GOODBYE

GOODBYE
Part 02.



02. Selalu salah


Ketika lo ada masalah, Tegarlah.


Kita akan menghadapinya


bersama\-sama.



\-Reyhan Wira Pradipta



🌀🌀🌀


Bel Istirahat sudah berbunyi dari beberapa jam yang lalu,sekarang adalah jam pelajaran terakhir dan beberapa menit lagi pulang.


"Oke anak anak pelajaran kita sampai sini aja, rapihkan buku-bukunya dan tunggu bel pulang baru boleh kalian pulang. Saya akhiri pelajaran ini." Ucap salah satu guru ipa (Bu lala) setelah itu pergi meninggalkan kelas.


Deva merapihkan buku bukunya dan memasukannya ke dalam tas.


"Dev lo pulang bareng siapa?" Tanya Queen yang sudah selesai merapihkan buku nya.


"Aku naik Go-jek online Queen" Jawab deva lalu memakai tasnya


Tringg...Tringg...Tringg...


Bel pulang sekolah telah berbunyi dan beberapa murid sudah meninggalkan kelasnya. Termasuk Deva dan Queen yang sedang berjalan keluar gerbang.


"Dev lo bareng gue aja ya? Gue lagi bawa mobil,biasanya si gue juga naek Go-jek online juga."


"Ga usah Queen, aku mau ke halte untuk mesen Go-jek onlinenya"


"QUEENN" Teriak seseorang dari arah belakang mereka.


"Tarik napas... buang, huhhh...." Ucap seseorang itu, ternyata aleta.


"Gajelas lo let berisik banget di parkiran. Gua nggak bakal budek kali, lo panggil pelan juga bisa." Kesal Queen.


"Tai kodok noh! Lo gua panggilin dari tadi bego! Tapi asik jalan aja."


"Emang ya? Hehe. Lagian biasanya lo nge WA gue kalo ada apa-apa, emangnya kenapa lo manggil gue?" Tanya Queen sambil cengar cengir.


"Gue bareng lo yaa queen? Gue nggak bawa mobil terus juga gue gak di jemput."


"Dasar temen. Ada butuhnya doang ke gue lo!"


"Heh biasanya kan lo yang nebeng ama gue, nah sekarang gantian."


"Ya lo sengaja kan nggak bawa mobil biar nebeng sama gue."


"Mobil gue lagi di bengkel Queen. Lo ko marah si sama gue."


"Berisik lo let"


Leta hanya memutar bola matanya malas. Queen tuh memang ingin selalu benar,jadi lebih baik dia mengalah.


Deva hanya diam memperhatikan mereka yang selalu ribut dimana aja. "Hm... Queen Aleta Deva duluan ya" Setelah mereka berhenti berdebat akhirnya deva berbicara.


"Lo bener ni nggak mau pulang bareng gue?" Tanya Queen sekali lagi.


"Uda dev lo bareng kita aja, kan sekalian biar gue tau rumah lo."


"Iyaa dev, betul banget tu."


Deva tidak pernah mengajak siapapun ke rumahnya. Karena menurut dia itu adalah salah satu hal yang privasi, apalagi ketika mama nya tau.


"nggak usah. A-ku pergi dulu ya dah." ucap deva lalu pergi sambil melambaikan tangannya.


Mereka berdua bingung dengan sikap deva.


Tapi ya sudah lah mungkin deva masih tertutup karena mereka baru kenalan.


"Queen ayoo ah"


Deva menoleh kesamping "Iya ayo." Sambil jalan duluan meninggalkan aleta.


"Kayanya lo pengen banget di kejar deh Queen" Ucapnya lalu menyusul Queen yang sudah duluan.


🌀🌀🌀      


Deva memikirikan dirinya sendiri. Apakah dia teralu tertutup? Tapi tidak, dia tidak bisa mengijinkan seseorang yang baru ia kenal datang begitu saja kerumahnya.


Deva tidak pernah membawa siapapun kerumahnya terkecuali sahabat nya yang dulu. Tapi dulu,sebelum dia menghianati nya.


Deva tersadar dari lamunannya.


Dia mengambil handphone nya yang ada di tas, tapi ternyatan handphone nya lowbet.


"Yahh ko lowbet si, coba buru-buru pesen deh." ucap Deva pada dirinya sendiri dan buru-buru mengotak atik handphone nya agar nendapatkan Go-jek online nya.


Tapi handphone sudah keburu mati total.


"Huhh..." deva menghela nafas nya.


Dia berharap ada taksi atau ojek yang lewat halte.


Tin...Tin...Tin...


"Ayo naek!" Orang itu yang meng klakson nya tadi. Deva tidak mengenal nya, Deva hanya menggelengkan kepala nya.


"Yelaaa gua nggak mau nyulik lo kali." Orang itu membuka helmnya


Deva hanya menunduk, dia tidak berani menatap laki-laki itu.


"Ayo gue anterin, disini nggak bakal ada taksi atau ojek yang lewat. Sekalinya ada juga lama, emangnya lo gak takut?" Laki-laki itu memajukan wajahnya dekat telinga deva "Disini banyak penjahat."


