F'Relin

F'Relin
9.



Jam kosong yang ada di sekolah hari ini kumanfaatkan untuk ke kantin bersama Leya. Saat aku berjalan ke kantin, aku melihat Revaldo dengan kaos olahraga. Ia nampak lelah karena terlihat keringat menetes dari wajahnya. Ia tidak sadar jika aku lewat. Ia tengah istirahat bersama teman-temannya.


"Lin, beliin minum sono Revaldo." Perintah Leya sambil menyenggol-nyenggol tanganku.


"Harus gue banget?" Timpalku.


Aku kembali lagi melewati Revaldo bersama Leya. Aku menggenggam sebotol air es. Leya pastinya sudah menikmati makanannya di kantin tadi.


Tiba-tiba Revaldo datang menghampiriku. Aku nampak kaget dengan kehadirannya.


"Lin, aku mau yang kayak kemarin dong." Pinta Revaldo padaku. Aku tidak paham dengan apa yang ia bicarakan.


"Hah?" Aku menyipitkan mataku. Sedangkan Leya sudah berpikiran tidak-tidak sambil mencubiti lenganku memberi kode agar aku mau menceritakannya padanya.


"Kak Rev, haus gak? Ini aku bawain." Tiba-tiba seorang perempuan mendekati kami. Ia menyodorkan minuman pada Revaldo.


Tunggu. Bukankah dia sekelas denganku? Bahkan seangkatan saja segala harus dipanggil 'kak' ?. Lebay sama seperti Keyra. Memang dia adalah teman akrab Keyra. Yang menjadikan Keyra berfikir tentang laki-laki adalah dia. Risya. Entah demi apapun aku membenci dia. Jangan berfikir bahwa dia itu teman, dia bahkan tak layak disebut seperti itu.


Dia tidak bisa dikatakan teman, dia tidak bisa menjaga rahasia temannya dengan baik. Dia mengumbar semua apa yang seseorang miliki tanpa tahu jika dia itu telah mengolok-olok temannya sendiri. Saat di kelas aku hanya memasang topeng peduli padanya saat dia baik padaku.


Jika dia pandai memalsukan wajah kenapa aku tidak?.


"Eh Dek. Gue udah punya." Revaldo pun mengambil botol yang kupegang dan meninggalkan kami.


'What? Drama apa yang barusan kulihat?'


Sepeninggal Risya, aku semakin tidak yakin jika Revaldo lelaki yang baik. Bukan. Aku tahu, Risya bukan adik Revaldo. Memang, dia dulu pernah akrab dengan Revaldo. Dan mulai kemudian terbiasa dengan panggilan itu. Aku berfikir bahwa Revaldo memiliki banyak wanita diluar sana. Aku mulai sakit hati bila ia dekat perempuan lain. Hatiku seperti egois. Aku tersiksa.


"Felin, dipanggil Bu guru mami tuh disuruh ke kantor." Seorang lelaki menghampiriku.


"Kenapa Lin? Lo gak buat salah kan kemarin?" Tanya Leya. Saat kutanyai balik, lelaki itu sudah tidak ada didepanku.


"Enggak lah. Gue ke kantor dulu Ley." Aku meninggalkan Leya. Sedangkan Leya berjalan menuju kelas.


Tok tok...


"Felin, masuk aja." Perintah Bu guru mami padaku. Aku terkejut setelah melihat sekeliling ternyata Revaldo juga ada disana. Ia tidak lagi mengenakan kaos olahraganya. Ia sudah berganti baju dengan baju hari ini saat sekolah. Cepat sekali.


"Besok kalian tau kan kalo ada  perlombaan futsal, berhubung ketua ekstra izin karna kepentingan. Jadi Felin bantuin buat besok ya. Tenang, nanti juga dibantuin Revaldo sama yang lain juga." Jelasnya padaku dan Revaldo yang ada di ruang itu.


"Selain saya emang gabisa Bu?"


"Kalo ada udah saya panggil daritadi. Ini perintah guru kamu. Jangan ngebantah." Padahal kan aku bertanya dengan sopan--eh kok marah.


"Lin nanti pulang sekolah liat buku yuk." Revaldo membuka percakapan diantara kami.


"Di kelas juga liat buku." Jawabku tak menoleh padanya.


"Bukan itu maksud aku. Yang ini beda. Kalo gak mau gakpapa. Aku ajak temen aku aja." Kemudian aku berfikir bagaimana jika nanti yang dia ajak ialah Risya? Siapa tahu semenjak tadi Revaldo juga ingin berbicara pada Risya.


"Boleh." Jawabku singkat.


"Beneran nih." Revaldo menatapku dengan penuh kegirangan. Aku menanggapi dengan deheman saja.


"Emang lo suka baca buku?" Tanyaku membuat Revaldo mengurungkan senyumnya.


"Enggak."


"Dih. Sok-sok an." Jawabku seakan menghinanya. Ia hanya membalas dengan senyumannya.


"Lin, aku mau kamu yang kayak kemarin." Pinta Revaldo padaku. Aku masih bingung dengan perkataan yang ia katakan bahkan sejak tadi bersama Leya.


"Gue gak ngerti maksud lo." Aku menggelengkan kepalaku.


"Kemarin waktu aku jatuh, kamu seneng banget. Coba deh aku pengen liat dari deketan sini." Ia menumpu wajahnya pada tangannya menghadap ke arahku.


"Coba deh ketawa di hadapan aku. Tapi jangan ngetawain aku." Jawabnya membuatku diam.


"Gue lebih suka lo menderita dulu baru gue ketawain." Aku melihatnya sambil tertawa. Melihat itu, Revaldo juga membalas tawaanku.


 


 


Rasa yang tertinggal


Tak akan jadi kumal.