I Hate You, Mom & Dad

I Hate You, Mom & Dad
Bab 13



"Luka tidak pernah tampa adanya rasa sakit. Namun bagaimana jika luka tampa darah ?! Apakah rasa nya tetap sama sakitnya? Atau lebih baik mati dari pada harus merasakan luka


tampa darah ?!"


~Kim Sohyun ~


.


.


.


.


Kilatan kamera mengarah pada setiap kaki yang menginjak red carpet yang di lalui oleh para pengusaha sukses. Berserta beberapa artis yang di undang di acara besar itu. Saat kaki jenjang turun dari mobil seluruh camera mengarah padanya. Hinga sang pemilik tubuh terlihat.


Gaun panjang menyapu lantai berwarna pink lembut, bahu yang terbuka dengan butiran mutiara murni. Rambut sebahu lurus berawana coklat gelap dengan kotal lens berwana senada dengan rambut nya. Sohyun terlihat begitu memukau. Ia melangkah dengan senyum berserta lambaian tangan ke arah kamera wartawan.


Ia tetap tersenyum saat beberapa orang menyapa sang artis papan atas itu. Ruangan mewah sebuah gedung membawa Sohyun pada bangku yang memang di sediakan pada model untuk produk make up bertema alami.


Di barisan Sohyun terdapat artis papan atas. Hanya ada beberapa artis yang akan menjadi model utama beberap produk saja yang hadir. Lion Compeny perusahaan yang di miliki oleh keturunan asli Korea. Namun telah lama menetap di Jepang guna mempelajari bahan-bahan alami untuk wajah wanita.


Para Pengusaha sukses berserta pemagang saham mulai memadati ruangan Hotel Mewah. Sohyun tersenyum saat ia di sapa oleh beberapa teman satu profesinya. Namun senyum itu luntur tak kala netera nya menatap ke datangan lelaki terlihat begitu hot dengan Jas unggu lelaki itu terlihat tersenyum lebar kala di sapa oleh rekan kerjanya.


Yang membuat senyum nya luntur bukanlah ke hadiran lelaki itu. Karna Sohyun sudah memprediksi bahwa lelaki itu juga pasti di undang. Namun yang tidak di perdisik oleh Sohyun adalah wanita yang di gandeng oleh lelaki itu.


"Kenapa kau melihat tuan Kim seperti itu Sohyun?" Tanya sang Senior Jang Nara.


Wanita yang berumur tiga puluh tahun itu. Wanita yang begitu imut dan cantik tak sesuai dengan umurnya. Sohyun tertegun, ia memaksakan untuk tersenyum.


"Hanya penasaran dengan wanita yang berada di samping nya." Tutur Sohyun pelan.


"Ah !" Ucap Nara dengan ikut menatap di mana Kai dan Nina berada.


"Aku dengar dari suamiku, tuan Kim akan memperkenal Istri barunya. Dan kau tau? Dia sudah menikah dua tahun lebih. Bukan kah itu adalah berita yang hebat?" Lanjut Nara dengan wajah iri.


Suami Jang Nara adalah pengusaha sukses. Yang bekerja sama dengan perusahan Kai. Hinga ia dengan cepat bisa mendapatkan informasi terbaru dari kantor Kai. Gosip memang lebih cepat menyebar. Atau Sohyun lah yang tidak dapat mendengar gosip itu karna ulah sang meneger Choi.


Wanita yang selalu membatasi ruang gerak Sohyun. Tak jarang Sulli dan Hong Bin membuat Sohyun beberapa minggu ini tidak bisa melihat acara gosip televisi. Atau pun membaca berita melalui mendia sosialnya. Harinya di habiskan untuk bersama Jinna dan ke dua wanita yang menyayanginya itu.


Dengan susah payah Sohyun meneguk air liurnya. Hanya untuk membasahi kerongkongannya saja ia tak mampu. Bibir Nara terus bergerak menyampaikan berita yang tengah menjadi buah bibir para warga Korea. Seakan tuli, telinganya tak mampu menangkap apa yang Nara sampaikan.


Ke dua mata Sohyun menatap nanar ke arah Kai. Lelaki yang terlihat tampan itu yang merasa di perhatian. Menoleh ke arah sang wanita berambut pendek dengan wanita yang sudah pasti ia kenal itu. Tak lama, hanya dua menit hinga Kai memutuskan tatapan nya ke arah Sohyun.


Ia mengenggam tangan Nina dan melangkah menuju para pengusaha lainnya. Ia mengenalkan Ny.Kim pemilik Kimdom Groub kesemua pengusaha dan rekan kerjanya. Seluruh persendian Sohyun terasa tidak bertulang.


"Kau pucat Sohyun ! Kau sakit?" Tanya Nara melihat wajah cantik itu berubah pucat.


"Eonni, aku merasa pusing." Ucap Sohyun jujur.


"Darah !" Teriak Nara lantang dengan wajah panik.


Hidung Sohyun berdarah. Bumi yang ia injak terasa berputar. Seluruh mata menyoroti arah ke dua artis yang merangkup menjadi model itu. Kim Sohyun kehilangan ke keseimbangan. Hampir saja kepala belakang nya menghantam kabin Hotel. Jika Nara tidak menangkap tubuh Sohyun.


