
Hai semuanya
Budayakan Vote sebelum membaca
Dan Komen sesudah Baca ya guyss!!!!!
Dengan gerakan cepat Bayu menutup kaca helm Hanin, memutar tubuh gadis itu membelakanginnya, kemudian merangkulnya. "Ayo berangkat! Nanti kita kesiangan. "
sesampai di sekolah, yang pertama Bayu cari adalah sang Kakak. Bagaimanapun, bundanya memberi amanah untuk memastikan Wil memakan sarapannya.
Namun, begitu diajak bicara, Wil justru kembali bersikap dingin. Padahal, dua hari yang lalu-meskipun tetap ketus Wil sedikit lebih hangat. Bahkan, saat Bayu memintanya kebelakang sekolah umtuk sekedar menyerahkan bekal dari sang Bunda, Wil sempat menolak.
"Gue enggak ngasih dikelas karena takut lo malu, Kak. Ini bekal dari Bunda, Katanya lo enggak sempat sarapan. Bunda takut lo sakit. "
Reaksi Wil benar-benar di luar dugaannya. Pemuda itu dengan kasar menepis kotak bekal yang di serahkan Bayu hingga isinya tercecer.
"Lo apaan, sih? "
"Gue benci anak yang suka caper. " Kata Wil sungguh-sungguh. Ia masih kesal karena semalam Papanya justru memilih menghampiri Bayu lebih dulu. Padahal, Wil sudah rela menahan lapar hanya demi bisa makan bersama sang Papa.
Alis Bayu saling bertautan mendengar penuturan Kakaknya. Cari perhatian bagaimana? Kepada siapa? Bayu bahkan menahan diri untuk tidak mengeluh sakit agar tak sampai membuat orang tuanya mengabaikan Wil. "Kalau lo benci sama gue, jangan kayak begini caranya, Kak. Lo harusnya bersyukur karena seenggak nya Bunda sempet menyiapkan bekal buat lo. Bunda bahkan enggak kepikaran buat nanya kondisi gue karena sibuk mikirin lo. "
"Lo iri? "
"Jangan sok peduli. "
"Gue engga minta lo percaya kalau gue benar-benar peduli. Tapi, gue yakin lo punya hati dan bisa merasakan semuanya. "
Wil diam.
"Oh iya, satu lagi. Kalau Bunda tanya tentang makanannya, bilang aja lo udah makan. Gue enggak mau Bunda kecewa karena anak kesayangannya malah dengan sengaja buang makanan yang susah payah dia buat. "
Apa yang dikatakan Bayu menusuk tepat hatinya. Wil tak bergerak dengan sorot terpusat pada kotak bekal yang isinya sudah berhamburan. Ia bukan tak menghargai apa yang dilakukan sang Mama, Wil hanya masih kesal pada Bayu.
Melihat Wil masih pada posisinya selepas kepergian Bayu, Arsen yang sedari tadi memgamati dari jauh langsung menghampiri lelaki itu.
"Gue kesini bukan mau ikut campur urusan kalian. Anggap aja gue bicara sebagai orang asing, Apa yang barusan lo lakukan itu keterlaluan, Wil. Lo Nyakitin dia terang-terangan di saat dia berusaha perhatian dan sayang sama lo. Sementara lo bahlan engga pernah mau nanya apa yang dia rasain. Dia sakit, tapi nahan diri supaya lo enggak berpikir dia manja dan mau merebut perhatian orang tua kalian. Dia juga biarin nyokapnya lebih deket sama lo, sedangkan Bayu dilarang deket sama siapapun. Lo pernah ngerasain enggak sih gimana rasanya punya dua tempat tinggal tapi tetap enggak tau mau kemana harus pulang? Itu yang Bayu rasain selama ini."
Pemda itu masih tak bersuara, berusaha mencerna ucapa Arsen dengan baik.
"Seandainya kalian semua enggak bisa jagain Bayu Gue sama bokap siap kok jagain Bayu. Keluarga Naren, Aries, Sabil, bahkan Hanin juga bisa terima Bayu lebih baik. Itu karena kami sadar, orang sebaik Bayu enggak pantas di sia-siakan. "
...****...
...|Bersambungg|...