
07. Aku Tetaplah Aku
Ketika seseorang meminta aku menjadi orang lain aku tidak bisa. Aku adalah aku, dengan kepribadian yang berbeda dan sikap yang berbeda.
-Adeeva Larina Agatha.
"Ma..kasih ya rey." Ucap Deva saat sudah sampai di gang rumahnya.
"Hmm... Lo bener gak mau gue anterin sampai rumah? Kan gara gara gue lo pulang sore gini." Tanya Reyhan menghadap Deva.
"Gak, gak papa ko. Makasih ya rey." Reyhan hanya tersenyum dan Deva segera turun dan memasuki gang rumah nya karena di samping rumah nya ada gang kecil atau jalan tembus.
"Gue jadi kepo rumah nya dia di mana si, ya kali kan jalan tembus itu tembusan nya di bulan." Ngaco pikirnya. Reyhan segera pergi dan perumahan itu.
"Bagus sekali kamu! Di tinggal saya malah ke enakan main." Deva memasuki rumah nya dengan sambutan yang tak enak di dengar.
"Ma..ma" Deva manghadap ke belakang dan melihat mama nya sedang menatapnya sinis. "Mama sudah pulang? Bukan nya-"
"Mau saya pulang atau tidak, ini rumah saya bukan rumah kamu. Ke enakan sekali kamu di tinggal malah makin jadi."
"Ta..di Deva ada urusan sebentar kok mah." Ucap Deva dengan kepala yang di tundukan.
"Haha... Orang seperti kamu punya urusan? Memang nya punya teman? Bahkan teman kamu saja meninggalkan kamu. Kamu itu pembawa Sial." Ucap larin sinis.
Matanya sudah berkaca-kaca tapi Deva tetap tersenyum.
"Mama sudah makan?" Tanya Deva melihat mama nya yang kelihatan lelah bekerja.
"Tidak perlu menanyakan hal seperti itu kepada saya. Sampai kapan pun kamu tidak bisa mengambil hati saya." Larin tersenyum kecut lalu mengucapkan "Kamu tidak bisa seperti yang lain kan? Yang membuat orang tua nya bahagia seperti memberikan barang. Tapi ya, saya tidak akan mengharapkan itu. Kamu hanyalah gadis kecil yang merusak keluarga saya menjadi hancur." Larin pergi dari hadapan Deva.
"Deva akan membuktikan kepada mama kalau Deva akan mengambil hati mama dan membuat mama bahagia meski hanya rasa sayang yang Deva punya." Ucap Deva dengan air matanya yang hampir jatuh.
"Buktikan saja. Saya tidak butuh rasa sayang kamu!" Setelah itu larin pergi keluar rumah dengan melewati Deva yang sedang tersenyum meski hatinya hancur.
Deva akan buktikan mah.
Deva mengusap air matanya dan langsung pergi ke kamar untuk mengistirahatkan badan nya atau hati nya yang hancur. Deva tau Deva tidak seperti yang lain yang bisa membuat orang tua nya bahagia dengan memberikan barang yang mewah. Deva hanya punya kasih sayang yang tulus kepada mama nya, Deva hanya ingin mama nya bisa menerima nya dengan baik. Meski Larin adalah orang tua tirinya, dia adalah ibu Deva yang telah merawatnya dengan membanting tulang.
Deva yakin suatu saat nanti dia akan mengambil hati mama nya, meski tidak sekarang tapi dia yakin pasti akan dapat dan akan.
Ini aku bukan dia atau mereka.
Aku hanya punya hati yang harus di bagi.
Aku tidak bisa menjadi dia seperti apa yang kamu inginkan.
Aku tetaplah aku dengan rasa sayang dan tulusku.
Bukan seperti dia atau mereka yang bisa memberimu lebih dari rasa sayang.
Ini aku dengan segala kekurangan ku.
Mau menerima kekurangan ku atau tidak.
Mau dekat dengan ku atau tidak.
Itu urusan mu.
Aku hanya bisa diam sambil memandang kerlip di langit malam hari.
Ku harap dia bisa sampaikan.
Bahwa aku pun ingin bahagia meski dengan hal yang sederhana.
-Tha
Deva menutup Buku kecil nya lalu dia tersenyum berharap dia akan mendapatkan seseorang yang bisa membuat hidupnya berwarna.
🌀🌀🌀
Pagi ini hari Minggu. Tidak ada yang berbeda menurutnya semua hari sama aja. Membawa keceriaan meski di dalam lubuk hati memendam kekecewaan.
Pagi Deva berkeliling taman untuk olahraga pagi. Dengan rambut yang di kuncir tidak kencang dan di biarkan ke samping.
"Halo dev." Tegur seseorang dari samping Deva.
"Eh..eh arka." Deva tetap menunduk sambil berjalan.
"Gimana kemarin nge-date nya?" Tanya arka.
"Nge-date?" Tanya Deva lalu berhenti.
"Duduk disitu aja yuk gue mau ngomong sesuatu sama lo." Ucap arka sambil menunjuk kursi putih panjang.
