GOODBYE

GOODBYE
Part 06.



06. Pendekatan


Hanya bisa di rasakan


Tidak bisa si genggam


Apalagi memiliki.


Seperti angin yang lewat untuk


menyejuk kan, kamu pun sama.


-Rey.


🌀🌀🌀


"Hai deva kita bertemu lagi." Ucap seseorang itu dan dia... Dia adalah orang waktu itu yang tak sengaja Deva menabraknya dan air minumnya tumpah ke bajunya.


Apa dia mau balas dendam? Tanya deva pada hatinya.


"Ka..lian mau apa?" Tanya deva yang menunduk dengan posisi duduk di tanah berkat dorongan orang itu tadi.


"Lo pasti kenal gue kan? Gue vanda yang di ceritain sama teman teman lo itu, cih!" Vanda memendam amarahnya.


"Kalau kamu mau membahas kejadian yang beberapa hari itu aku benar benar minta maaf." Deva menunduk.


"BELUM GUE MAAFIN AJA LO UDA BUAT KESALAHAN BESAR!" Vanda teriak di depan Deva.


"Apa aku ngelakuin kesalahan lagi sama kamu?" Tanya deva lalu mencoba berdiri tetapi langsug di dorong keras oleh Vanda.


"Lo gak nyadar atas kesalahan lo itu?!"


"Tap..i aku bener benar gak tau apa maksud kamu."


"Pura-pura gak tau kali tu van." Ucap teman Vanda yang melihat Deva dengan sinis.


Dengan amarahnya Vanda menjambak rambut Deva. "HEH LO ITU GAK TAU GUE ATAU GIMANA SI?! REYHAN ITU PACAR GUE! LO GAK USAH CENTIL SAMA DIA BISA GAK SI? LO TUH NYARI GARA GARA MULU YA SAMA GUE! PERTAMA LO NYIRAM GUE, KEDUA LO DEKET DEKET SAMA REYHAN."


Deva memegangi rambutnya yang sakit. "Untuk kejadian beberapa hari itu aku minta maaf, tapi untuk masalah Reyhan aku benar benar gak ada apa apa sama dia."


"Gak ada apa apa tapi lo deket banget sama dia!" Ucap Vanda.


"Tap..i memang benar ko." Deva benar benar melihat bayangan masa lalu nya yang dulu di bully dan sampai sekarang pun masih.


"Jangan kasih ampun van, dia berani banget kayanya sama lo."


"Lo tu baru anak baru aja belagu banget sih."


Begitulah ocehan dari dayang dayang nya Vanda.


"Gue ingetin sekali lagi jangan deket deket sama Reyhan. Denger gak lo?"


"Mau gue deket sama siapapun itu bukan urusan lo Van." Ucap seseorang dari belakang.


Vanda dan teman temannya yang melihat itu terkejut, sedangkan Deva masih duduk di tanah dan menunduk.


"R..rey ini bukan apa yang seperti lo liat ko. Tadi Deva jatuh makanya gue tolongin." Vanda gelagapan lalu membuat alasan seperti itu.


"Ini hidup gue, gue gak suka di atur. Mau gue deket sama siapapun itu bukan urusan lo!" Ucap reyhan.


Vanda yang menunduk itu segera pergi dan dayang dayangnya pun ikut pergi.


Reyhan mengulurkan tangannya kepada Deva tapi Deva mengabaikan nya dan berdiri meski bokongnya sakit. "Lo gak papa kan dev?


"A..aku gak papa, permisi." Deva pergi dari hadapan Reyhan.


"Orang mah di tolongin cogan seneng, ini mah malah ninggalin gue sendirian. Dasar aneh." Gerutunya.


Deva pergi ke kamar mandi untung merapihkan rambut nya yang di tarik eh Vanda. Deva melihat dirinya di cermin.


Apa aku lemah? Kenapa aku tidak bisa seperti yang lain yang bisa membalas perbuatan orang yang jahat kepadanya-batinnya.


Deva segera keluar karena merasa bel istirahat sudah berakhir. Deva mengusap matanya yang memerah, ia langsung masuk kekelas.


