
"Lin coba deh liat kebelakang." Leya memerintahku, aku segera menengok.
"Revaldo? Semenjak kapan dia ada disana?" Aku terkejut melihat Revaldo. Ia terlihat cengar-cengir melihat ke arahku. Leya menertawakanku juga menertawakan Revaldo.
"Udah dari tadi." Leya menahan tawanya agar Revaldo tidak melihat lagi ke arah kami.
"Kok lo gak bilang sih." Ucapku dengan nada agak tinggi pada Leya.
"Ntar lo salting lagi. Nanti kalo gue cerita lo gak nanggepin." Elak Leya.
Sekali lagi aku menoleh ke arah Revaldo. Ia sedang meminum segelas jus jambu. Ia duduk dibangku agak jauh denganku. Namun ia masih bisa melihatku. Begitupun aku masih dapat melihat tatapannya yang tertuju padaku.
Aku beranjak dari bangku kantin, menarik tangan Leya dan pergi meninggalkan kantin. Tanpa sadar Revaldo menahan senyum melihat gelagat Felin.
•
"Kayaknya gue gak bisa ngerjain kelompok besok deh." Aku berjalan ke parkiran dengan Leya.
"Lah kenapa?" Tanyaku pada Leya.
"Gue gak ada dirumah besok. Gue ada di rumah nenek gue."
"Tugasnya kan ngumpulinnya lusa Ley, besok hari terakhir ngerjain." Tugas bahasa yang banyak dengan waktu yang sedikit membuatku kewalahan mengerjakannya. Sendiri mengerjakan saja sudah seakan mau mati saja tanganku ini. Setidaknya dengan berdua bisa mengurangi beban.
"Ke rumah nenek gue aja gimana? Deket loh dari rumah lo. Daripada ngerjain di rumah gue, jauh." Leya memang bertempat tinggal lumayan jauh dari sekolah. Ia tinggal di sekitar pegunungan bersama kedua orangtuanya dan dua adiknya. Kadang kali jika hampir petang ia lebih menginap ke rumah neneknya.
"Boleh deh." Aku mengiyakan ajakannya. Karna aku sudah tahu keberadaan rumah nenek Leya. Meskipun aku sudah tahu dulu, entahlah jika besok aku tiba-tiba lupa.
"Gue duluan Lin." Ujar Leya menaiki sepeda, melambaikan tangan dan mulai menghilang dari pandanganku.
Brukk
"Kenapa? Mata lo gatel?" Aku memberanikan diri bicara padanya. Siapa takut dengannya, bahkan mataku lebih tajam dari matanya. Bagaimana mantan sahabatku--Keyra menjadi pacar Tama? Hal yang tidak bisa diduga. Kelakuan Tama saja sudah membuatku muak.
Hal yang membuatku lebih malu pada Keyra adalah ia pernah memberi sebatang coklat pada Tama. Sudah pastilah Keyra yang menyukai lebih dulu. Namun saat itu Tama tidak menjawab atau lebih memilih cuek pada Keyra. Dua tahun berlalu, Keyra selalu sekelas dengan Tama. Tanpa kuketahui usulnya, banyak gossip beredar bahwa ia berpacaran. Membuatku kaget. Membuat Keyra berubah total.
"Udah salah tetep aja nyolot." Ia mendekatiku dengan tatapan bengisnya.
"Tam, bukannya seharusnya lo sekarang persiapan lomba ya?" Seseorang dengan suara beratnya menengahi percek cokan ku dengan Tama. Ia berjalan ke arahku dan Tama. Ia yang tak lain ialah Revaldo.
"Iya. Dan gue masih mau ngelarin masalah sama dia." Tama menudingku. Revaldo mendekati kami. Mendengar ucapan Tama, aku menajamkan mataku saat melihatnya.
"Lo mau di diskualifikasi? Lomba itu gak dateng satu kali lo." Itu membuat Tama meninggalkan kami berdua. Aku melihat bibir Tama seperti berkata dan mengancamku. Ia berkata tanpa suara berjalan pergi, dan menaiki sepedanya.
"Kayaknya kamu benci banget sama Tama." Tanya Revaldo membuatku tak lagi melihati Tama yang sudah pergi.
"Kenapa? Masalah?"
"Wihh santai dong." Revaldo memasang muka ampun setelah melihat wajahku dengan tatapan sinisku.
Aku segera menaiki sepedaku. Saat hendak kukayuh, beban dibelakang nampak berat kurasakan. Setelah kulihat ternyata Revaldo duduk di boncengan sepedaku. Ia melayangkan senyumannya saat aku melihatnya.
"Kok lo disini sih. Gue bukan tukang ojek. Pergi sono deh." Tanpa pikir panjang ia segera pergi dari boncengan sepedaku. Aku melajukan sepedaku. Aku melihat wajahnya nampak tenang. Aku berfikir di sepanjang perjalanan, tidak biasanya Revaldo menyerah bila tak kuberi perhatian. Namun sekarang ia nampak tenang saat aku menyuruhnya pergi. Kupikir dia akan bertahan. Atau aku yang terlalu keterlaluan dengannnya.
Kumaki angan lama
Yang tak kunjung usai.