
Hai semuanya
Budayakan Vote sebelum membaca
Dan Komen sesudah Baca ya guyss!!!!!
"Kakak hebat deh bisa bilin adiknya mau makan," puji Mario. Ia tahu, sekecil apapun cara nya mengerpresiasi usaha anak itu, pasti berdampak besar untuk Wil.
"Bayu aja yang manja"
"Maaf bikin Kakak repot."
"Iya lo ngerepotin. Makannya cepat sembuh biar engga bikin gua buang-buang waktu kayak gini."
Kalimat itu mungkin terdengar ketus, tetapi Bayu tetap bisa menangkap perhatian di sana.
Mario mendekati kedua putranya.
"Kakak berangkat aja. Udah siang juga, nanti telat. Biar Papa yang terusin ini."
Wil melirik mangkuk bubur di tangannya yang hanya menyisakan sedikit. "Engga usah, sedikit lagi kok. Pamali kalau diterusin orang."
Melihat Bayu tersenyum, Wil jadi kesal sendiri. Bukan kesal sebenarnya, Mungkin malu?. Dengan cepat pemuda itu memutar tubuh, kemudian menyerahkan mangkuk ditangannya pada sang Ayah. "Nih, Papa aja yang terusin!."
Selepas kepergian Wil, Mario kembali bersuara, "Bayu sabar, ya. Sebenarnya Kakak sayang sama Bayu, cuma gengsi dan mungkin takut."
...***...
"Wil Bayu di rumah kan engga sampai dibawa ke Rumah Sakit?"
"Hm."
"Parah engga? Chat kita soalnya engga ada yang di balas."
Wil merasa telinganya panas karena sejak menginjakkan kaki ke sekolah banyak sekali yang bertanya tentang Bayu. Apalagi, setelah ia memberikan surat dokter yang semakin menegaskan bahwa Bayu tidak baik-baik saja. Tak hanya lima ulat keket itu yng kepo akut, temen sekelasnya yang lain juga sama.
"Wil."
"Apa sih? Bayu Lagi?"
"Ketus amat loh. Padahal, gua cuma mau balikin ini!" sembur Hanin sembari melempar sebuah pulpen yang tadi di jatuhkan anak itu.
"Sorry gua pikir mau nanyain Bayu lagi. Kan dari tadi emang lo paling kepo."
"Susah emang ngomong sama orang yang tiap hari ngemilin bubuk mesiu. Sedikit-sedikit meledak, Sensitif banget."
Wil mendelik sebal. Mulut Hanin itu memang pedas sampai ke akar-akarnya. Terkadang ia heran sendiri kenapa orang secantik Hanin bisa se galak itu. Kan sayang cantiknya, seandainya lebih lembut sedikit pasti banyak laki-laki yang mengantre minta dipacari. Seperti Wil dulu.
"Biasa dong jangan nyolot."
"Orang kayak elo tuh emang engga bisa dibaikin, Ngelunjak yang ada. "
"Salah gua tuh apa sih, Nin? Perasaan lo galak banget kalau sama gua?"
Salah lo cuma satu, selalu bikin Bayu susah! Gadis itu menjawab dalam hati. Hanin dalam mode tanduk sekarang. Selain kedatangan tamu, Bayu sakit dan membuat hatinya ketar-ketir. Ditambah, Bintang yang biasanya dijadikan tong sampah juga menghilang entah kemana. Sudah dua hari ini anak itu tidak terlihat online di instagram.
"Kalau sama Bayu aja sok manis banget. Lo suka, ya ama dia?"
Hanin bersiap maju, paling tidak sekedar menjambak rambut lelaki menyebalkan di hadapannya. Namun, Aries kerah seragamnya, membuat gadis itu tak bisa bergerak terlalu banyak karena pergerakan sekecil apa pun membuatnya tercekik. "Engga sekalian pakai toa masjid? Mulut lo tuh ya, engga ada remnya."
"Ya kan ini mulut, bukan sepeda ontel."
"Ri, lepasin! Itu manusia emang minta di sleding."
Aries menggeleng. Pemuda itu mendekatkan wajahnya, kemudian berbisik. "Nin, khawatir boleh kok. Tapi, jangan terlalu barbar. Nanti semua orang jadi tahu kalau rasa khawatir lo lebih dari khawatir seorang teman."
Tubuh Hanin sontak menegang mendengar penuturan Aries. Jadi, selama ini perasaan gua ketahuan, ya? Perasaan gua udah kalem banget.
...|Bersambung|...