"Dev lo kemana si? Tadi gue sama Leta nungguin lo padahal." Queen mengerucutkan bibirnya saat Deva duduk di sebelahnya.


"Hmm...maaf ya Queen tadi aku baca buku di perpus jadi lupa ke kantin hehe." Deva tersenyum. Dia tidak mau teman barunya tahu kalau dia habis kena sasaran oleh Geng Wacana.


Deva tidak ingin membuat masalah kepada teman barunya. Cukup Reyhan yang tahu tentang masalah tadi di taman belakang sekolah.


Deva tidak ingin masa lalu nya terulang kembali yang membuat nyalinya ciut. Deva tidak bisa seperti orang orang lain yang bisa membalas orang yang menjahatinya.


Deva hanya berharap dia selalu dilindungi oleh orang-orang yang di sayang. Tapi nyatanya, semua sudah hilang.


🌀🌀🌀


"PULANG WOY PULANG!" Ucap Radhit yang mengagetkan lamunan Deva.


"Eh dugong kata siapa lo?!" Tanya Queen sambil berdiri.


"Lo gak liat noh anak murid pada keluar?" Radhit segera mengambil tas nya dan tas Reyhan lalu keluar kelas


Queen melihat sebentar ke arah jendela dan benar semuanya berhamburan keluar. "Yeyyy horaaa!!" Queen bersorak hora lalu memakai tas nya.


Deva segera memakai tas nya lalu ikut keluar.


"Kenapa pulang cepat ya Queen?" Tanya Deva.


"Mungkin gurunya mau rapat kali buat kaka kelas kan udah mau lulus." Deva hanya mengangguk.


"Dev lo mau bareng gue gak sama Leta?" Tanya Queen menghadap ke Deva.


"Gak Queen lain kali ya." Deva hanya tersenyum.


Queen mengerucutkan bibirnya sebal. "Ihh lo mah nolak mulu, ya udah gue duluan ya. Leta bawel banget, bye dev!"


"Dev di panggil Reyhan di parkiran." Ucap Radhit saat berada di hadapan deva.


"A..ku?" Tanya Deva.


"Kenapa kamu yang di omelin?".


"Deva yang cantik-" Ucapan Radhit terpotong saat ada orang yang berdehem dari arah belakangnya.


"Ekhem."


Radhit berbalik dan langsung menunjukan jari telunjuk dan tengahnya seperti peace."Eh rey gue gak bermaksud godain Deva loh suer"


"Tha ikut gue." Reyhan menggenggam tangan Deva dan mengajaknya ikut bersamanya.


"Elah si kudanil kalau udah ada cewe temen di tinggalin." Sebal Radhit.


Deva mengikuti arah Reyhan yang membawanya ke parkiran.


"Masuk ke mobil gue." Ucap Reyhan dengan wajah datar lalu melepaskan tangan nya dari pergelangan tangan Deva.


"Tap..i aku harus pulang." Ucap Deva menunduk.


"Gue anterin lo balik."


"Ak..u sudah mesen Go-"


"Batalin. Cepet masuk sayang." Gemas Reyhan lalu membuka kan pintu mobil nya dsn menyuruh Deva masuk.


Pipi Deva memerah saat Reyhan mengucapkan kata 'sayang' kepadanya. Jantungnya berdegup tak karuan.


Masa iya aku sakit jantung saat dekat dekat dengan Reyhan sih.


"Tha lo kenapa diem aja sih? Pipi lo merah tuh." Reyhan yang melihat Deva menunduk saja tapi dia bisa melihat kalau pipi deva memerah.


"Eh..eh iyaa." Deva gelagapan lalu langsung masuk kedalam mobil Reyhan.


Reyhan yang melihat ekspresi Deva hanya tersenyum geli.


Gemes gue liat lo tha - batin reyhan.


Reyhan masuk kedalam mobilnya dan menjalankan mobil nya.


Keduanya diam tak bersuara hanya ada suara lagu dari radio.


Keduanya membisu dalam pikirannya masing masing.


"Rey ini bukan arah rumah aku." Deva menatap Reyhan dengan wajah bingungnya.


Reyhan yang ditatap seperti itu hanya tersenyum manis. "Tadi siang lo belum makan kan? Nah sekarang kita makan dulu lagian emang nya lo gak lapar?"


