Goodbay-u

Goodbay-u
Episode8



Hai semuanya


Budayakan Vote sebelum membaca


Dan Komen sesudah Baca ya guyss!!!!!


Hanin yang menangkap basah sosok Wil tengah tersenyum, langsung melempar tatapan tajam. "Engga punya hati dasar." Gadis itu bertutur pelan. Seandainya tidak sedang belajar, Hanin pasti menumpahkan semua ke khawatirannya pada Bintang. Hanya kepada orang itu Hanin bisa berbicara jujur tentang perasaannya.


UKS tak segaduh sebelumnya. Satu per satu yang meminta tetap tinggal disana dipaksa kembali ke kelas, menyisakan Bayu seorang diri bersama Anak PMR yang bertugas hari ini. Pemuda itu tampak damai dalam tidurnya, membuat sang penjaga tak terlalu cemas meninggalkan Bayu sebentar sekedar untuk membelikannya makanan andai anak itu bangun nanti.


Setelah memastika tidak ada siapa pun di dalam sana, seorang pemuda masuk. Ia menyibak tirai perlahan, mencari keberadaan saudara tirinya. Ia hanya ingin memastikan apakah Bayu sungguh sakit atau hanya berpura-pura untuk mencuri perhatian banyak orang seperti yang selalu dilakukannya di rumah.


Ragu, Wil menyentuh dahi pemudah yang terbaring lemah di hadapannya. Kelopak matanya melebar mendapati hawa panas begitu kentara. Namun, Ia lebih kaget lagi karena netra adik tirinya tiba-tiba terbuka. Wil sampai termundur saking kagetnya. Bukan takut, hanya malas bila sang adek menyimpulkan macam-macam.


Bayu terdiam beberapa saat menatap sosok yang berdiri dihadapannya. "Ka-kak...."


Wil melotot. Mendengar suara Hanin dan derap langkah yang sedikit ramai, pemuda itu langsung bergegas meninggalkan tempat itu.


...***...


"Enak aja kalau ngomong! Suami baruku itu engga seperti kamu. Dia mampu memberikan kehidupan yang layak buat aku sama Bayu. Mana mungkin kami melantarkan Bayu sampai dia sakit. Emang kamu? Bayar biaya rumah sakit aja waktu itu engga mampu."


Harga diri Fahmi terluka mendengar penuntunan mantan istrinya. Ia tidak menyangkah jika Anggi berubah begitu banyak hanya karena dimanjakan dengan berbagai kemewahan. Sebelumnya, niat fahmi kesini hanya sekedar ingin bicara mengenai kondisi Bayu. Fahmi ingin mantan istrinya lebih perhatian lagi, meskipun ada anak lain yang membutuhkan perhatiannya. Namun, semua malah jadi seperti ini. Mantan istrinya merasa tersinggu dan langsung mengamuk.


"Anggia, kebahagian seseorang itu yang bisa diukur oleh harta."


"Itu kamu, Anak kita belum tentu, 'kan? Kamu pernah tanya? Apakah dia bahagia dengan kehidupan dia sekarang? Kalau kamu Ibunya, kamu pasti cukup peka buat sekadar melihat murungnya Bayu."


"Aku Bundanya, jelas aku lebih tau seperti apa kondisi anak yang aku lahirkan."


"Jangan hanya karena kamu yang melahirkan dia, kamu jadi merasa tahu segalanya. Faktanya, sejak kecil Bayu lebih dekat sama aku, 'kan? Kalau bukan karena keterbatasanku, dia engga mungkin mau tinggal sama kamu."


"Yah!" Bayu yang baru saja pulang diantar oleh Arsen, lamgsung berjalan cepat menghampiri orang tuanya.


Samar-samar Bayu pun sempat mendengar apa yang mereka perdebatkan. Pemuda itu meraih jemari tangan Ayahnya, memohon untuk tidak berbicara lebih banyak karena Bayu tahu apa yang di katakan lelaki itu bisa melukai sang bunda.


"Kamu masih pucat, Nak."


"Aku engga apa-apa, Yah."


Anggi menarik tangan Bayu. Tanpa mengatakan apa pun pada sang mantan suami, perempuan itu menyeret putranya masuk.


Bayu sempat menoleh, lalu melambai pada sang Ayah diiringi sebuah senyum seolah meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.


Akhirnya Fahmi memilih pergi, meski kecemasannya tak luruh sedikit pun.


...|Bersambung|...