I Hate You, Mom & Dad

I Hate You, Mom & Dad
Bab 20 (END)



.


.


.


.


.


2 Tahun Kemudian


Ruangan temaram menemani nyanyian selamat ulang tahun yang ke sembilan tahun. Anak lelaki itu semakin terlihat tampan persis seperti sang Ayah. Lelaki yang tak kunjung menampaki batang hidungnya. Meski sudah dua tahun berlalu.


"Ayo tiup lilinya dan panjatkan harapanmu." Seru Jillo yang semanggat.


Jonghyun menatap sang Sahabat. Lalu menatap wajah-wajah orang-orang yang berada di ruangan temaram yang di temani cahaya lilin kue ulang tahun nya.


Wiusssss............!!!!!


Cahaya lilin padam. Seketika lampu kembali di hidupkan dengan tepukan tangan dari orang-orang. Sohyun memeluk sang Putra dengan erat. Jonghyun membalas pelukan sang Ibu.


"Selamat ulang tahun putraku sayang." Tutur Sohyun dengan senyum hangat.


Sohyun terlihat dewasa. Rambut nya kini telah melampaui batas bahu. Chanyeol menatap ke duanya dengan tatapan tak terbaca. Ga Eun membelai pungung Chanyeol pelan. Hinga membuat tatapan Chanyeol teralihkan pada tatapan sang Istri.


Sohyun melepaskan pelukannya. Dimana Ayah berserta Ibu Kai juga memeluk sang Cucu. Jika boleh jujur ke duanya merindukan sang Putra. Ia berharap Kai mau pulang menemui Sohyun dan Jonghyun. Mereka tidak tau tentang penyakit sang Putra.


Acara sederhana namun penuh dengan tawa dan canda. Jonghyun terlihat bahagia dengan acara ulang tahun nya. Meski di hati kecil nya berharap sang Ayah datang mengucapkan selamat ulang tahun pada hari kelahiran nya. Sudah dua kali ia menunggu ke datangan sang Ayah.


Tapi seperti nya kali ini ia juga akan mendapatkan kekecewaan. Ia pernah bertanya pada orang di segitarnya seputar keberadaan sang Ayah. Namun tidak satu pun yang tau kemana sang Ayah. Terkadang Jonghyun berpikir kenapa saat sang Ibu ada tapi ia malah kehilangan sang Ayah.


Beberapa kali Jonghyun berpikir. Kenapa orang dewasa begitu rumit. Hinga ia tekadang membenci ke dua orang tua nya. Kenapa harus membuat ia berada di situasi yang rumit. Ia hanya membutuhkan kasih sayang secara penuh.


Jonghyun mengusap perlahan foto sang Ayah. Air matanya mengalir, satu jam selesai acara Jonghyun ke kamar beralasan mengantuk. Dan para orang dewasa menginzinkan nya.


"Kenapa Appa masih tidak ingin kembali? Jonghyun rindu Appa." Ujarnya di sela tangisnya.


Ia memeluk bingaki foto Kai dengan erat. Jonghyun menangis di lantai dengan isakan pelan. Anak itu begitu merinduka Kai. Sohyun semulai ingin mengajak sang Putra untuk membuka hadiah yang di berikan oleh ke dua orang tua Kai, Keluarga Chanyeol berseta hadiah dari Sulli. Tapi yang ia dapat kan adalah tangisan sang Putra.


Ke dua matanya menyendu. Sohyun dengan perlahan menutup kembali pintu kamar Jonghyun. Ia melangkah menuju ruangan tamu. Dimana tidak ada satu orang pun saat ini. Semua nya telah pulang tiga menit yang lalu. Sohyun mengedarkan tatapan nya ke semua penjuru.


Arpartemen mewah miliknya terasa begitu sepi. Dengan langkah gontai Sohyun melangkah menuju dapur yang terhubung dengan ruangan tamu miliknya. Sohyun membuka lemari pendingin, mengeluarkan botol berisi cairan berwana merah.


Dengan langkah lambat ia mendudukan tubuhnya di mini bar. Dengan perlahan Sohyun menuang Red Wine di gelas berukuran besar. Seakan yang ia minum adalah air putih. Sohyun meminum nya dalam satu kali tegak. Lalu mengisi gelas kosong hinga semua isinya habis.


