
Selama dua hari berturut-turut sekolahku mengadakan lomba. Dan besok adalah pengumumannya. Karena hari ini pulang agak sore, aku jadi terlambat. Sebelum pulang aku teringat tugas bahasa untuk mewawancarai pemilik toko buku yang baru dibuka. Sejujurnya aku ingin mengajak Leya tetapi dia sudah pulang terlebih dulu.
Aku melihat Revaldo di parkiran. Di sisi lain aku melihat Risya yang akan mendekati Revaldo. Aku memberanikan diriku terlebih dulu mendekati Revaldo.
"Valdo. Temenin aku ke toko buku waktu itu yuk." Aku mengajak Revaldo mengantarkanku. Aku tidak suka jika Risya mendekati Revaldo, maka kuputuskan aku dulu yang mendekati Revaldo. Risya yang melihatku, mengurungkan niatnya mendekati Revaldo dan berjalan lurus menjauhiku dan Revaldo.
"Ngapain? Udah sore lo."
"Ada tugas soalnya." Aku berharap Revaldo menemaniku.
"Iya deh. Bentar ya." Ia menaiki sepedanya. Dan aku berjalan mendekati sepedaku. Kemudian menaikinya.
"Ayo." Revaldo sudah ada di sampingku. Disaat aku mengancang-ancang untuk mengayuh sepeda.
"Awas jangan macem-macem." Tegasku padanya. Sebab tadi di kelas ia bertindak tak tau malu. Membuatku ketakutan.
"Iya iya." Jawabnya dengan mengodekan tangannya memperlihatkan dua jarinya.
"Lin, soal perasaan aku ke kamu. Kamu nanggepinnya gimana." Revaldo bersepeda mensejajarkan di sampingku.
"Perasaan aku gak ngrasa kamu naruh perasaan ke aku deh."
"Lin aku serius." Ia memfokuskan arahnya ke jalanan. Sesekali menatapku menjawab perkataannya.
Aku membalas ucapannya dengan gurauan diselingi dengan tawaanku.
"Aku tunggu diluar ya." Revaldo menjaga sepedaku di parkiran.
"Jangan kemana-mana." Ia menganggukkan kepalanya. Setelahnya, aku masuk ke dalam toko buku itu. Revaldo menunggu diluar.
Saat berwawancara dengan petugas toko. Aku masih bisa melihat Revaldo diluar. Ia duduk disamping sepedanya. Ia nampak setia menungguku. Aku bisa melihatnya, karna toko buku ini bertembok kaca.
Kerapkali aku tersenyum melihat Revaldo yang kurang kerjaan diluar.
Saat aku melihatnya lagi, ia tak berada disana. Namun sepedanya masih utuh. Mungkin dia bosan dan memilih pergi di keramaian.
"Udah selesai?" Aku tekejut melihat Revaldo berada di balik pintu toko. Ia menyandarkan tubuhnya di dekat pintu kaca.
"Udah. Pulang sekarang gimana." Tawarku.
"Cari makan dulu aja. Disini ada supermarket terdekat." Ia bersepeda mendahuluiku. Aku mengikutinya dari belakang. Tak sampai lima menit, kami sampai di supermarket yang dibicarakan Revaldo tadi.
Revaldo berjalan memilih makanan. Sedangkan aku memilih es krim. Aku membayarnya dulu kemudian duduk di depan kursi di depan supermarket.
Aku melahap es krim yang sudah kubuka. Namun Revaldo membuka bekal kotak makanan. Padahal di supermarket tidak menyediakan kotak makanan.
"Valdo. Mau." Aku melihat Revaldo membuka kotak makanan itu.
Ia menaikkan kedua alisnya. Ia tidak langsung menjawabnya. Ia menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya dengan pelan-pelan. Seperti memamerkannya padaku. Aku melihat pergerakan Revaldo memelankan suapannya. Aku menelan ludahku.
"Pelit banget sih." Protesku.
"Mau?" Ia mengarahkan sesendok nasi ke depan mulutku. Saat aku memajukan kepalaku, dan membuka mulutku. Ia memakan sendiri suapan itu.
"Nggak boleh." Ledeknya padaku. Aku lalu memukul lengan Revaldo. Dan berupaya merebut nasi itu dari tangannya.
Namun tanpa sengaja aku mulai berdekatan dengannya. Hal itu dimanfaatkan Revaldo membuka mulutnya dan memakan es krim yang ada di tanganku. Es krim yang kupegang telah habis. Revaldo membuka mulut terlalu lebar jadi hanya tersisa contong dari es krim yang kupegang.
Revaldo tertawa sambil mengunyah es krim yang ada di dalam mulutnya. Aku mengerucutkan bibirku. Revaldo mulai tersedak karna mulutnya penuh es krim. Aku mengambil kotak makanan dari tangannya. Kemudian aku memakannya. Revaldo tersenyum melihat kelakuanku. Ia mengusap usap rambutku dengan tangannya saat aku memakan jatahnya.
"Suka bintang gak?" Revaldo menanyakannya saat aku memakan makanan. Ia mengarahkan pandamgannya ke atas.
"Ciptaan Tuhan aku suka." Jawabku sambil menelan nasi.
"Berarti aku juga termasuk." Tanpa berfikir aku membalas perkataan Revaldo dengan deheman membuatku senyumnya tak lepas dari bibirnya.
"Aku lebih suka kamu. Soalnya bintang suka ngilang. Kalo kamu tiap hari ada." Aku menatap matanya. Revaldo menatap mataku dalam-dalam. Hatiku terus berpacu saat Revaldo di dekatku. Saat Revaldo mengatakan hal-hal anehnya padaku.
Menitipkan rasa pada cinta
Seperti menitipkan hidup pada satu tujuan.