
Hai semuanya
Budayakan Vote sebelum membaca
Dan Komen sesudah Baca ya guyss!!!!!
"Engga ada gunanya. Biarin aja." Lirih sekali Bayu menjawab
"Orang kayak gitu harus ngerasain hancur dulu biar perasa. Omongannya engga pernah difilter heran." Naren menimpal. Ia juga ikut jengkel melihat Bayu di perlakukan seperti itu. "Padahal, kalau dipikir lagi dia yang parasit. Parah banget sampai ngambil nyokap lo, yung."
Sabil menatap sahabatnya bergantian, kemudian kembali memfokuskan diri pada ragam tutorial di You Tube. "Biasa, dia merasa di atas."
"Manusia melambung karna pencapaiannya, dan jatuh karena kesombongannya. Cuma tinggal tunggu waktunya aja. Jadi, engga usah berfikir terlalu keras bagaimana cara menjatuhkan orang sombong. Dia akan jatuh karena ulahnya sendiri." Aries yang sedari tadi duduk kalem, akhirnya bersuara.
Di antara mereka, Aries paling tenang dan pendiam. Namun, sekalinya bicara bisa tajam dan menusuk.
Diam-diam Bayu tersenyum. Bukan senang karena sahabatnya membicarakan Wil. Ia hanya sedikit tenang karena paling tidak, ada uang berdiri di pihaknya.
Tak lama, Hanin kembali, bersamaan dengan suara bel yang menggema memenuhi seluruh penjuru sekolah. "Yah, keburu bel. Makan dulu-deh, Yung, sebelum Bu Fatma masuk," Ujar Hanin sembari menyerahkan plastik putih berisi roti dan air mineral.
"Santai. Nanti istirahat gua langsung makan dulu deh."
"Selamat pagi anak-anak."
Semua siswa langsung duduk di bangku masing masing saat perempuan berkaca mata, lengkap dengan rambut terikat rapi, serta lipstik berwarna merah menyala tiba-tiba masuk.
"Tugas yang minggu lalu saya kasih, tolong di kumpulkan. Dalam hitungan sepuluh, semua murid sudah harus mengumpulkan.
Satu.... Dua.... Tiga...."
Sembari Bu Fatma menghitung, satu per satu siswa maju ke depan mengumpulkan tugas mereka, kecuali Bayu. Pemuda itu tampak kebingungan sembari mengacak-acak isi tas nya. Kalau tidak salah ingat, semalam Bayu sudah memasukkan buku kimia nya. Namun, tiba-tiba benda itu hilang tanpa jejak.
"Yung, kenapa?" tanya Arsen yang duduk bersebelahan dengannya.
"Kok bisa?" Lagi, Arsen bertanya, dan Bayu hanya menggeleng sebagai jawaban.
Akhirnya Arsen memasukan kembali buku tugas nya ke dalam tas. Ia berniat tidak mengumpulkan agar Bayu tak sampai di hukum sendirian, meskipun sebenarnya Arsen takut karena Bu Fatma terkenal tegas. Siapa pun yang melanggar aturan mainnya, langsung mendapat hukuman.
"Kurang dua siswa lagi. Siapa yang belum mengumpulkan?"
Bayu dan Arsen kompak mengangkat tangan.
"Rajendra Arsenio, tumben kamu tidak mengumpulkan tugas?"
"Buku saya ketinggalan, Bu."
"Bayu?"
"Buku saya juga, Bu."
"Hebatt. Sebnagku dan buku tugas kalian sama-sama tertinggal. Biar tambah kompak, pemanasan dulu gih dua keliling. Sepuluh menit cukup, ya? Ibu tunggu di kelas setelah hukuman selesai."
Arsen dan Bayu langsung melangkah kompak meninggalkan kelas untuk menjalani hukuman mereka. Meski pun ada tanda tanya besar di kepala Bayu terkait buku tugasnya yang hilang. Apakah Wil lagi pelaku nya???
Di sudut lain, seseorang sibuk mengulum senyum. Ternyata benar kata orang, bahagia itu sederhana. Meliat Bayu mendapat hukuman pada jam pelajaran pertama sudah membuat Wil bahagia luar biasa...
*Skipp Pulang Sekolah*
"Kakak dari kecil udah kehilangan sosok seorang ibu. Wajar kalau Kakak selalu minta di perhatikan. Bayu udah dewasa, harus ngerti kenapa Bunda selalu manjain Kakak. Berat lho, Nak jadi Kakak."
...|Bersambung|...
Kalian mencium bau-bau apa?? Wkwkwkwk.
Harus lanjut engga nihh? Apa udahan aja??