
Hai semuanya
Budayakan Vote sebelum membaca
Dan Komen sesudah Baca ya guyss!!!!!
"Satu-satunya alasan kenapa gua bersikap kayak gini karena gua engga mau loh ada di sini, sama kita."
"Oke, gua terima lo mau melakukan apa pun. Tapi tolong, jangan minta gua jauh dari Bunda."
Wil meninggalkan kamar itu tanpa mengatakan sepatah kata pun. Pemuda itu tersenyum puas usai mendengar ucapan adik tiri nya. Sebahagia itu. Bayu memang mainan yang tidak pernah membuatnya merasa bosan.
Bayu mengunci pintu kamarnya. Kali ini ia berhasil memergoki Wil yang hendak menjahilinya kembali. Bagaimana dengan besok dan seterusnya?
Tubuh pemuda itu terbungkuk saat perutnya yang semula perih berubah nyeri. Bayu berusaha menekan titik sakitnya, tetapi tak memberi efek apa pun. Susah payah ia melangkah ke tempat tidur, berbaring, dan membiarkan malamnya di habiskan dengan rasa sakit.
...***...
..."Yang lebih menyedihkan dari tidak punya rumah sama sekali adalah ketika kamu memiliki dua tempat tinggal, tetapi tetap kebingungan kemana harus pulang. Bukan karena kedua nya sama meminta, justru karena mereka sama-sama tidak mengharapkan kamu ada."...
...|Goodbay-u|...
...***...
*Skipp Pagi Hari*
"Lho, Bayu engga ikut sarapan lagi?"
Anggi menggeleng. "Katanya ada yang mau dikerjain sama temen-temennya. Jadi, pergi lebih cepat."
"Lain kali dibikin bekal, Ma. Seenggaknya bisa sarapan disekolah kalau engga makan di sini. Kasihan lho. Tahu sendiri dari dulu lambungnya bermasalah. Kalau makannya engga disiplin, terus sakit? Mama juga yang repot."
Dalam hati Wil tertawa. Uang? Kemarin Wil memesan banyak makanan di kantin dan membebankan pembayarannya pada Bayu. Uang jajan anak itu tidak lebih banyak dari Wil. Jadi, bisa dipastikan kalau hari ini Bayu bahkan tidak memiliki uang sama sekali.
Mario geleng-geleng. Mungkin itu yang memicu lambung Bayu bereaksi keras. Kebiasaan baruk yang di ciptakan sejak kecil. "Pokoknya mulai besok siapin aja. Mau anak-anak sarapan dulu atau engga, siapin bekal."
Wil mengepal tangan. Hanya karena Bayu suasana meja makan pagi jadi tidak nyaman. Biasanya mereka baik-baik saja. Hangat dan tetap bisa bercengkerama di sela-sela kegiatan makan. "Papa jangan marah sama Mama dong. Mama engga salah lho. Mama udah bangun dari pagi buta demi nyiapin sarapan. Kalau Bayu engga mau makan dulu, ya, itu bukan salah Mama. Kenapa Mama hars repot dua kali bikin bekal buat dia? Manja banget."
"Wil, mulutnya. Biar bagaimana dia itu adikmu. Kamu juga berkewajiban menjaga dia." Tegur Mario.
Anggi tau Wil benar-benar kesel. Perempuan itu segera mendekat, mengusak puncuk kepala putra kesayangannya, lalu berbisik, "Jangan di tekuk gitu mukanya. Jelek lho, Ayo senyum dulu."
Wil memaksakan seulas senyum, meskipun ia masih sangat kesal pada Papanya.
"Sarapannya di habisin, ya Kak."
"Iya, tapi Mama jangan sedih."
Anggi tertawa. "Mana mungkin Mama sedih kalau setiap hari ketemu anak-anak Mama yang ganteng."
Di tempat lain, Bayu pun sedang melakukan hal yang sama. Bedanya, tidak ada makanan mewah seperti yang selalu di sajikan di rumah Papa tirinya. Hanya ada nasi putih, tempe, dan sayur asem.
"Habisin makananannya, Bang. Maaf seadanya. Ayah kamu belum ngasih uang belanja. Beras aja tinggal sedikit dan sekarang di bagi buat berenam. Bayangin aja, susunya Bian habis, beras habis, Delta maunya jajan terus, Huda banyak kebutuhan sekolah yang harus dibeli. Kepala Ibu rasanya mau meledak. Mana ayahmu gajiannya engga kelas. Kadang cepat, kadang telat banget. Kalau telat banget, ya adik-adikmu engga makan, Bang." Papar Viona sambil menyuapi si bungsu.
Makanan yang belum sempat tertelan, mendadak pahit di mulut Bayu. Perutnya pun mual. Ada rasa bersalah yang merambat memenuhi dadanya, mengundang sesak, mencetak sakit yang tak terjemah netra. Apalagi membayangkan adik-adiknya masih kecil sampai tidak makan.
"Ibu tuh semua diomongin didepan anak-anak. Mereka belum pantas mendengar apa yang barusan Ibu omongin. Susahnya kita, cukup kita aja yang tahu."
"Biarin aja. Yang ngerti, kan, cuma Bayu. Lagian, Bayu engga tinggal sama kita. Dia hidupnya udah enak karena Papi tirinya kaya.
...|Bersambung|...