Goodbay-u

Goodbay-u
Episode9



Hai semuanya


Budayakan Vote sebelum membaca


Dan Komen sesudah Baca ya guyss!!!!!


Akhirnya Fahmi memilih pergi, meski kecemasannya tak luruh sedikit pun.


"Kenapa Bayu bohong sama bunda?"


Pertanyaan itu langsung mengudara setelah keduanya berada di dalam.


"Maaf."


"Bayu sengaja mau bikin Bunda kelihatan buruk dimata Ayah? Seneng kalau berpikir Bunda engga becus ngerawat Bayu?"


Bayu tak lagi menjawab, meski sang bunda terus menyudutkannya dengan melontarkan tuduhan tak berdasar, lelaki itu tetap diam. Se tidaknya dengan diam semua akan cepet selesai. Bayu tidak memiliki tenaga untuk sekedar menyangkal.


Saat dirasa semua kekesalan bundanya sudah tersalurkan, Bayu menggenggam tangan perempuan itu. "Bunda, ucapan Ayah jangan dimasukin hati, ya. Aku seneng kok tinggal sama Bunda. Aku cuma minta satu hal, tolong jangan larang aku ketemu Ayah. Suami istri mungkin ada bekasnya, tapi engga ada yang namanya mantan orang tua atau mantan anak, 'kan? Aku tetap bagian dari kalian berdua."


Seseorang menyandarkan tubuh dibalik kukuhnya dinding pembatas antar ruang. Menikmati dalam diam bagaimana Ibu dan Anak bertengkar.


"Iya Bunda tahu. Tapi, tolong jangan terlalu sering ketemu Ayah. Hargai Papa Mario, Masih untung dia mau membesarkan dan membiayai semua kebutuhan kamu. Kalau kamu sayang sama Bunda, nurut apa kata Bunda, Bayu. Ini demi kebaikan kamu."


"Bunda udah lega? Kalau masih mau marah, engga apa-apa marah aja. Jangan di pendam ya, Bun. Nanti Bunda sakit."


Suara Bayu terdengar lagi, membuat Wil diam-diam mencibir. Apa adik tirinya memang munafik sejak lahir? Tidak pernah ada manusia yang betah dimarahi, bukan? Namun, Bayu justru menawarkan diri agar sang Bunda meluapkan seluruh kemarahannya. Pemuda itu menyembulkan kepala, melihat dengan jelas apa yang sedang mereka lakukan.


"Kalau Bunda udah baikan, aku pamit ke kamar dulu, ya, Bun."


Wil menatap kepergian Bayu dari jauh. Ia heran melihat sikap Bayu tak terlihat seperti biasanya. Apa Bayu benar-benar sakit? Detik berikutnya pemuda itu tersenyum masam, merasa bodoh dengan pemikirannya barusan. Apa pedulinya? Bayu sakit atau mati sekalipun benar-benar bukan urusannya.


...***...


Ini sudah ketiga kalinya Bayu muntah-muntah selain dirumah ayahnya tadi. Tubuhnya benar-benar lemas, terlebih tak ada sedikit pun makanan yang berhasil dicernanya. Sang Bunda pun tak sepertinya tak mau repot bertanya apakah Bayu sudah makan atau belum. Entah karena benar-benar lupa, terlalu sibuk memperhatikan Wil, mungkin juga masih kesal. Bayu berusaha untuk tidak peduli.


Dengan langkah pelan, Bayu dari kamar mandi. Tangannya menggapai-gapai dinding mencari pegangan agar tak sampai limbung.


Tepat saat posisi sudah semakin dekat dengan tempat tidur, Bayu mendapati sesuatu diatas tempat tidurnya. Apa dia lagi? Bayu bertanya dalam hati. Ia yakin pelakunya memang Wil. Sang Bunda tidak akan meletakkan benda semacam ini diatas tempat tidur karena tahu jika tumpah bisa mengundang semut.


Hubungan dengan Wil dulu tak seburuk ini. Saat Bayu masih harus tinggal tiga hari saja disini, Wil menyambutnya dengan baik. Mereka bermain bersama, Wil juga tak keberatan menjaganya dari anak-anak komplek. Namun, ketika Bunda dan Papa tirinya meminta Bayu menetap, anak itu mulai berubah.


"Bayu."


Spontan Bayu menoleh ke sumber suara. "Ya, Bunda?"


"Katanya kamu sakit?"


"Cuma perih. Makasih obatnya yha, Bun."


"Lho, Bunda aja baru tahu kamu sakit. Tadi Kakak minta Bunda bawain kamu makanan, terus bilang katanya Bayu sakit. Ini Bunda bari ngecek. Jadi, bukan bunda yang bawain obatnya."


Tiba-tiba Bayu mengingat kejadian di UKS. Ia melihat seseorang datang, meskipun kesadarannya masih belum terkumpul sempurna. Bayu yakin kalau itu bukan salah satu diantara sahabatnya. Orang itu sempat merabah dahinya, kemudian mendengar suara berisik dari luar, Apa itu Wil?


"Bayu, kok malah bengong?"


Bilang makasih sama Kakak, Bun. Tapi, aku engga apa-apa kok."


"Iya nanti Bunda bilang sama Kakak. Kalau Papa pulang kita langsng kedokter. Tahan sebentar kuat kan?" Tanya Anggi Lagi.


"Iya Bun."


"Sekarang obatnya diminum dulu, Nanti tidur sambil nunggu papa."


Anggi mengambil ahli botol obat yang dipegang Bayu dan menuangkan suspensi berwarna putih didalam tutup botol hingga sentara dengan satu sendok takar.


"Cepat sembuh ya, Nak. Bunda kebawah dulu."


Sekali lagi Bayu mengangguk, lalu membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur.


Selang beberapa menit selepas bundanya pergi, Wil datang.


"Jangan salah paham gua begini karna engga suka melawan orang yang lebih lemah."


Bayu tak menanggapii, hanya tersenyum kecil sebagai jawaban. Gua tahu, sekecil apapun, rasa sayang itu pasti ada.


...|Bersambung|...