Goodbay-u

Goodbay-u
Episode20



Hai semuanya


Budayakan Vote sebelum membaca


Dan Komen sesudah Baca ya guyss!!!!!


Hati Mario sakit mendengar ucapan terima kasih yang sebenarnya tak perlu. Sudah tugas orang tua memastika apakah anaknya baik-baik saja atau tidak. Lelaki itu tak mengeluarkan sepatah kata pun, apalagi meminta Bayu berhenti menangis. Mario tahu, yang dibutuhkan hanya tempat untuk bersandar. jadi, ia memilih mengeratkan peluk.


Wil yang sedaei tadi berdiri dibalik pintu turut merasakan sakit. Bukan lagi karena iri, tetapi kasihan. Perasaan bersalah menyeruak hebat mendengar tangisan adik tirinya. Tidak seharusnya Wil bersikap kekanak-kanakan dengan merenggut seluruh atensi keluarganya, sengaja melupakan bahwa ada Bayu yang juga mrmbutuhkan kasih sayang. Apakah terlambat jika saat ini ia ingin mengembalikan semua yang seharusnya milik Bayu? Anak itu benar Wil tidak boleh egois. Suka atau tidak ia Harus memulai membuka mata untul melihat luka orang lain.


"Kakak? " Pelan sekali anggia memanggil, tetapi membuat Wil terperanjat dari posisi nya.


Pemuda itu mengambil langkah, menjauh dari pintu. Dengan tergesa-gesa pula memghapus jejak air mata di pipinya. "Mama. "


"Kenapa berdiri disini, Nak? "


"Ah, Aku harus pulang dulu. Nanti malam aku kesini lagi. Bilang sama Papa, ya Ma. "


Usai berkata demikian, putranya benar-benar pamit. kini menyisahkan tanda tanya imajiner di kepala Anggia. Ia bukan tak melihat anak itu menangis, tetapi enggan bertanya tergesa karena tahu Wil pasti tidak suka.


Begitu mengintip, Anggia tengah melihat suami memeluk putranya. Apakah itu yang membuat Wil menangis? Mengapa Bayu tidak menuruti permintaannya untuk menjauh dari Mario? Padahal, ini demi kebaikan semua orang.


...*****...


"Maksud kamu bilang gini sama Bayu apa, buk? Tahu sendirikan Anggi Gimna orang nya. Bayu mau lari kemana lagi kalau kamu nyuruh dia jaga jarak dari aku juga? " Fahmi terkejut karena begitu membuka ponselnya, ia mendapati beberapa pesan yang dikirim Viona pada Bayu.


"Aku salah kalau belain kamu? Aku engga suka kamu dihina-hina terus sama Anggia! "


Fahmi menghela napas lelah. Sehatrusnya hari itu ia tidak mengatakan semua pada sang istra. "Tapi, engga gitu caranya. Kita sama- sama tahu bagaimana Anggia memperlakukan Bayu. Mereka cuma menang kaya, Masalah perhatian Nol besar. Aku mungkinn engga bisa memenuhisemua kebutuhan Bayu dari segi materai, tapi aku bisa memberikan kasih sayang dan perhatian yang engga Bayu dapet dari mereka.


Viona menghentikan kegiatannya mengelap meja, kemudian beralih padang menatap sang Suami. "Aku cuma melindungi harga dirimu biar engga di injak-injak sama Anggia. Dia itu keterlaluan, Kayak engga makan didikan orang tuanya. "


"Bu, jaga mulutnya. Anggia emang enggak punya keluarga sejak SMA. Aku enggak membenarkan apa yang dia lakukan, tapi aku juga engga bisa sepenuhnya menyalakan dia. Almarhum Bapak juga mendesak kami memikah saat usia dia masih sangat mudah. Jadi, Begitu dia mulai dewasa dan bisa mendapatkan segalannya setelah kehidupan kami yang sulit, dia benar-benar merasa dia atas angin. "


Perempuan itu menenggelamkan kepalanya diatas tangan yang terlipat. Viona tidak punya maksud jahat pada Bayu. Ia hanya merasa tertekan. Ditambah Anggia menghina suaminya habis-habisan, membuat Viona semakin meradang.


Fahmi mendekap sang istri, mengucap maaf berulang kali. Ia merasa bersalah karena kondisi keluarga mereka saat ini, tetapi tak bisa melakukan apa-apa.


...|Bersambungg|...