
Hai semuanya
Budayakan Vote sebelum membaca
Dan Komen sesudah Baca ya guyss!!!!!
Tubuh Hanin sontak menegang mendengar penuturan Aries. Jadi, selama ini perasaan gua ketahuan, ya? Perasaan gua udah kalem banget.
Hari ini rumah tak sepi seperti biasa. Teman-Teman Bayu datang menjenguk karena ini hari kedua anak itu tidak masuk sekolah. Sebenarnya, kondisi Bayu lebih baik. Namun, sang Ayah tak membiarkannya pergi sampai keadaannya pulih betul.
"Tante tingga sebentar, ya."
Melihat kelimanya mengangguk kompak, Anggi tersenyum, kemudian melangkah keluar dari kamar putranya. Begitu keluar, ia mendapati pintu kamar Wil terbuka. Sementara orang nya sendiri duduk menghadap meja belajar.
"Sayang, udah makan? Belajar terus, rajin banget anak Mama."
Wil tersenyum. "Besok ulangan, Ma. Nanti aja makannya nungguin Papa pulang."
"Papa pulang agak malam lho, nak. Gabung dikamar Bayu gih, Nnti biar Mama bawain camilan buat kalian."
Anak itu menggeleng. Walau pun satu kelas dengan Arsen dan yang lainnya, tetapi Wil tidak merasa dekat dengan mereka. Pasti aneh jika tiba-tiba berbaur.
"Yaudah, nanti biar cemilan buat Kakak dipisah. Jadi, Kakak bisa makan sendiri di sini."
"Makasih, Ma."
Percayalah Wil merasa begitu beruntung memiliki ibu seperti Anggi. Sejak kecil perempuan itu selalu memanjan, dan palinh memahami betul apa maunya. Tidak pernah menbeda-bedakan meski status Wil bukan anak Kandungnya.
"Nih, gua bawain buah-buahan. Mami tadi rempong banget nyuruh bawa banget makanan buat lo. Padahal, gua anaknya aja engga pernahvdi gituin lho. Gua kalau sakit dimasakin bubur doang. Udah kelar."
Wil tahu betul itu suara siapa. Naren, Bahkann orang tuanya saja deket dengan Bayu sampai-sampai bisa sedemikian perhatian.
"Bokap gua tadinya mau ikut, katanya pengen periksa lo. Cuma gua bilang lo udah pergi kedokter. Doi juga ada jaga kebetulan, jadi engga kesini."
"Yang paling engga santay di antara kita jelas Hanin. Kepala gua sampai sakit dia ngoceh terus, " Celetuk Aries.
Sabil mengangguk setuju. "Lo bayangin aja, ya Yung. Hampir per lima menit dia nanya,' Nanti jadi jenguk engga? ' udah gua iyain engga lama nanya lagi."
"Maklum, biji cabe satu-satunya di antara kita. Jadi, emang paling bacot."
Lagi,mereka tertawa. Sementara Hanin langsung mencak-mencak karena merasa tak terima diolok sahabatnya.
Wil bersandar penuh pada dinding dengan tangan terlipat di depan dada. Sejak dulu ia merasa jijik melihat persahabatn Bayu dengan lima orang itu. Bukan karena tingkah aneh-aneh atau kelimanya sungguh melakukan menjijikan, tetapi karena Wil merasa persahabatan adik tirinya itu terlalu solid.
Apakah Wil iri? Mungkin iya. Sejak kecil ia tidak pernah memiliki banyak teman. Bukan meraka tidak mau berteman dengan Wil, justru Wil menarik diri. Rasanya terlalu sulit berdiri ditengah-tengah mereka yang memiliki keluarga sempurna, sementara keluarganya hancur bahkan sebelum Wil benar-benar memahami keluarga itu apa.
Dengan apa Bayu membeli sebuah pertemanan? Bagaimana bisa anak itu dicintai banyak orang, bahkan oleh orang tua teman-temannya. Wil ingin ada diposisi itu. Bayu juga memiliki keluarga tak utuh, tetapi kenapa dia bisa begitu percaya diri berkumpul dengan teman-temannya yang lain? Terlalu banyak tanya yang memenuhi ruang kecil di otaknya. Wil sampai tak bisa membedakana mana bentuk rasa kagum, mana iri.
Hati Anggi remuk redam melihat putranya berdiri melamun seorang diri. Kontras dengan kamar Bayu yang hangat dan ramai.
...|Bersambung|...