
04. I Have To What?
Aku tak akan mempermasalahkan yang telah berlalu...
Itu sudah aku anggap sebagai pelajaran...
Untuk menguatkanku...
Aku sudah tidak ingin sakit hati lagi...
Aku sudah tidak ingin bertemu dengan
Seseorang yang hanya datang untuk pergi...
Deva menutup buku kecilnya. Dia sering sekali menulis kata kata atau puisi dan curhatannya. Karena menurutnya itu bisa membuat perasaan lega.
Setelah pulang sekolah berapa jam yang lalu, Deva berada di kamar dan menatap kedepan balkon nya. Dia memikirkan kata kata Queen dan Aleta tadi.
"Apakah aku harus menjauhi nya?"- Batin Deva.
Tok...Tok...Tok...
Deva membuka pintu kamarnya dan ternyata Bi Ira yang mengetuknya.
"Eh, Kenapa bi?"
"Bibi mau ke supermarket sebentar ya non, non Deva gak papa kan dirumah sendirian?"
"Oh kalau begitu Deva aja yang ke supermarket ya bi." Ucap Deva dengan tersenyum.
"Tidak usah non, bibi hanya sebentar ko."
"Gak papa bi. Deva bosen banget di rumah, jadi Deva sekalian jalan jalan siang ya bi." Dengan wajah Puppy Eyes nya yang membuat bi ira tersenyum dan mengangguk.
"Hore, Makasih bi." Deva bersorak hore.
"Tapi benar tidak apa apa non?" Tanya bi ira sekali lagi.
"Iya bi." Deva hanya tersenyum dan mengambil kertas apa saja yang harus dia beli.
Setelah itu deva memakai hoodie berwarna hitam dan celana jeans warna senada dengan Hoodie nya. Setelah itu berpamitan dengan bi ira lalu segera pergi.
Kebetulan sekali supermarket nya hanya beberapa menit saja sudah sampai. Deva berjalan dengan senyum yang ceria, tidak lupa ia menyapa tetangga nya yang satu
Setelah beberapa menit akhirnya dia sampai di supermarket dan mengambil keranjang.
Deva sudah membeli semuanya dan tinggal satu barang yang belum dia ambil. Dia mencoba mengambilnya karena barangnya ada di tempat paling atas.
"Bagaimana bisa orang ini menaruh barang yang tempat nya setinggi itu." Ucapnya pada dirinya sendiri dan berusaha mengambil barang itu tapi tetap tidak bisa.
"Memangnya aku teralu pendek apa." Dia berusaha lagi, hingga ada tangan yang mengambilkan barangnya. Lalu dia menoleh.
"Reyhan." Dia reflex memanggil namanya dan langsung menunduk.
"Lo bukan teralu pendek, tapi..." Ucapnya lalu menyerahkan barang itu kepada Deva.
"Tapi apa?" Ucapnya sambil mengambil barang itu dari Reyhan.
"Hanya kurang tinggi aja. Ni ya gue saranin mending lo minum susu sapi kan banyak rasanya atau gak lo makan galah eh tapi nanti lu mati gue gak bisa ketemu lo lagi." Reyhan berbicara seperti itu tapi Deva tidak mendengarkannya karena dia langsung pergi dan menuju kasir.
Reyhan melihat sekitar nya dan dia mencari keberadaan Deva, tapi tidak ada.
"Bunda, kaka nya kenapa ko ngomong sendir?" Tanya anak kecil kepada ibunya karena melihat Reyhan berbicara sendiri.
"Kamu jangan deket deket, takut nya orang gila nak." Jawab ibunya kepada anaknya.
Reyhan segera pergi dari sana dan mencari Deva. "Enak aja gue di kata orang gila. Orang ganteng kayak gini." Ucapnya sambil berjalan cepat dan mencari Deva.
Disisi lain deva sedang buru buru keluar dari supermarket karena dia tidak mau mendengar ucapan Reyhan karena dia telah meninggalkan nya sendiri.
Hap..
"Kena lo! Mao kabur hah?" Reyhan menangkap pergelangan Deva. Deva yang terdiam dan berbalik badan.
"Kamu mau apa?" Tanya deva sambil menunduk.
"Mau lo. Eh... bukan itu maksdunya." Reyhan gelagapan lalu tersenyum kepada Deva. "Lo ngapain ninggalin gue sendirian?"
"Kamu berisik." Ucap deva masih sama dengan posisinya, menunduk.
"Lo kan uda gue tolongin tadi, bilang makasih kek apa kek. Ini malah nyelonong gitu aja."
"Makasih." setelah Reyhan melepaskan tangannyan Deva langsung pergi.
