
Hai semuanya
Budayakan Vote sebelum membaca
Dan Komen sesudah Baca ya guyss!!!!!
"Biarin aja. Yang ngerti, kan cuma Bayu. Lagian, Bayu engga tinggal sama kita. Dia hidupnya udah enak karena Papa tirinya kaya."
Bayu membekap mulut, kenudian berjalan terhuyung keluar. Pemuda itu membungkuk mengeluarkan isi lambungnya, tidak peduli jika tetangga kontrakan sang ayah melihat kondisinya yang sedemikian menjijikan.
Perutnya sakit, tetapi hatinya jauh lebih sakit. Tidak ada hal menyenangkan seperti yang di sebutkanibu tirinya. Di sana Bayu merasa tetap tersiksa. Cukup membuktikan bahwa harta tak menjamin kebahagiaan seseorang.
Fahmi tergopoh menyusul putranya, lalu memijat pelan tengkuk leher Bayu. "Kamu sakit, Bang? Telat makan lagi, ya? Bundamu engga pernah ngingetin makan? Udah tahu lambungmu itu rewel."
Tak langsung terdengar jawaban. Bayu masih sibuk melayani hasrat mualnya, meski tak ada apapun yang dimuntahkan.
Semula, niat Bayu berkunjung ke rumah sang Ayah hanya untuk beristirahat sejenak dari segala penatnya. Ternyata, disini pun Bayu justru dihadapkan pada situasi yang tak kalah sulit.
Sang Ayah langsung mengulurkan gelas, memberinya minum setelah yakin Bayu tidak akan muntah lagi. Sementara sebelah tangannya tak berhenti mengusap punggung Bayu.
"Maafin Ayah, ya, Nak. Seandainya Ayah punya kerjaan tetap, mungkin kamu bisa disini sama kita."
Bayu menyeka sudut matanya yang sedikit berair, kemudian menatap sang Ayah dengan senyum yang sedikit di paksakan. "Engga apa-apa, Yah. Bunda tetep peehatian kok. Papa Mario sama Kakak juga baik. Nanti kalau ada rezeki, aku main ke sini lagi. Bawa mainan atau makanan buat Adek."
Fahmi mengusap puncuk kepala putranya.
"Aku sekolah dulu, ya, Yah."
"Kalau engga kuat, izin pulang aja, ya, Nak."
Pemuda itu mengangguk, sekadar menenangkan ayahnya. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
*Skipp Jam Pelajaran*
"Yung, ke UKS sana." Arsen berbisik. Berkali-kali kursinya ditendang Hanin dari belakang, hanya karena Arsen tak juga berhasil membujuk Bayu ke ruang kesehatan.
"Rajendra Arsenio, apa orang disebelah kamu lebih menarik di banding penjelasan Ibu di depan?."
Arsen meringis karena tertangkap basah tidak memperhatikan. Kegaduhan yang tercipta karena perdebatan kecil Hanin dan Arsen, berhasil membuyarkan konsentrasinya.
"Ada yang sakit, Bu."
Bu Alifa mengikuti arah pandang Arsen, kemudian berjalan mendekat. "Bayu?"
Bayu hanya bergerak kecil tanpa memberi jawaban. Jangankan menjawab, membuka mata saja berat.
Perempuan berjilbab itu mendaratkan punggung tangannya di pipi Bayu, seketika hawa panas seakan menyengatnya. "Arsen, Aries, Tolong dibawa ke ruang kesehatan aja. Badannya panas banget."
"Alasan aja itu, Bu. Aslinya cuma lagi males belajar sama Ibu, jadi pura-pura sakit."
"Lo emang engga punya otak, ya, Wil? Dia adik lo kalau lo lupa. Bu Alifa sendiri yang bilang Bayu panas kok. Jadi, mana mungkin ini akal-akalannya aja." Naren yang mendengar celetukan Wil langsung terpancing. Ia tidak terima sahabatnya di tuduh macam-macam.
"Sudah! Kenapa kalian malah bertengkar? Coba Bayu dibangunkan, diajak ke ruang kesehatan biar bisa istirahat."
"Yung." panggil Arsen sembari mengguncang tubuh sahabatnya. Namun, Bayu tak memberi reaksi berarti.
Akhirnya Aries bangkit, ia berinisiatif memapah sahabatnya ke ruang kesehetan. Saat berusaha menegakkan tubuh Bayu, sahabatnya itu lebih dulu ambruk.
Bruk....
"Astaga, Yung!"
Sabil, Naren, dan Arsen refleks berdiri diikuti beberapa siswa lain yang tak kalah panik. Hanya Wil yang mematung ditempatnya, tetap tenang, cenderung senang melihat apa yang terjadi pada Bayu. "Dasar lemah," cibirnya pelan.
Hanin yang menangkap basah sosok Wil tengah tersenyum, langsung melempar tatapan tajam. "Engga punya hati dasar." Gadis itu bertutur pelan. Seandainya tidak sedang belajar, Hanin pasti menumpahkan semua ke khawatirannya pada Bintang. Hanya kepada orang itu Hanin bisa berbicara jujur tentang perasaannya.
...|Bersambung|...