Berkali-kali ia cecegukan. Rona merah telah meghiasi wajah nya. Sohyun kembali berdiri melangkah menuju lemari pendingin. Ia mengeluarkan dua botol dari dalam lalu melangkah sepoyongan menuju mini bar. Entah sudah berapa kali ia meneguk minuman beralkohol tinggi.


"Kenapa harus begitu sakit?" Seru Sohyun dengan menunjukan dadanya.


Sohyun dengan mata berkunang-kunang berdiri. Sekan dunia berbutar. Ia melangkah dengan sepoyongaan menuju kamarnya.


"Aku masih mencintai lelaki sialan itu. Ah ! Aku bodoh." Racaunya.


Ia terkekeh lalu menangis. Sohyun merosot kelantai saat tanganya hampir menjangkau gagang pintu kamarnya. Sohyun bersandar di pintu kamarnya. Ia menangis dengan isakan pelan. Ia tidak berhenti meracau mengatakan ia membenci Kai. Ingin Kai mati tapi ia juga ingin Kai berada di sisi nya. Ia mengatakan ia merindukan sang Putri.


Banyak hal yang keluar dari bibir Sohyun. Hinga tampa sadar wanita cantik itu tertidur dengan posisi duduk bersandar di pintu kamarnya.


KLIK !!!


Bunyi pintu terbuka setelah bunyi kata sandi terdengar. Langkah kaki lebar memasuki Arpartemen mewah yang masih di tata rapi dengan hiasan selamat ulang tahun. Di atas meja ruangan tamu masih terlihat kue ulang tahun yang tersisa berseta beberapa kado.


Lelaki itu menekuk satu kakinya. Ia menyamakan tinggi wajahnya dengan wajah Sohyun. Tanganya terulur menyentuh wajah Sohyun yang terasa dingin. Ibu jarinya menyapu sisa air mata dari wajah cantik itu.


Ia menghembuskan napas kasar. Ke dua tangan Kokohnya beralih dari wajah Sohyun ke tubuh wanita berambut hitam legam itu. Ia mengendong Sohyun masuk ke salam kamarnya. Menidurkan Sohyun dengan perlahan.


Jari panjang tanganya menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Sohyun. Ia tersenyum perih, wajah Sohyun terlihat tirus namun tidak mengurangi kecantikan wanita beranak itu.


"Kau masih secantik dulu Sohyun~ah." Serunya dengan suara beratnya.


Dengan senyum tipis. Ia mendudukan body nya di tepi ranjang. Membelai perlahan puncak rambut Sohyun. Tangan itu tak berhenti membelainya dengan perlahan. Hinga kelopak mata Sohyun terbuka. Wajahnya menegang melihat ke dua mata hitam bening itu menatap wajahnya dengan intens.


Ke dua sudut bibir Sohyun tertarik ke atas melihat wajah sudah cukup lama tidak ia lihat. Tangannya mengapai wajah tampan yang terlihat kurus.


"Akhir nya kau datang juga ke mimpiku Kai~ah." Seru Sohyun dengan senyum cerah.


Kai terdiam. Ia tidak dapat bergerak saat ke dua tangan Sohyun menangkup ke dua sisi wajahnya. Sohyun menarik wajah Kai mendekat ke arah wajahnya. Lelaki itu hanya menuruti ke ingin Sohyun. Ke dua pupil mata Kai melebar kala beda lembut itu menyesap bibirnya dengan rakus.


Kai tidak dapat mengilak atau pun menolak. Yang bisa ia lakukan adalah menikmati ciuaman wanita malang itu. Tampa ada menolakan. Tidak peduli apa yang akan terjadi setelahnya.


***


Sinar matahari mengintip dari celah jendela. Ia mengeliat pelan kala tidur panjang nya tergangu. Sohyun melenguh dengan tubuh yang ia rengangkan. Ke dua matanya mengerjap beberapa kali sebelum terbuka sempurna.


Ia mengerang kala kepalanya berdenyut. Sohyun meruntuk saat merasakan denyutan yang menghantamnya. Ia mendudukan tubuhnya dengan perlahan. Sohyun mengeringit kala ia menatap tubuhnya yang hanya memakai gaun tidur. Setahunya tadi malam ia tidak memakai gaun tidur.


