
Hai semuanya
Budayakan Vote sebelum membaca
Dan Komen sesudah Baca ya guyss!!!!!
Demi apapun, apakah sang Bunda tidak bisa berhenti bicara sebentar? setidaknya jangan menyinggung sesuatu yang membuat Bayu merasa semakin tidak terima
"Bunda bicara dari tadi kok Bayu diam aja? Dengar enggak? " Lagi, Anggia bersuara sembari melanjutkan memasak.
"Dengar, Bunda, " Sahut Bayu pelan.
"Bagus. " Sembari menuangkan bumbu kedalam wajan, Anggia bicara lagi, "Didikannya Ayahmu jangan dibawa kesini. Ayahmu itu pemalas, makanya sekarang hidupnya susah. Bayu jangan bikin Bunda malu, Harus lebih semangat dan punya jiwa kompetitif. Tapi jangan sampai bikin Kakak sedih karena merasa kalah. "
Bayu harus menjawab apa? Disatu sisi sang Bunda memintannya untuk lebih kompetitif, tapi di saat bersamaan Bayu juga harus selalu mengalah pada Wil.
"Makanannya agak pedes enggak apa-apakan, Nak? Wil suka banget pedes soalnya. Bunda seneng banget kalau misalkan lihat Kakakmu makannya lahap. "
Mendengar sang Bunda begotu antusias dan terdengar bahagia mengatakannya, lagi-lagi Bayu hanya mengatakan iya.
"Kemarin waktu lamu ke rumah Ayah, dia ngasih uang enggak? Kalau ngasih, disimpan buat bulan depan biar Bayu enggak usah minta uang jajan sama Papa Mario. Cukup buat kebutuhan sekolah aja. "
Pemuda itu menegakkan tubuh, berusaha menahan cairan asam yang merangsak naik kr kerongkongannya.
Tapi, Bunda enggak yakin sih dia ngasih kamu uang. Orang buat makan aja masih utang sana-sini, Mana mampu ngasih kamu uang buat jajan. "
Tangannya bergerak membekap mulut. Meski sudah terasa di ujung, tetapi anak itu masih berusaha menahan diri agar tidak muntah.
Bayu tak bisa menahannya lagi. Sedikit tergopoh-gopoh, pemuda itu berusaha mengayunkan kakinya ke arah kamar mandi. Sayang, lambungnya bersikap kurang ajar. Sebelum sempat Bayu menjejakkan kedua kaki nya di kamar mandi, isi lambungnya lebih dulu berontak. Bayu muntah.
"Astagfirullah. Bayu, kok muntah disitu sih? kenapa enggak kekamar mandi coba. Kamu bukan anak kecil lag lho. Kenapa sihh kayak bocah begini? Ya ampun, gimana kalau Papa sama Kakak keburu pulang? Bisa engga nafsu makan mereka karena ini. "
Sudut matanya berair. Selain sakit, Hatinya pun perih. Sang Bunda justru memarahi di saat Bayu benar-benar membutuhkan perhatiannya. "Ma--maaf, Bun.... " Lemah sekali suara yang terdengar, tetapi tak juga membuat hati sang Bunda ternyuh.
"Ayok ke kamar mandi. Ya Allah, Nak. Bayu nambah-nambahin kerjaan Bunda aja. Harusnya bilang dong kalau mau muntah begini. "
Bayu tidak bisa merasakan apa-apa, selain tangan dan kakinya yang terasa dingin. Tangannya menggapai-gapai mencari pegangan, tetapi sang Bunda justru melangkah kebelakang hendak mengambil alat pel. Karena posisinya berada di tengah ruangan, jauh untuk sekedar berpegangan pada dinding, Bayu kehilangan keseimbangan, Pemuda itu jatuh.
"Bayu! "
Itu bukan suara sang Bunda, Bayu hafal betul. Yng jelas suara laki-laki. semakin lama, meskipun goncangan ditubuhnya kian brutal, tetapi suara orang-orang di sekelilingnya justru menghilang, bersama dengan kesadarannya yang juga tenggelam.
...****...
"Aku kan Wanti-wanti dari semalam, tolong bawa Bayu kerumah sakit. Aku udah janjian juga sama dokternya. Kalau aku engga ada metting juga aku yang bakal antar dia. Aku yang enggak setiap waktu sama dia aja sadar lho ada yang aneh sama tubuhnya. Masa kamu Bundanya enggak sadar itu? "
"Bukan salah aku, Mas. Bayu engga bilang kalau dia sakit. Jadi, aku pikir dia baik-baik aja. "
Mario berdecak sebal. "Bayu engga berkewajiban menjelaskan kamu sebagai Bundanya pernah nanya enggak dia kenapa? Apa yang sakit? "
...*****...
...|Bersambungg|...