Goodbay-u

Goodbay-u
Episode10



Hai semuanya


Budayakan Vote sebelum membaca


Dan Komen sesudah Baca ya guyss!!!!!


Bayu tak menanggapi, hanya tersenyum kecil sebagai jawaban. Gua tahu, sekecil apapun, rasa sayang itu pasti ada.


"Papa sekarang lebih sayang Bayu."


Mario manautkan alis begitu mendengar pertanyaan yang meluncur dari bibir putranya. Ia baru saja keluar dari kamar Bayu, dan langsung dihadapkan dengan Wil yang sepertinya sengaja menunggu. Lelaki itu mengulur tangan mengusap kepala putranya. "Kenapa tanya begitu?"


"Papa perhatian banget, aku engga suka."


"Bayu lagi sakit, Nak. Masa Papa engga boleh perhatian? Lagian dia adik kamu lho, Kak. Kalau Kakak sakit juga Papa sama perhatiannya," Terang Mario. Semalem Mario memang terjaga hanya untuk memantau kondisi Bayu. Mungkin Wil yang melihat jadi salah menerjemahkan.


"Dia bukan adik aku."


Sebelum memberi jawaban, lelaki itu menghela napas. Sebenarnya, Tidak bisa untuk dominan.


"Kalau Mama Anggi jadi Mama kamu, berarti Bayu?"


"Adikku."


Mario tersenyum. "Percaya sama Papa, engga akan ada yang berubah, Kak. Papa sayang kalian berdua. Engga ada yang dibeda-bedakan. Kalaupun sekarang Papa lebih perhatian, itu karena adik kamu lagi sakit. Coba masuk, badan Bayu panas dan engga mau makan apa-apa dari semalem."


"Dia sengaja biar Papa lebih sayang sama dia daripada aku. Tahu gitu aku sakit parah aja sekalian biar Papa engga sayang sama siapapun selain aku."


"Hush, mulutnya. Bayu engga seburuk itu, Kak. Mana ada orang sakit disengaja."


"Ada, dia buktinya. Dia sakit biar diperhatiin semua orang."


Lelaki itu geleng-geleng. Tanpa mengatakan apa pun ia menarik tangan putranya, mengajak Wil masuk ke kamar Bayu. Mario mendudukkan Wil ditempat tidur, kemudian mengarahkan tangan anak iti menyentuh dahi adik tirinya.


"Panas, 'kan?"


Wil menarik tangannya, kemudian mengangguk. Cukup lama pemuda itu diam, mengamati lamat-lamat wajah adik tirinya. Bayu tidur dengan gelisah. Matanya terpejam, napas tak beraturan, keringat pun membanjiri tubuhnya.


"Engga mau makan?"


"Tuh, makanannya masih utuh. Kakak mau coba bujuk?"


Mario tak langsung menjawab.


Ditatap seperti itu, Wil jadi gugup. Bergantian ia menatap Papa dan Adik tirinya, lalu memutuskan. "Yaudh, Sebentar aja. Kalau mau makan, nanti Papa yang terusin."


"Oke."


"Woi," panggil Wil pelan sembari mengguncang tubuh Bayu.


"Astagfirullah. Kakak, masa gitu banguninnya?"


Bibir pemuda itu mengerucut. "Ya terus gimana, Pa?"


"Bayu Bangun." Mario mencontohkan. "Atau begini lebih enak, De bangun."


"Dihh, apaan sok manis."


Mario terkekeh.


"Bayu, bangun."


Bayu melenguh, mengerjai beberapa kali sebelum benar-benar membuka mata. "Ka-kak..."


"Makan, dulu. Katanya lo belum makan dari semalem. Nanti kalau masuk rumah sakit, bikin susah orang."


Meskipun belum cukup kuat sekadar untuk menegakkan tubuhnya, Bayu memaksakan diri. Ia tidak mau membuat Wil marah.


Wil mengambil mangkuk bubur diatas meja kecil samping tempat tidur Bayu, lalu bertanya, "Bisa sendiri gak??"


Bayu mengangguk.


"Kak, disuapin dong, Adiknya lemas gitu, gimna sihh?"


"Dasar ngelunjak! Kendati hatinya memaki, tetapi Wil tetap menuruti sang Ayah. "Yaudah, sekarang gua suapin. Daripada lo makan sendiri terus satu suapan ngabisin waktu lima menit, mending gua aja. Buka mulutnya."


Jujur saja Bayu ingin tertawa melihat Kakak tirinya salah tingkah seperti itu. Namun, ia memilih menikmati saat Wil memasukan sesuap demi sesuap bubur ke dalam mulutnya. Ajaib, rasa pahit dilidah, bahkan mual yang mengganggu hingga membuat Bayu kesulitan untuk menelan makanan, seolah lenyap begitu saja. Mungkin karena perasaan bahagia yang lebih dominan dibandingkan rasa sakitnya.


"Kakak hebat deh bisa bilin adiknya mau makan," puji Mario. Ia tahu, sekecil apapun cara nya mengerpresiasi usaha anak itu, pasti berdampak besar untuk Wil.


..."Bersambung"...