Deva gemeter dan mengangat kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya. Dia tidak mau apa yang terjadi jika dia sendiri di halte ini.


"Jadi gimana hem?"


Deva berfikir. Bagaimana bisa dia di antar pulang oleh laki-laki ini, jika mama nya tau apa yang terjadi.


"Ribet lo! Kebanyakan mikir, ayo ah" Laki-laki menarik lengan deva agar naik ke motornya.


Deva hanya menunduk, lalu naik kemotor laki-laki itu.


"Pake jaket gue buat nutupin kaki lo"


Deva mengambil jaket itu lalu menutupinnya, rok nya memang pendek. untung saja laki-laki ini peka.


Setelah itu mereka pergi meninggalkan kawasan sekolah. Di motor mereka hanya diam membisu, Deva pun hanya menunduk.


"Alamat rumah lo di mana?"


"Perumahan Green Blok-1" Deva hanya menjawabnya tanpa melihat kedepan. Dia terus menunduk.


"Hmmm"


Setelah beberapa menit perjalanan Mereka sampai di perumahan Green Blok-1. Tapi, Deva tidak memberi tahu nomer rumahnya.


"Berhenti di sini aja" Ucap Deva lalu turun dari motor Reyhan.


"Emang rumah lo dimana nya?" tanya laki-laki itu sambil mengambil jaket yang di kembalikan oleh Deva.


"Uda deket dari sini"


"Lo jangan nunduk terus kenapa si." Tegor nya kepada Deva. "Kalau belum sampai ya naik lagi lah, tunjukin rumah lo yang mana."


"Nggak usah. Dari sini sudah dekat, Te-rima kasih." Setelah mengatakan itu Deva pergi meninggalkan Reyhan sendirian sambil melihat Deva yang masuk ke gang dan lama kelamaan sudah menghilang dari pengelihatan Reyhan.


"Iya sama-sama, Dasar cewe aneh. Harusnya tu dia salah satu orang beruntung karena, kapan lagi coba gue nawarin pulang bareng sama gue. Masa iya dia nggak ngeliat kegantengan gue." ucapnya pada dirinya sendiri dengan pedenya.


🌀🌀🌀


Deva masuk ke rumah nya lalu masuk ke kamar nya.


"Hari ini cukup aku berteman dengan siapapun. Besok aku harus menjauh dengan mereka semua." ucapnya pada dirinya sendiri.


"ADEEVA" Teriak seseorang daru bawah.


"Adeevaa cepat kamu kesini!"


Deva langsung bergegas ganti baju dan turun kebawah.


"Dasar lambat kamu!"


"Ma..ma..af maa." Ya, yang memanggilnya adalah mama nya (Larina Septiana)


"Nanti teman saya mau ke sini, Cepat masakan sesuatan yang enak! Dan jangan memanggil saya Mama di depan mereka semua. Karena kamu bukan anak saya!"


"Iya ma."


"Yaudah sana cepat masak!" Setelah mengatakn itu Mama nya deva meninggalkan nya.


Seandainya mama mau menganggap ku seperti anak mu sendiri ma- batin Deva.


Mata Deva sudah berkaca kaca, tapi ia harus kuat. Bagaimanapun ia tetap Orang Tua Deva.


Deva POV.


Apakah aku tidak bisa bahagia? Apakah aku tidak akan bahagia? Ingin sekali ku merasakan kebahagiaan bersama keluargaku.


Ingin sekali seperti mereka yang tertawa bersama keluarganya. Apakah aku tidak bisa merasakan apa yang mereka rasakan dengan bahagianya tertawa bersama keluarganya?


Bagaimana bisa. Aku tidak punya siapa siapa lagi, aku sendirian.


Aku cengeng sekali, padahal sedang memasak tapi nangis. Aku lemah, tidak berguna. Rasanya benci sekali dengan diriku sendiri.


"Non itu kue nya sudah jadi, mau di hias tidak non" tanya Bi Ira kepadaku, dan aku tersadar segera menghapus air mataku.


"Loh non deva nangis?"


"Tidak bi,ini abis motong bawang hehe"


"Bener non? Non-"


"Iya bi, Oiya kuenya di hias ya bi. semua nya sudah selesai ko, Deva keatas dulu bi." ucapku memotong perkataan bi ira, aku tidak mau membebankan siapapun lagi.


Cukup aku saja yang merasakannya,


biarkan orang lain melihat ku tersenyum itu lebih baik.


Author POV.


Deva memasuki kamar nya lalu membersihkan dirinya dan bersiap siap untuk menerima kelakuan mama nya kepada dirinya di hadapan teman nya.


Untuk hati kuatlah.- batin Deva


Setelah rapih dengan pakain nya deva langsung turun kebawah dan mempersiapkan makanan untuk teman-teman Orang tuanya itu.


"Bi teman Mama sudah datang?" tanya Deva sambil membantu bi ira.


"Sudah non. Apa non tidak keluar? Kalau tidak kuat biar bibi saja."


