
03. Reyhan Wira Pradipta
Senyum mu bagaikan bulan yang menerangi malamku
-Rey.
🌀🌀🌀
Setelah kejadian semalam bi ira membuka gudang itu saat Larin sudah berangkat kerja. Betapa malangnya Deva, dengan mata yang sebab, rambut yang acak acakan dan pergelangan tangan yang merah bekas cekalan Larin.
Bi ira membawa deva dan menyuruhnya bersih bersih dan sarapan lalu berangkat.
Setelah bersih bersih dan sudah sarapan deva segera memakai sepatu dan berangkat sekolah.
"Non deva tunggu." Teriak bi ira sambil membawa kotak bekal makanan.
"Kenapa bi?" Tanya deva.
"Ini ada bekal untuk non, biar gak telat lagi makannya."
"Ya ampun bi, makasih ya uda nyiapin deva bekal." Deva tersenyum sambil mengambil kotak makan itu dan menaruhnya kedalam tas.
"Deva berangkat bi."
"Hati hati non."
"Iya bi." Deva hanya tersenyum dan mengucapkan salam lalu pergi untuk menunggu Go-jek online pesanan nya.
Deva melihat pergelangan tangan nya yang masih ada bekas cekalan Orang tua nya. Deva hanya tersenyum dan menerima semuanya apa yang terjadi.
Deva adalah perempuan baik hati dan kuat.
Dia memaafkan apa yang masih pantas untuk di maafkan. Tapi, ketika dia sudah kecewa mungkin butuh waktu lama untuk memaafkan.
"Dengan mba Deva." Deva melihat apa yang di depannya dan ternyata itu Go-jek pesanan nya.
"Iya pa saya." Setelah mengatakan itu Deva berangkat sekolah seperti biasanya.
Selang berapa menit deva sudah sampai didepan gerbang sekolah nya, terlihat masih sepi dan hanya ada beberapa murid saja.
Deva membayar Go-jek itu dan memasuki kawasan sekolahnya.
"Tersenyumlah dev, sembunyikan luka mu."- Batin Deva.
🌀🌀🌀
Ternyata memang masih sangat sepi. Mungkin deva kepagian, deva tidak langsung ke kelas. Dia ke perpustakaan sambil menunggu bel masuk.
Dia melihat hanya melihat satu siswi yang ada di perpustakaan. Memakai kaca mata yang bulat dan di kepang dua.
Deva termenung dan memekirikan sekolahan lamanya. Setiap ada Perempuan seperti itu apa selalu dibully? Apakah di sekolahan ini juga sama?.
Bahkan dirinya pernah jadi salah satu korban bullying. Tapi itu dulu saat dia masih di sekolah lamanya, dan Deva berharap di sekolah barunya ini kehidupan nya berwarna.
Deva segera memasuki perpustakaan dan mengambil buku yang dia mau dan duduk sendirian di pojok. Deva hanya ingin sendiri saat ini.
Setelah beberapa menit kemudian bel sekolah di bunyikan dan sepertinya sudah ramai, deva segera mengembalikan bukunya.
Saat ia berbalik dia menabrak seseorang, dan ternyata perempuan yang pertama kali ada di perpustakaan.
"Ma...af" Deva menunduk dan melihat keadaan perempuan itu.
"Ti..dak apa apa, maaf sudah menyenggolmu." Katanya sambil berdiri dan segera pergi.
Kenapa deva merasa ada yang aneh, kenapa perempuan itu takut sekali dengan nya. Deva tidak ambil pusing, dia segera keluar perpus dan buru buru keluar.
"Devaaaaa!! Gue kira lo bakalan telat." Teriak Queen saat Deva memasuki kelasnya.
"Hehe gak ko Queen, aku abis dari perpus."
"Oh gitu."
"Iya."
"Siapa yang belum masuk Queen?" Tanya Deva kepada Queen.
"Biasa dua dugong gila."