Orang-orang berlari mendekati artis cantik itu. Kai dengan refleks melepaskan genggaman nya dari Nina. Ia menghampiri Sohyun yang pingsan di pelukan Nara yang panik. Nina berjalan dengan tergesa-gesa guna menghapiri sang suami.


Saat Kai akan membungkuk. Seorang lelaki tampan lebih dulu membungkuk mengendong Sohyun. Orang-orang memeberikan jalan pada lelaki yang harusnya menjadi bintang dalam acara pembukaan dan peresmian Produk Make Up terkemuka itu. Lelaki itu mengendong Sohyun membawa Sohyun menuju lift.


Kai terdiam di tempat. Hinga ia merasa sebuah tangan mengenggam tanganya. Ia menoleh menatap wajah manis Nina. Dimana ke dua mata Nina memberikan tatapan kecewa. Kai mendesah, ia menunduk. Kim Jongin, tidak mengerti apa yang salah dengan dirinya. Hinga tubuh nya sekakan terpanggil untuk berlari ketika wanita itu terluka.


Untuk ke dua kalinya Kai melakukan hal yang sama. Kai bergumam kata maaf pada Nina. Wanita itu tersenyum dan mengangguk. Di lain tempat tepat di lantai paling atas Hotel mewah yang merangkup memjadi milik Lion Compeny itu lelaki tampan itu menatap wajah cantik terlihat begitu pucat dengan bibir kering.


"Bagaimana keadaan wanita ini Hyung?" Tanya sang lelaki dengan suara serak.


"Dia mengalami stres berat dan tekanan membuat ia kekurangan nutrisi." Jawab Lelaki tampan dengan jas putih kebesaran itu.


"Huf !" Lelaki bermata lembut itu menghembuskan napas penuh syukur.


"Bukankah hari ini peresmian pembukaan produkmu? Aku akan merawatnya. Turun lah kebawah." Ucap Jaehyun.


"Oh ! Aku titip model ini padamu." Tutur lelaki bermarga Kim itu.


Jaehyun tersenyum dan mengangguk. Lelaki itu berburu keluar dari ruangan. Jaehyun hanya mengeleng, ia tau lelaki yang sudah ia angab sebagai adik itu selalu saja seperti itu.


Mendahulukan kepentingan orang lain sebelum kepentingan dirinya. Hatinya begitu baik dan lembut. Tidak ayal, Jika orang seperti nya bisa sukses besar. Berawal dari anak yatim piatu yang miskin. Ia bisa menjadi besar seperti sekarang ini. Dan Jaehyun yakin lelaki itu pasti sudah menuai kebaikan yang ia taman.


NamunĀ  ada yang lelaki Jung itu sesali. Yaitu, luka ! Lelaki itu pasti terluka saat tau apa yang terjadi.


"Aku harap kau bisa menerimanya dengan lapang dada." Ucap Jaehyun dengan menatap pintu yang tertutup rapat itu.


Pandang mata Jaehyun beralih ke arah wanita yang di kenal sebagai Artis sekaligus model. Ada pandanggan yang tidak dapat di terka di ke dua mata Jaehyun saat melihat Sohyun.


***


Sohyun berdiri di pagar besar rumah mewah. Wajah itu masih pucat di tambah baju yang ia kenakan tidak dapat menghalau angin malam. Di waktu yang menunjukan pukul dua dini hari. Wanita bermata bulat namun sayu itu telah berdiri dua belas menit di depan gerbang.


Rasa dingin seakan tidak dapat di rasakan oleh tubuhnya. Air mata tidak lagi mengenangi ke dua pipinya. Namun, bekasnya masih terlihat samar di wajah pucat itu.


Jung Ajhuma melangkah mendekat untuk memperjelas penglihatan nya. Ke dua mata sipit itu membesar saat talah sampai di samping tubuh mantan Nyonya mudanya itu.


"Nyonya." Seru Jung Ajhuma.


Sohyun menoleh menatap Jung Ajhuma dengan senyum patah. Helaan napas letih mengalun berserta uap asap di mulut Jung Ajhuma.


"Sudah berapa lama berdiri di sini?" Tanya nya lagi dengan menyematkan jaket yang ia pakai pada Sohyun.


"Ajhuma." Seru Sohyun tampa minat menjawab pertanyaan Jung Ajhuma.


"Eoh !"


"Aku ingin bertemu dengan nya." Ucap Sohyun.


"Baiklah. Masuklah, maki mereka sampai Nyonya merasa lega." Ucap Jung Ajhuma.


Wanita itu menarik tangan Sohyun. Dingin. Wanita tua itu merasa ke dua sudut matanya berair. Sudah dapat di pastikan wanita itu telah berdiri cukup lama di depan rumah. Sohyun hanya menurut saja saat di tarik masuk. Para penjaga menatap syok ke arah Sohyun yang di bawa oleh kepala pelayan rumah.


