
Hai semuanya
Budayakan Vote sebelum membaca
Dan Komen sesudah Baca ya guyss!!!!
Belum sempet Mario menjawab, suara perut Bayu lebih dulu menghentikannya. Pria itu bergerak mengusap perut putranya, yang terasa panas dan kaku. Pasti sangat tidak nyaman. "Bayu lapar? Mau coba makan engga? "
Kemdati sangat ingin, tetapi Bayu menahan diri. Dengan kondisinya sekarang, bukan tak mungkin ia muntah lagi. Hal itu pasti akan membuat sang Bunda marah dan kembali kerepotan. Bayu tidak ingin semua terulang.
"Perutnya bunyi, Bayu pasti lapar. Kita coba sedikit-sedikit, " Bujuk Mario lagi. Ia membantu putranya bangkit, mengambl nampan berisi makanan, kemudian bersiap menyuapi putranya. "Ayo buka mulutnya. Papa tahu pasti engga nyaman, tapi harus. Kalau Bayu enggak mau makan, kapan sembuhnya? "
Bayu mulai menikmati saat pria itu menyuapkan makanan ke mulutnya. Sejenak hatinya menghangat, teringat perlakuan yang sama dari sang Ayah setiap kali Bayu sakit. Namun, itu tak berlangsung lama karena ucapan Bunda tempo hari terngiang kembali. Jangan terlalu deket sama Papa.
Pemuda itu menghela napas berat, kemudian menghentikan pergerakan sang Papa menyuapinya. "Pa, Aku makan sendiri aja. "
"Lho kenapa? Enggak apa-apa Nak, sekali ini Papa suapin. "
Tegas, Bayu menggeleng. "Aku bisa sendiri kok, Pa. Enggak boleh manja, Nanti kebiasaan. "
"Nak, kalau ada apa-apa bilang sama Papa. Selain Ayah Fahmi, Papa ini Papamu juga. Jadi jangan sungkan buat cerita, Papa pendengar yang baik lho. Orang di kantor aja sering cerita sama Papa. Mario Teguh musim kedua nih, " Ujar Mario dengan ketawa renyah di akhir kalimatnya.
Apa yang diucapkan Papanya membuat pertahanan Bayu runtuh. Pemuda itu tak sanggup mengangkat kepala, takut jika tangisnya ketahuan. Kebiasaan bersembunyi di balik benteng pura-purapun hari itu digagalkan.
Mario mengangkat Dagu putranya. "Apa yang bikin Bayu Nangis? Coba bilang sama Papa. "
Bukannya berhenti, tangis anak itu justru kian hebat, membuat Mario yang melihat seolah tertular sakitnya. Dengan gerakan cepat Mario membawa Bayu dalam pelukannya. Mario tak bersuara, apalagi meminta Bayu berhenti menangis. Ia tahu, yang dibutuhkan Bayu saat ini hanya tempat untuk bersandar.
"Makasih, Pa. " Kata Bayu di sele-sela isakkannya, "Makasih udah mau nanya, " Lanjutnya.
Bayu mungkin tidak bisa menjelaskan secara rinci alasannya mengapa ia menangis, tetapi Bayu merasa lega karena setidaknya ada yang menyadari bahwa Bayu tidak baik-baik saja. Sederhana Itu.
Hati Mario sakit mendengar ucapan terima kasih yang sebenarnya tak perlu. Sudah tugas orang tua memastika apakah anaknya baik-baik saja atau tidak. Lelaki itu tak mengeluarkan sepatah kata pun, apalagi meminta Bayu berhenti menangis. Mario tahu, yang dibutuhkan hanya tempat untuk bersandar. jadi, ia memilih mengeratkan peluk.
Wil yang sedaei tadi berdiri dibalik pintu turut merasakan sakit. Bukan lagi karena iri, tetapi kasihan. Perasaan bersalah menyeruak hebat mendengar tangisan adik tirinya. Tidak seharusnya Wil bersikap kekanak-kanakan dengan merenggut seluruh atensi keluarganya, sengaja melupakan bahwa ada Bayu yang juga mrmbutuhkan kasih sayang. Apakah terlambat jika saat ini ia ingin mengembalikan semua yang seharusnya milik Bayu? Anak itu benar Wil tidak boleh egois. Suka atau tidak ia Harus memulai membuka mata untul melihat luka orang lain.
...|Bersambungg|...