"Siapa?" Deva bingung dengan jawaban Queen.
"Radhit sama Reyhan." Jawabnya acuh.
Deva hanya mengangguk. Pelajaran pun dimulai dengan pelajaran pertama matematika yang membuat semua murid melongo kebingungan.
"HALLO GAES SELAMAT PAGI!" Ucap seseorang yang baru datang.
Deva melihat siapa yang datang dan ternyata radhit dan DIA?!
Dia yang di maksud deva adalah seseorang yang mengantarnya kemarin pulang sekolah. Ternyata dia sekelas dengan laki-laki itu.
"Selamat pagi bu." Ucap Radhit sambil tersenyum.
"RADHIT REYHAN! KALIAN TELAT LAGI!" Ucap Pa samsul (Guru matematika)
"Ternyata dia yang namanya reyhan"- Batin Deva.
"Kita gak telat pa, tadi kita abis dari perpus." Jawab reyhan dengan senyum nya yang membuat para murid perempuan memperhatikannya.
"Alah alesan aja lo berdua." Teriak Queen
"Eh diem Coklat!" Radhit menjawabnya.
"Makasih radhit gue emang manis ko."
"Pede sekali anda."
"Harus."
Deva hanya memperhatikan mereka yang sedang adu mulut. Diam diam reyhan memperhatikan Deva.
"DIAM!! REYHAN RADHIT BERDIRI DILAPANGAN SAMPAI ISTIRAHAT." Teriak pak samsul kepada mereka.
"Buset dah pak nanti saya dekil gimana?" Radhit memelas depan pak samsul. Dan Reyhan masih memperhatikan Deva.
"Gak papa biar saya kutuk kamu jadi batu dekil."
"Sungguh teganya teganganya kau pak." Radhit menyanyi ala ala orang memelas.
"Cepat!"
"Iya pak." Radhit memberi hormat kepada pak samsul dan melihat Reyhan yang sedang memperhatikan Deva.
"WOY!"
"AYAY KAPTEN!" Reyhan kaget dengan mengucapkan itu dan tangan yang memberi hormat.
Semua murid tertawa melihatnya, termasuk Deva yang tersenyum. Tapi karena di perhatikan Reyhan, Deva langsung menunduk.
"Iya pak apa?" Tanya reyhan kepada pak samsul.
"Kamu budek pake G Reyhan?"
"Iya pak saya BUDEG." Ucap reyhan sambil mengatakan itu dengan pakai G.
"CEPAT BERDIRI DI LAPANGAN SAMPAI ISTIRAHAT ATAU SAMPAI PULANG." Ucap pak samsuk Emosi.
"Ayo ah rey, dari pada kita di katain budek pake G."
"Iya, ayo."
Mereka berdua keluar tapi mereka mengatakan sesuatu.
"PAK SAMSUL SEORANG KAPITEN,MEMPUNYAI KATA KATA. KALAU NGOMONG BUDEK PA..KE K, PAK SAMSUL SEORANG KAPITEN." Ucap mereka berdua lalu lari.
"Murid kurang ajar." Pak samsul menahan emosinya. Semua murid hanya menahan tawanya.
"Jangan tertawa atau kalian akan saya hukum." Setelah mengatakan itu semua murid diam. Deva hanya tidak percaya ada murid seperti itu.
Lucu memang, tapi sangat tidak sopan.
Deva memperhatikan apa yang di jelaskan di papan tulis.
Dilain tempat Reyhan dan Radhit ditengah lapangan dengan hormat. Meskipun mereka anak nakal, tapi hukuman tetap mereka jalankan.
"Tadi lo ngapain merhatiin Deva aja?" Tanya Radhit.
"Namanya siapa? Deva?"
"Deeva Larina Agatha, murid baru."
"Gue tau."
"Tadi lo nanya."
"Serah lo bang."
