
Malam itu setelah aku pergi dengan Revaldo, aku kembali ke rumah. Kali ini Revaldo menemaniku pulang. Di setiap penghujung jalan yang sepi disinari bulan dan sorot lampu. Ia membuat candaan-candaan yang membuatku tak merasa takut.
"Makasih ya. Gak mampir dulu?" Aku dan Revaldo sudah ada di depan rumahku.
"Udah malem. Aku pulang aja." Jawabnya. Aku sudah berada di depan pintu.
"Ati-ati." Ia mengayunkan sepedanya membalas perkataanku dengan senyumnya. Sambil memfokuskan jalanan, ia melambaikan tangannya. Aku menahan senyum melihatnya.
"Kok baru pulang?" Tanya ayahku yang duduk di depan televisi. Aku terkejut mendengarnya.
"Ayah, kapan pulang?" Aku rindu sesosok ayah. Ayah bekerja jauh dari tempat tinggalku. Ia mengelola pabrik yang ada di kota. Ayah jarang pulang. Tapi sekalinya ia pulang membawa oleh-oleh.
"Udah dari tadi. Kamu abis kemana aja." Aku memeluk hangat badan ayah. Kemudian melepaskannya.
"Nugas tadi." Jawabku tersenyum simpul pada ayah.
"Yah, jajannya mana?"
"Udah sana mandi dulu. Bau." Omelnya sambil menjauhiku.
"Iya deh. Ibu mana yah?" Aku celingak-celinguk melihat keberadaan ibu.
"Tadi keluar beli bahan di kulkas yang udah abis." Aku menganggukkan kepala dan pergi ke kamar mandi.
Setelah aku mandi, aku ke pergi ke kamarku. Dengan memakai baju tidur yang sudah kupakai di kamar mandi setelah mandi. Sebuah kotak ada di atas meja belajarku. Saat kubuka, ada banyak buku. Pasti ini dari ayah. Tapi setelah kubaca setiap judulnya, ternyata bukan buku novel.
"Ayah apaan sih. Bawa hadiah kok buku pelajaran." Teriakku dari kamar dengan mengerucutkan bibirku.
"Novel kamu kan udah banyak. Kamu udah kelas 3 Lin, buku itu yang cocok sama kamu sekarang." Aku mendengar ayah dari balik kamar. Ia pasti sedang melihat televisi.
Biasanya ayah membawakanku buku novel dengan makanan ringan. Tapi kali berbeda, mungkin ayah menginginkanku bertobat. Dan fokus pada pelajaranku. Aku menutup kembali kotak itu memasukkannya pada lemari buku.
•
Pagi ini tubuhku rasanya nyeri. Kepalaku pusing. Badanku lemas. Tapi aku memaksakan untuk bersekolah. Sebenarnya kedua orangtuaku tidak mengijinkanku. Karena aku bersikeras, akhirnya mereka mengalah padaku. Namun ayah yang mengantarkanku ke sekolah. Aku dibonceng ayah menggunakan motor tuanya.
"Kalo sakit ke UKS aja. Jangan maksain diri." Aku mencium tangan ayah. Mengiyakan perintahnya. Dan pergi ke kelas.
"Lin, pinjem buku matik lo dong." Leya mengedip kedipkan matanya memohon padaku saat aku baru saja duduk di sampingnya.
"Ambil aja." Leya nampak senang terpaut senyum di bibirnya. Ia membuka resleting tasku. Dan mengambil bukuku.
"Lin, lo gak ke kantin?" Tanya Leya melihatku nampak khawatir. Aku hanya menggelengkan kepalaku.
"Lo keliatan pucet. Lo sakit ya?" Aku hanya mendiami pertanyaan Leya. Kemudian Leya menaruh telapak tangannya di dahiku.
"Kalo sakit kenapa gak masuk aja." Ocehan Leya membuat kepala semakin pusing.
"Gue beliin makanan ya. Bentar jangan pingsan dulu." Leya berlari meninggalkanku. Aku menahan senyumku melihat tingkah Leya.
Sesaat setelah itu, aku mendengar suara bola masuk ke kelas. Aku malas melihatnya. Aku menutup mata saja. Aku menumpukan kepalaku pada tanganku di meja. Langkah seseorang kemudian datang mendekati bola dan mengambilnya.
"Lin, kamu sakit?" Lelaki itu membawa bola di salah satu tangannya. Ia menengok ke wajahku yang sebagian tertutup tanganku.
"Revaldo?" Aku melihatnya menatapku. Namun aku mengacuhkannya.
"Ke UKS aja Lin kalo sakit aku anterin deh." Ia menautkan wajah khawatir. Aku dapat merasakannya.
"Woi, lo ngambil kesempatan kan." Teriak Leya yang sudah berada di pintu masuk kelas. Ia segera mendekatiku. Aku duduk seperti biasa. Melihatnya mendekatiku.
"Calon gue sakit. Masa gue harus diem aja." Masih saja Revaldo menggombal.
"Dia sakit karena jadi calon lo. Coba aja enggak, nggak bakalan sakit Felin nya." Leya mengambil paksa bola yang ada pada salah satu tangan Revaldo. Melemparnya keluar kelas.
"Ee--h"
"Tuh, ambil sono." Leya menuding keluar kelas mengarah pada bola yang dilemparnya.
"Lin, jaga kesehatan ya. Aku gak bisa nemenin kamu. Ada macan marah deket kamu." Revaldo membisikkannya padaku. Aku hanya menahan tawa mendengarnya. Revaldo mengelus rambutku kemudian berlari menjauhiku dari kelasku dan memungut bola yang ada diluar.
"Kepala lo gakpapa kan? Gak pusing kan waktu disentuh Revaldo." Leya menyentuh kepalaku. Aku beberapa kali menahan tawa. Leya nampak khawatir denganku.
Buktikan jika hadirmu benar-benar peduli.