Saat ia ingin mengajak Jonghyun membuka kado. Yang ia lihat adalah sang Putra tengah menangis. Lalu ia mengurungkan niatnya, hinga ia berakhir meminum Red Wine sendiri di mini bar.


Sohyun tidak ambil pusing. Ia mengeleng kala ingatan nya saat ia melihat Kai di kamarnya. Ia terkekeh lirih kala ia meningat Kai.


"Sssst ! Akh, kenapa rasanya bagian bawahku nyeri ya? Apa aku datang bulan? Lalu kenapa tubuhku terasa mau remuk." Keluh Sohyun kala telapak kakinya  menginjak lantai kamarnya.


Sohyun melangkah sedikit tertatih. Hinga ia membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Saat puntu kamar terbuka suara teriakan Jonghyun di dapur membuat Sohyun kalut. Wanita berumur dua puluh lima tahun itu langsung berlari menghiraukan rasa nyeri di pangkal pahanya.


Sohyun berlari kencang. Namun mematung di ruangan dapur. Ia Syok sama hal nya dengan putranya. Lelaki yang memakai apron unggu itu tersenyum ke arah ke duanya.


"Appa !"


Dua seruan yang berbeda namun dengan raut dan nada suara yang sama. Kai tersenyum, dimana ia meletakan sup rumput laut makan yang terakhir sebagai penyempurna hidangan di atas meja.


"Ayo makan? Kenapa diam saja di sana." Tutur Kai santai.


Ke dua orang berbeda usia dan jenis kelamin itu masih menatap Kai dengan wajah tidak percaya dan yakin. Rasanya Kai begitu gemas melihat Ibu dan anak itu. Tidak ada yang bergerak mendekti Kai. Hinga lelaki berkulit tan itu memutuskan mendekat dan menyeret ke duanya untuk duduk.


"Pagi jangoan. Pagi Sohyun~ah." Seru Kai dengan mengecup pipi ke duanya.


"Appa !" Seru Jonghyun setelah lama terdiam.


"Eoh ! Aku Appamu sayang. Maafkan Appa yang telah meninggal kan Jonghyun dan Eomma berdua." Ucap Kai lirih.


Tampa banyak kata Jonghyun memeluk Kai dengan erat. Kai memabalas pelukan Jonghyun tak kalah eratnya. Sohyun masih mematung seakan mencerna apa yang tengah terjadi. Saat itu pintu Arpartemen Sohyun terbuka. Chanyeol dan Ga Eun masuk dengan senyum lebar.


"Wah ! Seperti nya kita datang di saat yang tidak tepat sayang." Seru Chanyeol ketika melihat situasai Kai dan Jonghyun.


Ga Eun mengangguk. Ia tersenyum lebar melihat Kai dan Jonghyun. Jauh di lubuk hati Chanyeol dan Ga Eun terasa lega.


***


Ga Eun memberikan Sohyun minuman dingin. Sohyun menerimanya dengan senyum. Ga Eun dan Sohyun berada di kamar Sohyun. Dimana Kai, Chanyeol dan Jonghyun masih di ruangan tamu. Satu jam setelah pertemuan Sohyun dan Kai secara sadar. Wanita cantik itu memutuskan masuk ke dalam kamar.


"Minumlah. Kau butuh minuman dingin untuk menyegarkan otakmu." Tutur Ga Eun dengan senyum hangatnya.


Sohyun menuruti ke ingin Ga Eun. Ia meminum minuman dingin hinga tandas. Lalu meletakan gelas kosong ke atas nangkas.


"Eonni apa yang terjadi?" Tanya Sohyun pelan.


Ga Eun mendesah. Ia tersenyum tipis melihat wajah Sohyun yang masih bingung.


"Aku bahkan tidak tau harus cerita darimana." Aku Ga Eun jujur.


"Ceritakan saja." Tutut Sohyun pelan.


"Baiklah. Aku akan menceritakan nya dengan singat dan mudah di mengerti." Ucap Ga Eun.


"Kai ia menderita sakit kanker hati." Ucap Ga Eun mendapatkan tatapan tajam dari Sohyun.