"Dia lucu." Jeda beberapa detik lalu Reyhan berbicara lagi. "Kaya gue." Ucapnya lalu tertawa.
"Iya lo lucu banget rey sampe pengen gue tabok." Radhit ingin sekali menabok Reyhan tapi Reyhan hanya terkekeh.
"Queen lucu ya." Radhit bicara sekarang.
"Biasa aja." Jawab Reyhan acuh.
"Iya biasa aja karena..."
"Karena apa?"
"Karena kamu lebih lucu zheyenk." Radhit mengucapkan itu sambil suara nya di imut imutin.
"Geli gue dhit! Gue masih waras kali. Sekalinya gue gay juga ogah sama orang kaya lo!"
"Jahat kamu bang" Ucap radhit memelas dan setelah itu tertawa.
"Diem dhit ntar aus lo!" Reyhan kesal.
"Iya iya maap kan dede bang."
Reyhan hanya memutar bola matanya malas, sudah biasa dia dengan kelakuan sahabat nya yang satu ini. Kadang waras, kadang gila, lama lama tambah gila.
🌀🌀🌀
Tringg..Tringg..Tring..
Bel istirahat telah berbunyi, Semua murid segera kekantin untuk mengisi perutnya yang sudah kelaparan.
"Dev kantin yu?" Queen mengajak Deva untuk ke kantin.
"Gak Queen, aku bawa bekal."
"Yahh, hmm yaudah deh. Lo mau nitip sesuatu gak?"
"Gak usah terimaKasih." Deva tersenyum kepada Queen.
"Oke gue ke kantin ya, dah dev." Setelah mengatakan itu Queen pergi. Sekarang Deva hanya sendirian di dalam kelas.
Sebenarnya Deva masih malas untuk makan, Deva hanya mengeluarkan bekal itu dan memperhatikan keluar jendela.
Deva hanya termenung.
"Ko gak di makan si?" Deva merasa ada yang duduk di sampingnya dan menoleh ternyata Reyhan. Deva menunduk malu dan terdiam.
Reyhan membuka kotak bekal nya dan melihat isinya.
"Ini enak lo tha? Lo gak mau? Gue suapin ya, nanti lo sakit."
"Gak, a...ku bisa makan sendiri."
"Oke bagus." Reyhan tersenyum.
"Jangan melihatku seperti itu."
"Emangnya kenapa? Gak boleh?"
"Gak."
"Yaudah gue cuma mau liat lo makan doang abis ini gue bakal pergi."
Deva cepat cepat menghabiskan makanannya, dia tidak menawarkan pasa Reyhan karena memang dia tidak begiru dekat. Tapi gimana kalau nanti.
"Sudah." Setelah selesai deva meminum air yang dia bawa.
"Lo lucu ya."
Deva hanya mendengar detak jantung nya yang begitu cepat.
"Apa ini kenapa aku deg degan."- Batin Deva.
"Wehhhhh berudaan aja lo!" Ucap seseorang yang datang dari pintu kelas.
Deva bernafas lega, lalu dia mebereskan semuanya dan memasukannya ke dalam tas.
"Wahh Rey maen alus lo bro." Ucap Radhit sambil tertawa.
"DEVAAA QUEEN BACK DENGAN MEMBAWA ALETA" Teriak Queen saat memasuki kelas.
"BERISIK!" Ucap Mereka semua berbarengan kecuali Deva yang hanya melihatnya.
"Bodo amat!" Queen hanya cemberut. "Eh 3 dugong disini, ciee lagi meet ya."
"Toa mesjid."
"Apalo arka." Ternyata yang tadi itu adalah arka. Salah satu temannya Reyhan.
"Awas lo Rey gue mau duduk." Usir aleta.
"Galak banget cewe lo ka."
"Idihhh!!" Ucap Mereka berbarengan.
"Ciee kompak." Queen dan Radhit pun berbarengan.