"Eng..nggak ko, kita pulang aja ya." Deva mengatakan itu tapi baru beberapa detik saja perut nya sudah bunyi.


Gak bisa di ajak kompak ni perut.


Reyhan yang melihat nya hanya tersenyum. "Mulut lo boleh bohong tapi perut lo gak bisa tha."


Deva malu bisa bisanya saja ni perut bunyi sedang bersama cowok, memalukan. Deva hanya menunduk malu.


Keduanya kembali terdiam, Reyhan yang fokus menyetir sesekali melirik Deva yang menghadap ke arah jendela. Hingga mereka sudah sampai di tempat makan yang Reyhan tuju.


"Tha ayu turun." Reyhan menegor Deva karena dia tetap memandang tempat makan yang mewah di depan nya.


"Rey kita makan di pinggir jalan aja ya, ini teralu mewah rey." Ucap Deva lalu menghadap Reyhan tapi langsung menunduk.


"Gak papa ayu turun." Reyhan membuka pintu mobilnya dan mengajak Deva turun. Sebenarnya Deva tidak mau, tapi.. ya sudahlah.


Mereka di sambut baik oleh pegawai pegawai restoran, dan pasang sorot mata orang orang yang sedang makan di sana melihat mereka berdua,ada yang menatap keduanya dengan sinis dan iri.


Reyhan memilih meja di pojok, entah mau modus atau apa itulah Reyhan. Deva duduk berhadapan dengan Reyhan, ini pertama kalinya Deva makan berdua dengan seorang laki-laki selain abangnya tirinya yang sudah tidak ada.


"Lo mau pesen apa tha?" Tanya Reyhan.


"Terserah." Ucap Deva tetap dengan nunduk.


"Di sini gak ada makanan yang namanya terserah tha." Reyhan tersenyum geli. "Lo lucu ya." Ucapnya sambil mengacak rambut Deva.


"Tuhan apa ini? Kenapa jantungku seperti lompat lompat"- batin Deva.


"A..ku ikutin kamu aja." Ucapnya


Reyhan memanggil salah satu waiter lalu memesan makanan. Setelah memesan Reyhan membuka aplikasi Game nya dan memainkan nya di depan Deva. Deva di acuhkan nya, tapi Deva tidak perduli. Toh kita juga gak ada topik pembicaraan.


Hingga makanan nya sampai mereka tetap diam, tidak ada pembicaraan sampai makanan nya habis pun mereka tetap diam membisu.


Sesekali Reyhan melirik Deva, caranya makan Deva membuatnya tersenyum. Semunya Belepotan di mana mana itu membuatnya lucu sepeti anak kecil.


"Lo tuh kalau makan pelan pelan." Reyhan mengusap bekas makanan Deva dengan jarinya.


Deva yang di perlakukan seperti itu hanya diam dan melihat wajah Reyhan. Dia memang sangat tampan dan manis, tapi Reyhan tetaplah Reyhan Menyebalkan.


"Udah puas ngeliatin gue nya?" Tanya Reyhan yang membuat Deva malu dan langsung menunduk. "Ayu pulang tha." Ajaknya.


"Rey ta..pi aku gak bawa uang lebih buat bayar makanan ini, pasti mahal." Deva berbicara itu ragu.


"Tha di mana mana tuh cowok yang bayarin bukan cewek, kalau ada cowok yang bilang cewek matre berarti dia gak mampu." Ucap reyhan lembut.


Deva yang mendengar itu tidak percaya. Ternyata sikap Reyhan beda sekali dengan sikapnya di sekolah.


Setelah membayar pesanannya Reyhan dan Deva segera pulang. Sesekali Reyhan bercanda gurau tapi Deva menanggapi nya hanya berdehem dan tetap fokus ke arah jendela.


Keduanya hanya diam dengan pikiran masing masing. Perasaan yang entah ada di mana. Merasa nyaman namun tak mau di katakan, merasa ingin memilikinya tapi tidak mungkin secepat itu.


Biarlah angin yang menjawab.


🌀🌀🌀


Jangan lupa untuk tekan bintangnya:)


Terima kasih♡