"Ke..napa ka?" Tanya Deva saat duduk bersebelahan dengan arka.
"Nge-date tuh apa?" Tanya Deva polos.
Arka yang melihat itu hanya melongo tidak percaya. Orang sepolos ini yang Reyhan suka?
"Gue jadi takut kalau reyhan bakal sakitin deva." - batin arka.
"Nge-date itu lo makan berdua sama seseorang laki-laki, gak makan aja si. Kayak jalan berdua, have fun berdua gitu." Jelas arka.
"Berarti kita-"
"Eh kalau sama gue kan kita gak sengaja ketemu, nge-date itu sama orang yang menurut lo spesial." Arka tidak mau ada kesalahpahaman.
"Aku menganggap Reyhan hanya sebatas teman."
"Tapi kalau Reyhan menganggap lo lebih dari seorang teman?"
"Sahabat dong?" Arka yang mendengar pertanyaan dari Deva hanya bisa mengusap wajahnya gusar. Sepolos itu kah? Memangnya kalau lebih dari teman, berarti sahabat?
"Sabar ka, gebetan temen lo ni! Kalau bukan udah gue cium." Gumam arka.
"Deva maksudnya gini loh, lebih dari seorang teman itu berarti pacar. Bukan sahabat."
"Tap..i yang aku baca di novel novel itu abis teman lalu ke sahabat lalu baru ke pacar." Ucapan itu lolos dari mulut Deva yang membuat arka ingin sekali arghh.
"Si Reyhan nyari cewek yang gemes banget si." - Batin Arka.
"Hmm.. gue duluan ya dev ada urusan mendadak." Ucap arka yang mendapat pesan dari seseorang dan segera bangkit lalu pergi.
"Pacar? bahkan Reyhan memiliki banyak perempuan yang mengejarnya. Mana mungkin dia suka sama aku." Gumam Deva.
Deva berdiri di jembatan taman yang membuat pemandangan indah jika di lihat dari atas. Ada yang berpacaran atau berfoto foto.
"Agatha." Teriak seseorang dari belakang Deva. Yang memanggil deva dengan ucapan Agatha hanya Reyhan, berarti orang Itu-.
"Tha ko diem?" Tanya Reyhan yang sudah disamping Deva. Sedangkan deva hanya menggeleng kan kepala dan menunduk.
Deva tiba tiba tertawa sendiri yang melihat anak kecil di depan nya makan ice cream belepotan dan membuat Reyhan diam. Dia tidak mau menyia-nyiakan senyuman Deva. Dia segera mengambil handphone yang ada di kantong celananya lalu memfoto nya diam diam.
"Manis banget si lo Dev." Gumam Reyhan
Deva yang merasa di perhatikan Reyhan langsung menengok ke samping dan melihat Reyhan ikut tersenyum.
"Lo cantik kalau lagi senyum." Ucap Reyhan dengan senyum nya.
Deva hanya menunduk malu. Wanita mana coba yang tidak terbang jika seorang laki-laki berbicara seperti itu. Tapi sayang nya laki-laki tidak tahu kalau wanita di buat seperti itu bisa saja baper. Tetap saja mereka para lelaki ceunah tidak mengerti kalau perasaan itu bukan untuk di buat lelucon. Dasar lelaki ceunah.
"Dev lo tau gak kepanjangan nya idc?" Tanya Reyhan.
"Hmmm kalau gak salah i don't care kan?"
"Iya, gue idc mau lo cantik atau tidak wajah lo gue gak perduli karna cin-" Jawab Reyhan.
"Kamu ngatain aku jelek? Aku tau ko rey." Deva hanya tersenyum kecut lalu menuduk.
"Aduh bukan gitu tha, hmmm maksudnya tuh-"
"Gak papa ko rey aku tau aku jelek."
"Et dah niat mau gombal malah jadi koslet gini otak"- Batin Reyhan.
"Kalau ILY apa yak tha?" Tanya sekali lagi Reyhan.
"I love you kan?"
"I love you to."
Wajah Deva memerah saat dia kena gombalan Reyhan. Hatinya menghangat, seperti ada yang lompat-lompat di jantungnya. Deva pun merasa jantung nya ingin sekali keluar.
"Apa ini ya tuhan." - Batin Deva.
Reyhan yang melihat nya hanya tersenyum. Dia berhasil membuat wajah Deva memerah yang membuatnya sangat lucu.
Entah apa yang terjadi selanjutnya dengan mereka. Bersatu atau tidak? Biarkan takdir menjawab. Jika tidak? Mungkin mereka harus saling mengikhlaskan satu sama lain.
Karena jodoh sudah di atur dalam takdir kita. Kita hanya perlu menunggu kapan seseorang itu hadir untuk menemani kita. Entah kapan tapi mereka pasti datang untuk memberi hari mu berwarna.
Memang lelah menunggu hal yang tak kunjung datang. Tapi percayalah setelah kamu menunggu dan mendapatkannya, kamu akan mendapatkan hal hal yang benar-benar membuat mu berwarna.
♡♡♡
Jangan lupa tekan bintangnya:)
Terimakasih♡