"Ekhemm cocok deh buat jadi pasangan lo berdua." Ucap Reyhan lalu berdiri dan meninggalkan kelas.
"Cabut dhit! Ngapain disini sama cewe cewe berisik ."
"Yehhhh Dua dugong." Ucap Queen dan Aleta kompak.
Radhit dan Arka pun pergi meninggalkan mereka bertiga didalam kelas.
"Lo kenal sama Reyhan dev?" Tanya aleta.
"Nggak. Cuma kemarin dia nganterin aku balik pulang sekolah, padahal aku gak kenal dia."
"Caper dia." Queen ikut berbicara.
"Emangnya kenapa?" Tanya deva.
"Aleta silahkan jelaskan siapa mereka."
Deva bingung dengan mereka berdua. Siapa Reyhan?Radhit?dan Arka? Kenapa mereka seperti tidak suka sekali kepada mereka.
"Reyhan wira pradipta ketua geng dari Fun Boys, ketua kapten basket di 'SMA Rajawali. Digemari semua perempuan, padahal mukanya pas pas an." Aleta dan Queen tertawa, entah tertawa jahat atau ngeledek. Deva yang melihatnya hanya tersenyum geli.
"Terus apa masalahnya?" Tanya deva.
"Jadi mereka bertiga itu salah satu most wanted di sekolah ini. Dan mereka itu suka banget godain cewe, apalagi si Reyhan. Salah satunya dari Geng Wacana." Jeda aleta.
"Wacana adalah (Wanita cantik mempesona)." Lagi dan lagi mereka berbarengan dan tertawa.
"Aku ga ngerti." Deva bingung apa yang di maksud dari itu.
"Queen jelaskan gue capek."
"Oke, jadi Deva yang cantik dan imut lo harus jauh jauh dari Fun Boys termasuk Reyhan. Karena ketikan Geng Wacana tau lo akan di bully abis abisan, dan Fun Boys mana tau kalau lo lagi di bully kan. Bahkan dulu ada yang dibully sampai orang itu keluar dari sekolah ini. Padahal mereka hanya suka dalam diam sama Fun Boys doang tapi Geng Wacana udah tau. Geng Wacana itu membully orang orang yang lemah dan membully orang yang dari kalangan bawah." Queen menarik nafasnya. "Lanjutin let!"
"Ketua Geng Wacana nama nya Vanda Zaida Calluella dia itu teralu obsesi untuk memiliki Reyhan, Padahal Reyhan nya aja acuh banget." Aleta melanjutkannya dan menatap deva.
"Jadi intinya lo harus berhati hati dan gak boleh lemah kalau lo mau berteman dengan Reyhan atau Fun Boys lainnya." Ucap mereka berbarengan
"Kayak kalian?"
"Kita dibilang teman sama mereka si bukan juga, cuma yang lain melihat nya begitu." Jawab Aleta.
"Kalian pernah di bully?" Tanya Deva kepo.
"Pernah tapi kita melawan dev, karna kalo kita diem si Wacana makin jadi."
"Hmm oke, aku jadi tau tentang semuanya hehe." Deva tersenyum kepada mereka.
"Gitu dong dev senyum, lo kan cantik." Queen mengomentari senyuman deva.
"Kamu lebih cantik."
"Iya gue emang cantik."
"Pede banget lo Queen." Deva hanya tertawa, mereka semakin dekat. Entahlah walaupun mereka dekat deva tetap harus tertutup.
Mana yang harus di umumkan dan mana yang harus di privasi. Deva tetaplah deva, bukan seperti mereka yang kuat dan terbuka.
Deva jadi kepikiran tentang Fun Boys, berarti yang harus dia jauhkan adalah Reyhan. Dia tidak mau kena masalah di sekolah barunya ini.
Cukup untuk yang dulu dia dibully.
"Semoga hariku menyenangkan dan berwarna tuhan, ku harap akan selalu begitu."- Batin Deva.