
Hai semuanya
Budayakan Vote sebelum membaca
Dan Komen sesudah Baca ya guyss!!!!!
"Bukan salah aku, Mas. Bayu engga bilang kalau dia sakit. Jadi, aku pikir dia baik-baik aja. "
Mario berdecak sebal. "Bayu engga berkewajiban menjelaskan kamu sebagai Bundanya pernah nanya enggak dia kenapa? Apa yang sakit? "
Anggia diam. Hatinya sakit karena untuk pertama sang suami marah sampai seperti ini. Parahnya lagi, lelaki itu memarahinya di depan banyak orang. Ada dokter, perawat, Will, pasien, dan keluarganya, mengingat mereka saat ini masih di IGD. "Maaf. "
"Minta maaf sama Bayu, bukan Aku. Aku cuma mengingatkan supaya kamu engga menyesal kalau sampai terjadi sesuatu sama dia. "
Sayup-sayup Bayu mendengar pertengkaran itu. Hal pertama yang menyambutnya ketika sadar. Namun, ia masih enggan membuka mata. Bayu merasa bersalah karena sudah membuat sang Bunda dimarahi sampai seperti itu. Seharusnya Bayu lebih kuat. Tidak sakit seperti ini.
"Dok, tolong lakukan yang terbaik. Kalau perlu, periksa secara menyeluruh. Anak saya ini belakangan sering kambuh lambungnya. Saya takut terjadi apa-apa, Masalah Administrasi langsung bicara sama saya. Jangan melalui siapapun dulu. " Tegas Mario. Ia tahu betul sang istri pasti berdalih tidak enak karena merepotkannya. Padahal, Mario sama sekali tidak pernah berfikir demikian. Wil dan Bayu sama-sama putranya. Jadi, mereka harus mendapatkan yang terbaik.
Lelaki itu pergi sebentar untuk mengurus administrasi, menyisahkan Bayu dan Anggia yang masih menunggu ruangan untul rawat Inap.
Dengan berat, Bayu membuka mata. Pandangannya teralih pada Sang Bunda yang kini terisak di sisi ranjang. Apakah Bundanya merasa khawatir?
"Bunda. "
"Bagus kalau Bayu udah bangun. Makasih karena hari ini Bayu berhasil bikin Papa semarah itu sama Bunda. "
Tajam dan menusuk..
"Maaf, Bunda.. "
"Engga apa-apa. Selama kamu tinggal sama Bunda dan terus berulah, Bunda mungkin membiasakan diri dimarahi setiap waktu. "
Mata pemuda itu memerah. Bibir tergigit. Berdasarkan apa yang dikatakan Bundanya barusan, Bayu menyimpulkan kalau kehadirannya memang tidak diharapkan. Apakah Bayu harus pergi? Kemana? Tidak mungkin ia kembali ke keluarga sang Ayah yang serba kekurangan. Bayu tidak ingin merepotkan. Namun, tetap tinggal ditempat ini pun rasanya menyiksa dan hanya membuat Bayu diperbudak rasa sakit. Lalu, Bayu harus apa sekarang??.
...*****...
^^^Me^^^
^^^Yah?^^^
Ayah
Kenapa, Bang?
Ayah masih kerja engga bawa
^^^Me^^^
^^^Engga apa-apa, Bu.^^^
Ayah
Kalau bisa, jangan terlalu
Sering telpone atau chat Ayah.
Bundamu itu lho mulutnya engga
bisa dijaga.
Ayah
Kalau Abang sayang sama Ayah,
nurut kata Ibu.
Emang Abang mau Ayah dihina-hina
terus?
Jaga jarak dulu dari Ayah.
Tanpa membalas, Bayu menyimpan kembali ponselnya, kemudian menenggelamkan kepala di balik selimut rumah sakit. Rasanya sama hampa, seperti tertolak bahkan sebelum meminta. Dadanya sakit sekaligus sesak, terhimpit beban yang tak pernah sanggup disuarakan.
Ruang ini sepi karena semua orang pergi. Sang Bunda pergi makan dengan Wil, sementara Papa tirinya pulang dulu kerumah hendak membawa beberapa berkas kerjanya karena malam ini lelaki itu berencana menginap dirumah sakit untuk menjaga Bayu.
Bayu merasa bersalah. Setelah menyanggupi membayar seluruh biaya pemeriksaan yang pastinya tidak sedikit pria itu juga bersedia menjaganya.
"Udah enakan, Nak? "
Bayu menoleh kesumber suara, dan memdapati Papa tirinya yang baru saja sampai, melangkah mendekatinya. Anak itu mengangguk meski samar.
Mario menyeret kursi kecil, duduk, kemudian menggenggam jemari tangan putranya yang terasa begitu dingin. "Lain kali kalau sakit jangan di tahan, ya? Bilang aja. Kalau Bunda enggak mau denger, Bayu bisa telpon Papa. Papa pasti langsung pulang. "
"Bunda enggak salah, Aku yang salah. Jangan marah sama Bunda, Ya Pa. "
Belum sempet Mario menjawab, suara perut Bayu lebih dulu menghentikannya. Pria itu bergerak mengusap perut putranya, yang terasa panas dan kaku. Pasti sangat tidak nyaman. "Bayu lapar? Mau coba makan engga? "
......|Bersambungg|......