
Hai semuanya
Budayakan Vote sebelum membaca
Dan Komen sesudah Baca ya guyss!!!!!
"Mulai hari ini, Bayu tiga hari sama Bunda dan sisanya dirumah Ayah. Tapi, Bayu harus janji satu hal.
Bocah kecil dengan ransel di punggungnya mendongak, kemudian menatap sang Bunda dengan tatapan lugu dan sarat akan rasa ingin tahu. "Apa, Bun?"
Perempuan itu menunduk menyamakan posisi dengan anak laki-laki yang di panggil Bayu. "Dirumah Bunda nanti Bayu enggak sendiri. Ada Kakak. Sejak berumur tiga tahun, Kakak udah enggak punya ibu. Jadi, Bayu harus ngalah dan menuruti apa pun yang Kakak mau. Janji? " Ujarnya kemudia seraya mengacungkan kelingkingnya.
Bayu tampak berpikir. Bundanya selalu mengatakan bahwa janji kelingking itu tanda jika yang terikat didalamnya tidak boleh mengingkari. Seserius itu. "Bunda sayang Kakak?" Bukannya menyambut seperti biasa, Bayu justru lebih dulu melempar tanya.
"Sayang."
"Kalau aku nakal sama Kakak Bunda sedih?"
"Sedih. Jadi, Bayu jangan nakal, ya?"
Akhirnya anak laki-laki itu mengaitkan kelingking mungilnya pada kelingking sang Bunda. "Oke, Aku enggak nakal. Nanti kalau nakal Bunda sedih."
Sebuah senyum tersungging dari bibir perempuan itu. Tangan mulusnya terulur mengusak puncak kepala putranya. "Good boy. Ini baru anak Bunda."
"Tapi Bunda sayang aku juga. 'kan?"
"Sayang dong."
"Sayang aja?"
"Sayang banget... banget... banget!" teriak anak itu sembari melompat semangat, sementara tangannya bergerak seolah tengah berusaha menggambarkan bahwa rasa sayangnya begitu besar.
*Skipp pagi nya*
"Sarapann dulu, Kak"
Bayu yang sudah lebih dulu duduk di ruang makan langsung menoleh mengikuti arah pandangan Bundanya. Ia melihat Wil hanya berdiri pada anak tangga terakhir, tampak tak berminat melebur bersama mereka. Bayu tahu betul alasannya.
Pemuda itu melirik sang bunda, gurat kesedihan tampak kentara di wajah perempuan itu. Meski tak bicara langsung, tetapi dari bagaimana Wil menatapnya, Bayu bisa langsung menarik kesimpulan bahwa Wil tidak ingin Bayu ada di tengah-tengah mereka.
"Ah, Bunda. Aku lupa sekarang giliran piket kelas. Hanin pasti ngamuk kalau aku telat," Ujar Bayu seraya menyampirkan tas di bahu.
"Pamit dulu ya, Bun, Pa," lanjutnya. Bayu bangkit, lantas menyalami orang tuanya.
"Sarapan dulu, Nak. Toh ini masih pagi. Kamu bisa berangkat bareng sama Papa atau Kakakmu biar enggak telat."
Menangkap sorot mata Wil yang berubah menjadi menatap tajam padanya, Bayu langsung menggeleng.
"Makasih, Pa, tapi aku serius takut singa betina itu ngamuk."
Mario terkekeh, Kemudian menghadiakan kecupan lembut pada puncak kepala Bayu. "Yaudah, tapi nanti sarapan disekolah. Ingat lho, nanti lambungnya kumat."
Bayu memaksakan seulas senyum. Ia merasa bahwa hangat karena setidaknya ada yang sedikit perharian dibanding sang Bunda. Perempuan itu hanya berdiri mematung, bahkan secaraa tidak langsung menyuruhnya untuk segera pergi juga.
Dugaan Bayu tak pernah meleset. Baru beberapa langkah kakinya terayun meninggalkan rumah, Wil mendekat ke meja makan, Dan selanjutnya mereka bercengkerama di sela kegiatan makan masing -masing, seolah hanya mereka yang terikat, Sementara Bayu orang asing.
Tepat saat ia berjalan meleeati gerbang uama rumah ayah tirinya, Kemudiam berbelok menuju halte, Bayu mendengar bunyi klakson. Refleks ia menoleh dan mendapati gadis manis dengan scoopy merah muda tersenyum lebar kearahnya.
"Buyungggg!" Gadis itu bahkan tak malu berteriak nyaring
...|Bersambung|...