Goodbay-u

Goodbay-u
Episode2



Hai semuanya


Budayakan Vote sebelum membaca


Dan Komen sesudah Baca ya guyss!!!!!


"Buyungggg!" Gqdis itu bahkan tak malu berteriak nyaring.


"Berisik anjirr. Bikin malu aja."


Hanindya Akira, gadis berambut panjang itu mencebik kesal. "Butuh tebengan ngga?"


"Tapi boncengin gua, ya?"


Sebelah alis Hanin terangkat. Tidak biasanya Bayu bersikap seperti ini. Lelaki itu selalu menolak dibonceng dengan motor merah muda milik Hanin, bahkan dalam keadaan sakit sekalipun. Namun, kali ini justru Bayu yang meminta. Tak mau ambil pusing, Hanin langsung meminta Bayu naik. "Yaudah, ayo!"


Bayu langsung naik tanpa mengatakan apa pun lagi. Sejujurnya, ia lelah dengan semua yang terjadi selama ini. Rasanya ingin pergi sejauh mungkin, menyingkir dari sumber rasa sakitnya.


Tubuh gadis itu menegang saat tiba -tiba Bayu menyandarkan kepala di punggungnya. Hanin tahu, ada beban berat di pundak sahabatnya. Bayu lelah, tetapi tidak pernah bisa menyuarakannya. Sakit, tetapi bahkan tak sanggup pergi.


"Yung, nanti di jalan Athena gua ngebut, ya? Lo triak dehh sepuasnya. Engga apa -apa di anggap sinting. Gua tetap bangga kok punya sahabat sinting."


Bayu mengangkat sebelah tangan, dan tanpa membuka mata lelaki iku memukul pelan helm yang di kenakan Hanin. "Lo kalau mau di kira sinting, ya, sendiri aja. Jangan ngajak gue."


Hanin spontan tertwa. Setidaknya guyonan krenyes -nya berhasil membuat Bayu bersuara. Dengan begitu Hanin bisa memastikan bahwa sahabatnya baik -baik saja. Jika Hanin menjadi Bayu, mungkin Hanin sudah memilih menjadi gelandangan di banding hidup bersiram kemewahan tetapi di saat bersamaan harus rela terikat dengan rasa sakit.


"Yung, kalau ada apa -apa cerita aja. Ada gue, Arsen, Aries, Sabil, sama Naren. Biarpun kadang ngeselin, tapi kita bisa kok jadi pendengar yang baik. Engga semua luka bisa lo simpen sendiri."


"Iya, bawel."


Wil sempat melirik sosok Bayu dengan ekor mata nya. Seperti biasa, anak itu duduk bergerombol. Ada Arsen si ketua kelas, Hanin si bendahara, Aries si ketua ekstrakurikuler musik, Sabil si murid biasa yang memiliki kreativitas tinggi, dan Naren si anak sultan. Pemandangan yag selalu berhasil membuat Wil muak. Baginya, Bayu tidak pantas mendapatkan semua itu.


"Gua mau ke kantin, mau nitip?"


Sayup -sayup Wil mendengar Hanin bersuara memecah keheningan.


"Roti satu dong, Nin. Gua engga sempat sarapa tadi." Gantian Bayu yang bicara.


"Mau roti apa bubur aja? Udah ada kok jam segini. Mumpung belum bel juga."


"Roti aja."


"Oke."


Bersamaan dengan keluarnya Hanin, Wil bangkit, menggeser kursi dengan kasar mengundang perhatian dari seisi kelas, tak terkecuali Bayu dan sahabat-sahabatnya.


"Wihh, santai. Kenapa Bos? Ada yang bikin lo kesal?" Tanya Jeno pada sahabatnya.


"Engga. Jijik aja sama parasit yang nempel sana sini. Engga dirumah, engga di sekolah dapat aja inangnya."


Tangan Arsen terkepal kuat. Ia tahu betul kepada siapa sindiran itu ditunjukan. Pemuda itu bangkit dari duduknya, hendak maju dan mempertanyakan maksud ucapan teman sekelasnya. Namun, Bayu menahan pergerakannya. "Lo itu harus melawan. Jangan mau di injak-injak. Dia punya masalah apa sih sama lo? Hobi banget bikin keributan."


Andai bisa, Bayu sudah melakukannya sejak lama. Namun, semua menjadi sulit karena Bayu mempertimbangkan banyak hal, terutama perasaan ibundanya. Menyakiti Wil Sama seperti menyakiti sang bunda. Bayu tahu bagaimana perempuan itu menyayangi kakak tirinya, lebih dari menyayangi Bayu yang berstatus anak kandung.


"Engga ada gunanya. Biarin aja." Lirih sekali Bayu menjawab.


...|Bersambung|...