Goodbay-u

Goodbay-u
Episode14



Hai semuanya


Budayakan Vote sebelum membaca


Dan Komen sesudah Baca ya guyss!!!!!


Lagi, Anak itu mengangguk patuh. Keinginannya untuk memeriksa diri pupus. Benar kata Bundanya, Jika terlalu dimanja penyakit justru betah berlama-lama. Walaupun sang Bunda tidak tahu bagaimana Bayu kepayah mendudakan rasa sakit yang sejak tadi mencoba menenggelamkan kesadarannya.


"Anak pintar, Ini baru kesayangan Bunda." Ujarnya lagi sembari mengusap kepala Bayu


Bayu tidak tau harus bahagia atau terluka. Ia selalu dianggap sudah dewasa untuk menghadapi dan menyelesaikan semua sendiri. Sementara Wil selalu di perlakukan layaknya seorang bayi. Semua serba di perhatikan.


Yang paling menyakitkan, Bayu diminta untuk tidak terlalu dekat dengan Papa tirinya, tetapi di saat bersamaan dilarang bertemu Ayah Kandungnya juga. Apa sang Bunda sengaja menjauhkannya dari semua orang? Membuat Bayu terasing sendirian.


Luka yang kentara sakitnya tidak melulu yang terjamah jejaknya. Justru yang disembunyikan, dibiar menggerogoti dan mematikan dari dalam.


****


Hari ini Bayu bangun sedikit terlambat karna semalam sakit itu mengejutkannya berulang. Bayu terpejam, nyeri hebat mengusiknya hingga kesulitan untuk memejamkan mata. Lelaki itu baru bisa tidur nyenyak menjelang subuh tadi.


Begitu turun, tak tampak siapapun. Pemuda itu meliarkan pandangan mencari Papa, Kakak, Juga sang Bunda.


"Bunda. " Panggil nya pelan.


Bayu berhenti sebentar. Sebelah tangannya bertumpuh pada meja makan, sementara satunya lagi sibuk mencengkram perutyang belum ada perbaikan. Saat, itu kedua netranya menangkap secarik kertas di atas tudung saji.


Bayu kuat sekolah, kan? Tolong kasih bekal yang udah Bunda siapin buat Kakak, ya. Kakak tadi berangkat pagi-pagi banget sama Papa, Jadi enggak sempet sarapan. Bunda Takut Kakak sakit. Bunda juga harus pergi soalnya anak temen Bunda meninggal. Bayu langsung berangkat, ya!. Pintunya kunci aja, ya? Kuncinya simpan ditempat.


^^^Bunda^^^


Sang Bunda bahkan tak membangunkan atau sekadar menanyakan keadaannya. Apa yang tertulis pun lebih mirip pernyataan di banding pertanyaan.


Sekarang Bayu bingung bagaimana berangkat ke sekolah. Uang jajannya benar-benar habis, dan tidak mungkin juga ia jalan kaki dengan kondisi seperti ini. Apa kali ini Bayu harus merepotkan teman-temannya?.


Pemuda itu mengambil ponsel, lantas mengetik sebuah pesan di grup.


[ Fortius ]


^^^Me^^^


^^^Ada yang masih di rumah engga?^^^


Hanin


Hanindya hadir.


Aries


Modus.


Gue masih dirumah, Ri.


Tapi kayaknya bakalan lebih cepet Hanin.


Sabil


Kasih jalan biar lancar macem jalan tol.


Naren


YANG LAIN MINGGIR.


KASIH JALAN BUAT SCOOPY PINK.


Hanin


APA SIH KALIAN, HA?


SALAH AJA KALAU CECAN MAU BERAMAL.


Arsen


Sambil nyelam, minum baygon.


Naren


Mati bodoh


Arses


Engga anjir.


Ijo doang


Kalian engga percaya?


Aries


Engga.


Sabil


Naren


Sesat percaya sama lo.


Arsen


Engga percayaan.


Nih liat.


Arsen



Hanin



Hanin


Malu gue temenan sama Arsen


Naren


Idem


Sabil


Gue engga ikutan.


Musuhan sama ketua kelas nanti


apa-apa dipersulit.


Aries



^^^Me^^^


^^^Nin, gue tunggu depan rumah.^^^


^^^Gue engga kuat jalan jauh.^^^


Aries


Yung, kalau masih sakit


Istirahat aja dulu.


Arsen


Gue bolos aja gimana?


Gie antar ke rumah sakit tempat


Bokap praktik, deh.


^^^Me^^^


^^^Engga usah.^^^


^^^Lagian hari ini ada ulangan.^^^


****Hanin****


Tungguin gue, ya!


Bayu takkan lupa apa yang dikatakan sang Mama, Sakit tidak boleh dimanja karna nantinya pasti keenakan. Jadi, sepayah apa pun kondisinya sekarang, Bayu tidak akan mengeluh apalagi membiarkan rasa sakit itu mengalahkan takdir.


Mendengar suara klakson di depan, Bayu langsung mengambil bekal untuk sang Kakak, kemudian memasukan kedalam tas.


"Buyung..... Buyung! "


"Bentar, Nin. "


Tepat setelah Bayu berada di hadapannya, kelopak mata Hanin melebar. "Yung, astaga pucet banget. Tante Anggia enggak ada dirumah? Kok lo di biarin sekolah dengan kondisi kayak gini, sihh?


Dengan gerakan cepat Bayu menutup kaca helm Hanin, memutar tubuh gadis itu membelakanginnya, kemudian merangkulnya. "Ayo berangkat! Nanti kita kesiangan. "


...****...


...|Bersambungg|...