Reyhan melihat bekas memerah dari pergelangan tangan deva.
"Apa gara-gara gue?"- Batin Reyhan.
"Gue seneng lo manggil nama gue, gue minta maaf pasti ini gara gara gue." ucap Reyhan lalu mengambil tangan Deva. Tapi, deva cepat cepat menyembunyikan luka di pergelangan tangannya.
"Bukan gara-gara kamu, Aku permisi." Setelah mengucapkan itu Deva langsung pergi.
"Gue hanya mau lihat senyum lo lagi ko Agatha." Reyhan teriak agar suaranya terdengar oleh Deva.
Deva hanya terus berjalan, Degup jantungnya begitu cepat. Tapi deva tidak ambil pusing dan terus berjalan.
"Kenapa dia memanggilku agatha."- Batin Deva.
Deva terus berjalan dan tidak memikirkan kejadian tadi. Dia harap dia tidak akan ketemu Reyhan lagi, tapi bagaimana bisa. Dia saja sekelas.
🌀🌀🌀
Reyhan kembali kerumah Radhit, Ya. Rumah Radhit satu komplek dengan Deva, Hanya beda blok saja. Disana dia berkumpul dengan Radhit dan Arka untuk menghabiskan waktunya dengan bermain game.
"Lah rey makanan nya mana?" Tanya arka yang melihat Reyhan masuk.
"Gue lupa sori." Jawabnya lalu duduk dengan santai nya.
"Elah Rey balik lagi sono, gak enak nge game tanpa makanan. Bagaikan jatuh cinta tanpa cinta yang tulus." Radhit berbicara tapi matanya masih fokus dengan handphone nya.
"Alay!" Kompak mereka berdua Reyhan dan Arka.
"Emang kenapa lo lupa si rey?" Tanya arka yang kesal.
Reyhan menghela nafasnya lalu menceritakan semuanya kalau dia ketemu Deva dan dia manahan pergelangan deva yang memerah entah karenanya atau bukan.
"Kalau menurut gue Deva itu orang nya baik + cantik + imut + ..."
"Lo mau muji dia atau gimana ni." Reyhan memotong ucapan arka kesal.
"Lo suka sama Deva?" Tanya Radhit dan Arka berbarengan.
"Ng-gak! Ada-ada aja lo."
"Eleh terus tadi kenapa lo kayak kesel gitu gue muji dia." Tanya arka.
"Gue minta saran gimana caranya gue minta maaf sama dia. Bukannya gue suruh lu muji dia!"
"Santai apa bang." Radhit melepaskan handphonenya dan menatap mereka berdua.
"Ya lo tinggal minta maaf aja si Rey, ribet banget." Arka mengehela nafasnya.
"Lo suka sama Deva Rey?" Arka menanyakan hal yang sama.
"Gue gak tau, tapi kalau gue deket sama dia gue ngerasa hangat dan nyaman aja deketnya."
"Berarti dia kaya api unggun buat lo rey." Radhit ikut berbicara.
"Api unggun?" Tanya mereka berdua.
"Iya, Menghangatkan dan membuat lo nyaman di sisinya."
Reyhan dan Arka menganga tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Radhit. Tumben tumbennya dia bikin kata kata seperti itu.
"Ini lo dhit?" Tanya Arka tidak percaya.
"Iyalah bego emang siapa lagi." Kesal dirinya.
"Biasanya otak lo Receh semua, kenapa jadi Dolar?" Goda Arka sambil tertawa.
"Yeh anjir!"
"Kalau kata gue lo minta maaf atas luka di pergelangan tanganya kalau itu salah lo si." Ucap Arka.
"Untung di tangan bukan di hati." Arka melanjutkan perkataan nya.
"Tapi jangan sampai ketahuan si Geng Wacana gila itu, Deva baru anak baru nanti di apa apain lagi." Ucap Radhit lalu melanjutkan memainkan game nya yang tertunda.
Reyhan terdiam dengan ucapan temannya.
Kalau deva seperti api unggun dia harus apa? Masa iya harus disisinya terus biar hangat si.
Reyhan memikirkan pergelangan tangan Deva. Apa itu karenanya atau tidak, Menurutnya dia tidak memegangnya teralu kencang.
Dia harus meminta maaf kepada Deva tapi tidak boleh dilihat oleh Geng Wacana itu. Reyhan tidak mau Deva kenapa kenapa.
Perasaan apa ini? Aneh sekali menurutnya. Dia tidak pernah merasakan ini kepada perempuan lain, hanya Deva.
Kadang cinta itu aneh,datang tiba-tiba
Dan pergi juga tiba-tiba.