"Kau tau dia adalah lelaki bodoh. Ia melepaskan mu saat ia tau kau tidak berselingkuh. Ia takut membuat mu sedih dan frustasi akan ke adaanya. Hinga ia berprilaku kejam padamu. Ia tau semuanya. Ia tau Jinna adalah anaknya. Kanker hatinya berada pada taraf paling buruk. Nina adalah tameng baginya. Tidak ada terselip di hatinya cinta untuk Nina. Kematian Jinna,Nina dan Bibi Hong Bin memperburuk ke adaanya. Kim Jongin mengalami despresi Sohyun. Ia meminta aku dan Chanyeol tidak mengatakan pada siapa pun termasuk keluarga nya. Puncaknya, ia harus segera mendapatkan donor hati yang pas. Nasip baik berpihak padanya, ia mendapatkan trasplasi hati yang cocok. Tapi tidak tau apa yang salah Kai mengalami Koma. Ia koma satu tahun lebih. Baru lima bulan ini ke adaanya membaik." Terang Ga Eun dengan serius.


Sohyun tak tau harus beraksi seperti apa. Tangan Ga Eun mengenggam tangan Sohyun.


"Sohyun, aku mohon maafkan segalanya. Tolong terima Kai, wujud kan keluarga yang bahagia sekarang. Karna kesempatan tidak datang dua kali." Tutur Ga Eun bijak.


Sohyun masih diam. Ga Eun tau butuh waktu untuk Sohyun mencerna semua nya.


***


Satu bulan waktu berlalu. Sohyun dan Kai masih belum ada kejelasan. Hubungan ke duanya masih terasa cangung. Sohyun menatap lurus ke arah matahari terbenam. Dua tangan melingar di perutnya membuat Sohyun menoleh kebelakang.


"Maafkan aku." Bisik Kai di sela bunyi deburan Ombak senja.


Sohyun masih diam.  Kai melepaskan pelukannya. Ia membalikan tubuh Sohyun. Lalu bersujud. Sohyun membulat ke dua matanya melihat Kai mengeluarkan sekotak cincin.


"Kim Sohyun. Menikahlah dengan ku. Mari bersama kembali meski untuk ke dua kalinya. Mari bersama-sama perbaiki apa yang salah. Mari berikan Keluarga yang lengkap untuk Jonghyun." Tutur Kai dengan senyum hangat.


Tampa terasa air mata Sohyun meleleh. Sohyun terharu, ia menatap Kai dengan tatapan sendu.


"Terima !"


"Terima !"


"Terima !"


Suara yang sangat familiar di telinga Sohyun membuat Sohyun tersenyum.


"Aku mau menjadi istrimu lagi. Aku mau menikah dengan mu lagi." Tutur Sohyun di sela sisakan tangis nya.


Kai berdiri memasangkan cincin di jari manis Sohyun. Lalu memeluk Sohyun dengan erat. Ke duanya menangis bersama. Jonghyun tersenyum melihat ke dua orang tuanya. Orang-orang yang melihat mengusap pipi yang basah. Ke dua orang tua Kai tersenyum. Begitu pula dengan sahabat Kai dan Sohyun.


Bunyi ledakan di atas langit gelap menjadi penambah meriah suasana. Jonghyun berlari mendekati ke dua orang tuanya. Sohyun melepaskan pelukannya dan memeluk Jonghyun bersama Kai.


"Appa ! Eomma !" Panggil Jonghyun yang di sambut deheman oleh ke dua nya.


"I Hate You, My Mom dan Dad. But I Love You." Tutur Jonghyun mendapatkan kekehan dari ke dua orang tuanya.


Sohyun dan Kai malah mengecup ke dua sisi pipi Jonghyun. Kai mengecup sebelah kana. Dan Sohyun sebelah kiri.


"Maaf sayang." Ucap ke duanya serentak setelah melepaskan kecupan nya.


Serentak ke duanya tertawa. Chanyeol memeluk Ga Eun dengan senyum bahagia. Jillo ikut tersenyum melihat kebahagian sang Sahabat.


~***END~


"Jangan memilih pilihan yang salah. Sekali kita memilih pilihan yang salah. Maka kata sesal tidak akan bisa di hindari. Dan air mata dan juga luka adalah harga mati yang harus di bayar


oleh diri."


~Author***~