
Aku pulang menuntun sepedaku. Tidak ada bengkel yang buka di sepanjang jalan. Lelah pastinya kurasakan. Setibanya di rumah, aku beristirahat. Ibuku lalu meminta tolong tetanggaku untuk membenarkan sepedaku.
Begitu pula hari-hari itu tanpa Revaldo kulalui. Meski banyak pertanyaan yang ingin kolantarkan pada Revaldo. Aku membiasakan kegiatan seperti biasa. Hidup ini tidak harus berfikir tentang Revaldo. Hidup ini tidak mungkin berfikir terus-terusan pada cinta. Bahwasanya cinta itu menjadi akhir yang keji bila hati tak mampu menahan peliknya cemburu dan ego sendiri.
Hari tanpa Revaldo, kadangkali aku harus bertemu dengan Tama. Tetapi Leya menjauhkanku dengan Tama. Bila Revaldo ada, suasana hati tenang meskipun beberapa kali melihat wajah Tama. Kali ini suasana hati kacau, belum karna disiksa rindu dicambuk cemburu dan termenung dalam jerit keingintahuan.
Empat hari berlalu begitu lambat, sedangkan rinduku cepat merambat.
Aku ditugaskan menjaga perpustakaan hari ini. Penjaga perpustakaan saat ini sedang rapat di ruang guru. Tak banyak meminjam dan mau membaca buku di perpustakaan membuatku tak usah berpikir terlalu pusing.
Aku duduk menengadahkan kepalaku ke atas. Aku memejamkan mataku. Meskipun ruang perpustakaan serasa panas namun kubetah-betahkan tinggal di dalamnya.
"Saya mau pinjam buku dong, Bu." Aku sedikit terusik. Kemudian aku membuka mataku, melihat ke arahnya. Aku melebarkan mataku setelah tahu bahwa orang itu tak lain ialah Revaldo. Entah aku harus berucap apa, berekspresi apa. Aku merindukannya tetapi aku masih marah padanya. Apa yang harus kukesampingkan terlebih dulu?.
Revaldo tersenyum menatapku, dimana aku masih bingung dengan kehadirannya yang tiba-tiba tak tertebak.
"Lin, nggak kangen apa?" Ia mendekatkan wajahnya pada diriku. Hanya saja meja sebagai pembatas. Aku tetap terdiam bungkam mendengar ucapannya. Revaldo mendekatiku, menarik tanganku. Ia menuntunku keluar perpustakaan. Tak lupa ia menorehkan senyumnya saat menatapku.
Ia berhenti di belakang gedung perpustakaan. Ia pun melepaskan genggamannya yang menggenggam tanganku. Raut wajahku, aku tidak dapat berekspresi. Karena aku bingung dengan apa harus aku mulai?.
"Lin aku kangen." Ia memelukku erat seperti tidak mengijinkanku untuk pergi. Pelukannya hangat, menjadi bahan adiktif tersendiri untukku.
"Kamu nggak rindu aku?" Aku mendorong tubuhnya. Aku melepaskan pelukannya.
"Kamu kenapa?" Revaldo menempelkan telapak tangannya pada dahiku. Memang terakhir kali ia bertemu denganku disaat aku sedang sakit. Dan dia berfikir bahwa sekarang aku sakit. Aku menepis tangan Revaldo dari dahiku.
"Kamu kenapa gak bilang ke aku kalo kamu ikut lomba?" Teriakku menatapnya dengan amarah.
"Waktu itu kamu lagi sakit. Aku gak mau bikin kamu menderita kalo aku ceritain." Jelasnya dengan penuh pengertian.
"Oh gitu. Terus gimana kamu dapet bonus apa dari lomba itu?"
"Maksud kamu? Juara? Jelaslah juara, kamu kan alasan aku buat menang." Ia masih saja sanggup menggombal. Aku tidak termakan dengan rayuannya. Dan menanyakan hal utama yang membuatku begitu membencinya sampai saat ini.
"Bukannya Risya yang jadi alasan khusus kamu."
"Nggak usah sok bodoh. Diem-diem disana kamu berdua-duaan kan sama Risya." Bentakku. Aku hanya asal menduga entah ia mengelak atau menerima perkataanku, aku tetap saja ingin tahu kedekatannya dengan Risya.
"Tau darimana? Dia itu temen aku Lin. Dia juga temen sekelas kamu kan." Elaknya.
"Temen aku manusia bukan binatang." Aku meredakan amarahku. Aku harus menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Tetapi tetap saja egoku menjunjung tinggi amarahku.
"Aku nggak tau kenapa kamu berpikiran kayak gini. Tapi kamu salah, nggak seharusnya kamu bicara kayak gitu sama temen kamu." Sebenarnya disini, dia menyukaiku atau menyukai Risya? Hatiku seperti tertindas saat ia membela Risya.
"Apa cuma karna kamu cemburu kamu jadi nyalahin temen kamu." Tambahnya membuat emosiku semakin menjadi.
"Aku capek. Pikirin aja sendiri." Aku meninggalkannya, tanganku tertahan olehnya. Aku menepis paksa tangannya yang menahan tanganku.
"Do." Aku mendengar suara itu, Tama memanggilnya. Tapi aku terlanjur kecewa dengan Revaldo. Aku berlari meninggalkan keduanya, sambil mengusap tetes tangis yang hampir membasahi pipiku. Aku tak mendengar Revaldo berlari memanggil namaku ataupun menjelaskan semuanya padaku. Aku peduli padanya entah kenapa aku gampang tersinggung jika dia berdekatan dengan perempuan lain.
Sampai di depan mading, aku terhenti. Banyak sekumpulan siswa melihat mading, aku menerobos masuk ingin melihat. Di satu sisi lain, aku menghindar dari Revaldo jika dia mencariku.
Aku terkejut melihat foto Revaldo dan Risya begitu dekat. Memang tidak hanya mereka yang ada di foto itu tetapi juga ada pemain bola voli lainnya. Keduanya sangat dekat, terlihat senyum simpul di bibir mereka dengan piala di depannya.
Di foto itu jelas, Risya tersenyum namun pandangan matanya tak tertuju pada kamera melainkan pada Revaldo yang ada dekatnya.
Bagaimanapun juga cemburu itu membuatku kelu.