Sohyun sampai di depan kamar Kai. Ia terlihat ragu, Wanita paruh baya itu mengusap pelan pergelangan tangan Sohyun.


"Lakukan lah !" Titah nya.


Setelah mengatakan itu. Wanita tua itu turun guna membawa tubuh lelaki tampan yang terlelap di kamarnya. Wanita itu harus membawa Jonghyun jauh dari suara ribut. Membawanya ke Pafiliun belakang rumah.


Sohyun membuka pintu kamar Kai setelah berdiri selama sepuluh menit. Dengan tangan bergetar Sohyun membuka secara perlahan. Yang mengering kembali basah. Yang robek kembali hancur. Dan hancur menjadi debu. Luka tak berdarah benar-benar menyakiti kan.


Di atas tempat tidur itu. Kai memeluk Nina. Ke duanya tidur dengan pulas tampa terganggu atas ke datangan Sohyun.


Tidak ada teriakan dan makian. Kim Sohyun, bahkan tidak punya tenaga untuk memaki. Sumpah serapah tertahan di tengorokan. Tubuh polos di balik selimut tebal itu semakin membuat Sohyun hancur. Sekuat Sohyun mengatakan untuk kuat. Sekuat itu pula ia merasa hancur.


Dengan langkah di seret Sohyun sampai di samping Kai. Ia menatap wajah polos Kai dan beralih pada wajah Nina. Ia tersenyum dengan bibir bergetar. Neteranya menatap benda tajam yang tak jauh dari tempat ia berdiri. Di nangkas pisau buah tergeletak. Dengan tangan bergetar.


Sohyun mengenggam nya. Dengan ke dua mata penuh amarah di iringi oleh air mata. Sohyun mengkat pisau itu tinggi-tinggi, dan menghujamkanya dengan cepat.


DEG !


Bayang Jonghyun menangis dan meraung. Bayanggan Jinna dan Jonghyun membenci dirinya membuat ia terdiam. Dengan tanga yang mengawang-awang.


Sohyun menurunkan pisau itu. Ia tak bisa membunuh ayah dari anak-anak nya. Sohyun tidak bisa membuat Jinna dan Jonghyun menangis karna kematian Ayahnya. Cukup Sohyun. Cukup ia yang tau bagaimana rasanya kehilangan ke dua orang tua.


Namun rasa sakit itu harus terbalaskan. Sohyun menatap sekeliling nya dengan mata liar. Ia mengbil kain untuk menghapus jejak tangannya di sana. Ia tak peduli sehancur apa Kai nanti nya.


JLEP !!!!


AKH !


Ia menusuk perut sebelah kananya dengan kuat. Semburan darah mengalir dengan deras dari perut dan juga mulutnya. Ke dua netra matanya menatap penuh benci ke arah Kai dan Nina.


Bruk !!


Tubuh Sohyun tumbang. Bunyi nyaring membuat Kai dan Nina terbangun dari tidurnya. Menatap ke arah suara yang mereka dengar. Ke dua mata Kai terbelalak melihat Sohyun menatap Kai dengan pandanggan penuh kebencian. Ia tersenyum sinis.


Nian terbekik nyaring. Kai turun dari tempat tidur memakai seluruh pakainya begitu juga dengan Nina. Kai memaku kepala Sohyun. Wanita itu bernafas tersengal-sengal. Nina menatap Sohyun dengan wajah tak percaya.


"Apa yang kau lakukan eoh !" Teriak Kai lantang.


"Ak..u.. Me..em..ben..ci...ka..u.." Ucap Sohyun dengan napas yang tersengal-sengal.


"Bodoh !" Teriak Kai panik.


Kai berusaha mencabut pisau yang masih tertancap dengan tangan Sohyun yang berada di sana. Tapi Sohyun tidak mau melepaskan pisau dari sana.


"Lepaskan !" Teriak Kai panik.


Nina hanya dapat melihat. Karna seluruh tubuhnya terasa lemas terutama melihat darah yang mengalir membasi lantai.


"Kim Sohyun lepas !!!" Teriak Kai naik beberapa oktaf dengan wajah panik.


Sohyun mengeleng. Di ambang pintu Jonghyun terjatuh menatap Ibunya dengan pisau yang tertancap dan tangan sang Ayah yang berada di atas pisau.


Jung Ajhuma terpekik. Melihat pemandangan yang terjadi.


"Eomma !! Appa !!" Teriak Jonghyun dengan wajah pucat.


Sohyun melepaskan tanganya tampa terlihat oleh Jonghyun. Kai terbelalak melihat sang Putra telah ada di sana. Senyum Sohyun terlihat sangat tipis.


"Aku tidak bisa membunuh mu Kai. Namun aku akan membuat Putra-putrimu membenci mu. Aku tidak bisa memaafkanmu. Kau bisa hidup dengan Wanita itu tampa anak-anak kita."


Hati kecil Sohyun tersenyum perih. Ke dua mata nya tertutup. Kai semakin panik. Ia mencabut pisau dengan melemparkan asal.


"Ketika Cinta hadir. Maka kebencian juga turut menyertai. Karna saat cinta menghilang ! Benci lah yang akan tetap tinggal."


~............~