"Tidak apa-apa bi, lagian Deva kan sudah biasa." ucap Deva sambil tersenyum, entah senyum apa. Kekecewaan atau kebahagiaan.


"Bibi bawain makanannya, Deva bawain minuman nya ya bi."


"I-ya non"


"Oiya bi, panggil deva saja di depan teman-teman Mama ya bi. Jangan sampai lupa."


"Hehe siap non."


Mereka berdua mengeluarkan makanan dan minuman di ruang tamu.


"Nyonya ini makanan dan minumannya" ucap Bi Ira kepada Larin.


"Letakan di meja."


Baru saja ingin meletakan satu-satu ke meja tapi, minuman salah satunya tumpah ke teman Mamanya dan membuat bajunya basah.


"APA YANG KAMU LAKUKAN?!" katanya sambil berdiri.


"Ma-ma-af nyonya." Deva hanya menunduk karena takut.


"KAMU TU PUNYA MATA NGGAK SI HAH!"


"Maaf ta-pi saya tidak sengaja."


"PEMBANTU TIDAK BERGUNA LEBIH BAIK BUANG SAJA LARIN!" ucap orang itu karena sangat kesal.


"Maaf jeng, memang dia sangat tidak berguna. Ayo jeng kita keatas ganti baju." Larin mengajak teman nya ke atas, tapi teman nya menolak.


"Tidak perlu, saya sudah sangat kecewa sama pembantu kamu!." Ucapnya lalu melirik Deva.


"Memang nya kamu dapat pembantu dari mana sih?" ucap temannya satu lagi, lalu melihat Deva.


"Ayo jeng kita pulang saja, saya jadi males bekerja sama dengan kamu larin. Sekarang jeng lita, besok siapa? cih!"


"Maafkan saya, tap-i ayo kita bicarakan lagi." ucap Larin kepada temannya yang sudah malas denganya.


Deva hanya menunduk. Dia harus apa?


"Maafkan saya nyonya, nyonya tolong jangan memmbatalkan nya. Biar saya cuci baju nyonya ya." ucap Deva lalu mendekat.


"STOP! Saya tidak mau disentuh sama kamu apalagi barang saya!" ucapnya lalu melihat Deva dengan sorotan marah. "Larin lebih baik saya bekerja sama dengan yang lain. Ayo kita pulang!" Lalu semuanya pergi dari rumah Larin.


"DEVA KAMU ITU!!" Larin sudah bersiap siap menampar deva tapi.


"Nyonya sabar nyonya, non deva tidak sengaja." Bi Ira menenangkan Larin.


"DIAM KAMU! BERESKAN SEMUANYA. DEVA IKUT SAYA CEPAT!" Lalu menarik tangan Deva agar ikut bersamanya.


Bi Ira yang melihat itu tidak tega kepada Deva yang di lakukan seperti itu.


Deva terus merintih karena tangannya di cekal sangat keras.


"Sa-kit maa"


"DIAM! Masuklah." Lalu mendorong Deva masuk ke gudang sehingga Deva terjatuh. Larin mengunci gudang nya sehingga hanya mereka berdua saja yang ada di dalam.


"Kenapa mama tega sama Deva?" tanya Deva dengan air mata yang sudah keluar dari tadi.


"TEGA? SAYA TIDAK PERDULI. KAMU MENGHANCURKAN SEMUANYA. PERTAMA KAMU MENGHANCURKAN KELUARGA SAYA, MEMBUNUH ANAK SAYA! SEKARANG KAMU MENGHANCURKAN BISNIS SAYA!!." Teriak Larin kepada Deva, dia sudah tidak tahan lagi dengan emosinya.


"De-va tidak mengancurkan keluarga mama, dan De-va tidak membunuh anak mama." Deva terus menunduk dan menangis tanpa suara.


"APA? APA KAMU BILANG! TIDAK MENGHANCURKAN KELUARGA SAYA? KAMU DATANG KE SINI UNTUK TINGGAL BERSAMA! DAN GARA GARA KAMU ANAK SAYA MENINGGAL!" Larin menjambak rambut Deva.


"Sa-sa-kit maa."


"Apalagi saya. KAMU MENGHANCURKAN SEMUANYA DEVA, INGAT KAMU HANYA MENUMPANG DIRUMAH SAYA!"


"Kenapa mama tidak bisa menerima deva ma?" Deva mengangkat kepalanya dan melihat mama nya.


"Oh sudah berani menatap saya! Ya, sampai kapanpun saya tidak bisa menerima kamu. Kamu itu tidak berguna! Lebih baik dibuang." Setelah mengatakan itu Larin keluar dari gudang dan mengunci Deva sendirian di gudang.


"Apa aku selalu salah di mata mama? Apa aku telah menghancurkan kebahagian mama? Maafkan aku ma." ucap Deva dalam sendirian dan terus menangis dalam diam.


Deva menekuk kedua kakinya dan memeluk kakinya sendiri, sambil menangis.


Bunda... Deva rindu.- Batin Deva.