Goodbay-u

Goodbay-u
Episode16



Hai semuanya


Budayakan Vote sebelum membaca


Dan Komen sesudah Baca ya guyss!!!!!


Pemda itu masih tak bersuara, berusaha mencerna ucapa Arsen dengan baik.


"Seandainya kalian semua enggak bisa jagain Bayu Gue sama bokap siap kok jagain Bayu. Keluarga Naren, Aries, Sabil, bahkan Hanin juga bisa terima Bayu lebih baik. Itu karena kami sadar, orang sebaik Bayu enggak pantas di sia-siakan. "


"Dia adik gue. Dia enggak akan kemanapun. "


Arsen tersenyum sinis. "Adik lo? Kalau benar dia Adik lo, tunjukkan lo emang Kakaknya. Jangan bikin kita pengin ambil Bayu dari kalian. "


...****...


Bunda


Bayu, Kakak udah sarapan?


Chat Bunda engga di bales, mungkin sibuk belajar dan engga sempet pegang handphone.


Bayu mendorong sepiring siomay dihadapannya, kemudian mengetik balasan.


^^^Me^^^


^^^Udah kok, Bun. ^^^


^^^Bunda jangan lupa makan. ^^^


Bunda


Makasih ya, Sayang.


Bunda udah makan kok tadi sama


teman.


Apakah salah jika Bayu berharap sang Bunda memberikan balasan berbeda? Misalkan, meminta Bayu makan juga atau paling tidak menanyakan keadaannya.


"Habisin, Yung. Kalau enggak, gue ngambek nih ogah traktir kalian lagi, " Ujar Naren.


"Enek gue. "


Kelima langsung menatap pemuda itu khawatir.


"Yung, Udah di periksain? " Arsen ikut bersuara.


"Pasti Udah, Tante Anggia mana mungkin biarin anaknya sakit, " Celutuk Hanin.


"Terus kata dokter gimana? " Gantian Aries yang bertanya.


"Lambung doang. "


"Jangan disepelekan, Yung. Mending sekarang gak parno tapi hasilnya engga jelek, daripada terlalu santai ujungnya enggak enak karena telat ketahuan. "


Bayu tersenyum. "Kalian perhatian bnaget. Gue berasa jadi anak kalian, bukan sahabat doang. "


"Karena kita sahabat lo, Yung. Kita ikutan sakit kalaublo sakit. Ibaratnya, gigi yang sakit kepala juga ikut cenat-cenut. Biasanya kayak gitu, 'kan kalau sahabat. "


Mendengar ucapan Hanin, Aries tertawa. "Agak pahit-pahit gitu pas ngucapin sahabat. Mulut yang ngucap, hati yang kegigit. "


Mereka kompak terawa, tak terkecuali Bayu. Ia merasa beruntung berada di tengah-tengah mereka. Setidaknya ada yang bisa menyamarkan rasa sakitnya sejenak.


...*****...


/Skipp pulang sekolah


"Bun, aku lapar. "


"Tunggu Papa sama Kakak dulu, ya Nak. Engga enak loh makan duluan sementara Tuan Rumah belum pulang. Bunda juga lapar, tapi masih bisa nahan. Masa kamu yang laki-laki merengek gitu. "


Bayu menghela napas. Bahkan dirumah ini di berlakukan istilah Tuan Rumah. Berarti secara tidak langsung sang Bunda mengatakan kalau Bayu hanya tamu, begitu?. Harusnya Bayu memang tahu diri, tidak boleh berharap terlalu banyak.


Pemuda itu mengambil gelas, menuangkan air dingin dari kulkas, Kemudian menegaknya hingga tandas. Berharap hal itu bisa menyamarkan rasa lapar dan sanggup menyapu pahit di lidahnya. Namun, sial bukannya membaik air yang belum lama tertelan membuat Bayu mual.


"Nonton atau main game dulu aja. Jangan di dapur, nanti makin berasa lapar. Nanti Bunda masakin makanan kesukaan Bayu dan kalau kuat tahan sampai Papa pulang. "


Meski mengangguk, Bayu tak yakin apakah nanti ia bisa memasukan makanan kedalam perutnya atau tidak. Rasa laparnya enyah berganti perih.


"Kakak minta diantar ke toko buku sama Papa. Bayu enggak mau nitip? Bunda seneng lho kalau Bayu bisa meniru kegiatan positif kakak. Kakak rajin belajarnya, senangnya baca, nilai nya juga selalu bagus. Bunda bangga banget biarpun bukan ibu kandungnnya. "


Bayu membaringkan tubuhnya di sofa, berusaha menganggap ucapan Bundanya angin lalu.


Papa Mario mungkin anggap Bayu seperti Putra nya sendiri, tapi Bunda mau Bayu mandiri. Sekarang banyak beasiswa, Bayu harus berusaha keras dapat itu biar enggak terlalu merepotkan Papa. Papa sihh enggak keberatan, cuma Bunda yang engga enak. Masa anak kandungnya aja ngejar beasiswa, Bayu yang bukan siapa-siapa malah keliatan santai. "


Demi apapun, apakah sang Bunda tidak bisa berhenti bicara sebentar? setidaknya jangan menyinggung sesuatu yang membuat Bayu merasa semakin tidak terima


...*****...


...|Bersamabung|...