
Hai semuanya
Budayakan Vote sebelum membaca
Dan Komen sesudah Baca ya guyss!!!!!
Hati Anggi remuk redam melihat putranya berdiri melamun seorang diri. Kontras dengan kamar Bayu yang hangat dan ramai.
Anggi tak pernah lupa bagaimana jatuh bangun ia meminta hati seorang William. Butuh waktu tak sebentar sampai akhirnya Wil yang dulu begitu kasar, selalu berbuat semaunya, pendiam, dingin, juga penyendiri luluh dan bersedia memanggil mama.
Mungkin ia harus berbicara dengan Bayu agar tak terlalu sering mengajak teman-teman sekolahnya ke rumah. Bagaimanapun, Wil yang tidak terbiasa dengan suasana demikian pasti akan terluka. Anggia tidak ingin Wil merasakan itu.
...****...
Sepulang kerja, orang yang pertama ingin ditemui Mario adalah Bayu. Ia tidak tenang seharian di kantor meninggalkan Bayu yang tengah sakit. Sang Istri menyambutnya di pintu utama, membawakan tas, dan memintanya mandi sebelum makan malam, tetapi Mario memilih langsung bergegas ke atas.
"Bayu."
Bayu yang belum benar-benar tidur, refleks membuka mata.
"Papa."
"Masih sakit, hm? "
Anak itu menggeleng, meskipun kontras dengan raut wajahnya yang sarat akan rasa sakit.
Mario menyibak selimut putranya, dan mendapati sebuah botol berisi air hangat ditekankan di aera perut putranya. Laki-Laki itu menghela napas, Ia sempat mendengar banyak hal sebelum bayu menetap ditempat ayahnya. Masih tinggal bersama Ayah Kandung, Bayu sempat mengalah dan menahan lapar demi adik-adiknya. Ketika perutnya sakit dan tak ada uang untuk berobat pun Fahmi hanya memberikan penanganan seadanya, seperti sekarang bergantung pada botol berisi air hangat untuk menyingkirkan rasa sakit.
Demamnya memang sudah menghilang, tetapi nyeri diaera perut masih begitu kentara.
"Ini masih sakit, ya? " Tanya Mario lagi seraya menekan ulu hatinya. Padahal pelan, tetapi sanggup membuat tubuh pemuda di hadapannya terbungkuk dengan mulut merintih tertahan.
"Enggak perlu Pa. Besok ada ulangan, sayang banget kalau engga ikut. "
"Papa enggak pernah nuntut apa-apa sama Bayu. Engga harus sekeras itu sama diri sendiri. Yang penting itu kesehatannya. "
"Iya, Pa. " Tadinya Bayu hendak menolak, tetapi sakitnya memang luar biasa menyiksa. Daripada harus sampai di rawat seperti dulu dan akhir nya menghabiskan biaya banyak, mungkin lebih baik bayu memeriksakan diri. Toh biaya konsultasi tidak akan sebanyak biaya rawat inap.
"Loh? Papa kok disini Mama pikir ke kamar Kakak. Kakak belum sempat dari tadi, sengaja nungguin Papa pulang katanya. " Ujar Anggi yang baru aja datang.
"Masa, Ma? Papa dari tadi khawatir sama Bayu, jadi cek kondisinya dulu. "
"Temuin, gih. Makanannya udah Mama panasin juga. "
Kepala pria itu terangguk. Ia bangkit dari posisinya, kemudian bergegas ke kamar Wil
Selepas kepergian sang suami, Anggi mendudukkan diri di tepi tempat tidur putranya. "Bayu, Bunda minta tolong jangan terlalu sering ajak temen-temen ke rumah, ya?. Kasian, Kakak dia murung banget waktu temen-temen Bayu kesini. Tahu sendirikan, Kalau Kakak enggak punya banyak temen. "
Meskipun tidak memahami maksudnya, Bayu mengangguk sebagai jawaban.
"Oh, iya satu lagi. "
"Apa, Bun? "
"Jangan terlalu deket sama Papa. Nanti Kakak berfikir kalau Bayu saingannya. Sewajarnya, jangan bersikap manja sama Papa. Besok kalau misalkan udah baikan, kamu sekolah ya lagian penyakit yang terlalu dimanja juga malah betah. Misalkan Papa tanya, bilang aja udah kuat sekolah karna takut ketinggalan pelajaran. Bunda tau kok Bayu anak kuat. "
Lagi, Anak itu mengangguk patuh. Keinginannya untuk memeriksa diri pupus. Benar kata Bundanya, Jika terlalu dimanja penyakit justru betah berlama-lama. Walaupun sang Bunda tidak tahu bagaimana Bayu kepayah mendudakan rasa sakit yang sejak tadi mencoba menenggelamkan kesadarannya.
...|Bersambung|...