniat membunuh sang Ibu. Hinga ia menjerit takut saat melihat Kai. Lelaki berkulit tan itu kini berada di dalam kamarnya. Di rumah mewah dimana tepat kejadian itu terjadi.
"Hyung." Seru Kai dengan wajah pucat.
Lelaki itu merasa tidak ada tenaga saat ini. Ke dua anaknya membenci dirinya. Hati Kai remuk dan hancur kala Jonghyun histeris. Dan tatapan benci Jinna padanya. Kai memang pantas bukan mendapatkan itu semuanya?!
"Makanlah Kai. Jonghyun dan Jinna pasti akan memaafkanmu. Jangan begini Kai~ah." Ucap Chanyeol lirih.
Chanyeol telah menganggab Kai seperti adik kandungnya sendiri. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Sohyun melakukan itu semuanya. Bagaimana bisa Sohyun memutuskan bunuh diri di rumah Kai. Dan bahkan membuat sang Putra melihat nya.
Sebagai orang tua Chanyeol marah pada tindakan Sohyun. Karna ia tidak membenarkan kebodohan Sohyun. Hinga Jonghyun menjadi anak yang bisu. Meski Dokter mengatakan bahwa pita suara Jonghyun dapat kembali menghasilkan suara. Tetap saja, Chanyeol merasa sedih melihat Jonghyun terbaring dengan mata kosong.
Chanyeol juga punya satu orang putra. Anak yang begitu tampan seperti dirinya. Park Jillo, adalah putra dan seluruh hidup Chanyeol. Jika hal itu terjadi pada Jillo, maka Chanyeol tidak akan bisa hidup. Chanyeol akan merasa hancur.
"Makanlah, dan temui Sohyun. Ia mengatakan akan bertemu Jonghyun setelah kau bertemu dengan dirinya." Ucap Chanyeol lagi dengan menatap ke arah pintu masuk yang terbuka.
"Dia akan menemui Jonghyun?" Tanya Kai dengan antusias.
Chanyeol mengangguk. Saat itu Nina masuk membawa baki makanan. Yang berisi bubur berseta susu. Chanyeol hanya menatap Nina dengan pandanggan tak suka. Karna ia merasa terhianati oleh gadis itu.
Ia pikir Nina tidak lebih dari perawat Jonghyun. Tapi nyatanya Wanita itu adalah Istrinya Kai. Chanyeol telah berharap banyak Kai bisa kembali dengan Sohyun. Ketika mantan Istri Kai itu kembali ke Korea. Bahkan Chanyeol menyukuri saat insiden tabrakan itu terjadi.
Ia pikir semua itu adalah rencana Tuhan menyantukan Sohyun dan Kai. Tapi ternyata ia salah besar. Kai malah mengacaukan semuanya. Hinga kebenaran siapa Jinna terbongkar. Anak itu adalah anak Kai. Yang membuat Chanyeol sedih adalah saat menginggat bagaimana perlakuan Kai pada Jinna.
Jujur. Chanyeol sangat marah pada Kai saat ia memperlakukan Jinna dengan kasar. Hinga insiden Hong Bin membawa Sohyun dan Jinna. Ingin sekali Chanyeol memberikan bogem mentah pada Kai. Namun ia merasa Iba dengan Kai.
Di satu sisi, Kai juga tersakiti. Apa lagi saat Tn.Kim dan Ny.Kim marah besar pada Kai. Membuat wajah Kai babak belur hinga marah Chanyeol luntur.
Chanyeol berdiri saat Nina telah berada di samping ranjang yang satunya lagi.
"Aku harus pergi menjemput Jillo di sekolah. Cepat lah sehat dan minta maaf lah pada Sohyun. Terutaman Jinna." Ucap Chanyeol lalu melangkah keluar tampa menyapa Nina seperti biasanya.
Dulu Chanyeol begitu ramah pada Nina. Namun setelah tau status Nina, ia tidak lagi menyapa Nina.
"Oppa ! Kenapa Oppa yang harus meminta maaf?" Tanya Nina tak mengerti.
"Sudahlah Nina. Aku letih, bisakah kita membahasanya nanti." Ucap Kai dingin.
Kai tidak ingin bertengkar dengan Nina seperti beberapa hari yang lalu. Karna ia tau Nina sedang hamil.
Nina mendengar suara nada dingin yang Kai lontarkan hanya mendesah. Ia merasa Kai terlihat begitu lemah dan juga suka marah. Hinga membuat Nina sedikit takut pada Kai. Tidak seperti dulu.
***
Sohyun tersenyum memyuapi anak lelaki yang masih memakai baju pasien. Dengan telaten Sohyun menyuapi Jonghyun. Anak itu masih belum bisa berbicara, Sohyun merasa begitu terluka dan tercabik. Namun ia tidak bisa lemah begitu saja.
"Selesai. Sekarang saatnya Jonghyun tidur." Ucap Sohyun dengan senyum dan nada ceria.
Jonghyun menatap Sohyun dengan pandanggan tak terbaca. Meski tidak ada pandangan kosong. Namun anak lelaki tampan itu masih takut. Takut jika yang berada di depanya saat adalah halusinasinya saja.
Ia mengenggam ujung baju Sohyun ketika Sohyun akan meletakan piring kotor di sudut meja. Sohyun menatap Jonghyun dengan bibir berdenyut. Ia rasanya ingin menagis.
"Eomma ! Tidak akan pergi lagi. Eomma disini bersama Jonghyun. Jonghyun, Jinna dan Eomma sekarang tidak akan terpisah lagi." Ucap Sohyun dengan pita suara bergetar.
Ke dua matanya berkaca-kaca. Dadanya sesak melihat bagaimana Jonghyun menatap nya. Bagaimana Jonghyun mengenggam ujung bajunya dengan kuat membuat ujung baju Sohyun kusut.
Genggam ! Gengaman itu tidak ia lepaskan meski Sohyun telah berjanji tidak meninggal kannya. Sohyun meletakan piring kotor di nangkas. Ia melepaskan cengraman tangan Jonghyun di ujung bajunya.
Ke dua mata Sohyun membulat sempurna. Anak itu terdiam dengan mata kosong kembali. Dan tidak ada yang lebih mengejutkan selain melihat celana panjang pasien itu basah.
Jonghyun buang air kecil di celana nya dengan tubuh bergetar. Sohyun meraung dalam hati. Kesalahan yang ia buat untuk mendapatkan Jonghyun ternyata sangat besar. Sohyun mengutuk dirinya dengan sumpah serapah.
"Tidak. Jangan begini sayang. Jonghyun membuat Eomma takut." Tutur Sohyun membawa tubuh Jonghyun masuk ke dalam pelukannya.
Sohyun menanggis. Ia meraung dengan perasaan hancur. Di luar sana Hong Bin tak kalah hancur. Ia melihat semuanya di balik pintu yang pembatas Ruangan tamu dan ruangan rawat Jonghyun.
"Maaf ! Maafkan Eomma !"
Kata-kata itu terulang seperti kaset kusut di bibir Sohyun. Ia takut ! Sungguh sangat takut. Warna hitam memang selalu mengerikan. Dendam Sohyun membuat lubang besar di hati anak itu. Kim Sohyun, salah ! Ia rela memutar waktu kebelakang. Ia tidak akan melakukan itu lagi jika bisa di ulang kembali.
Jonghyun putra nya yang berharga. Tidak pantas di tukar dengan hak asuh bukan?! Jika tau begini, maka Sohyun akan biarkan Jonghyun bersama Kai. Asalakan putra nya baik-baik saja.