F'Relin

F'Relin
19.



Beberapa hari Revaldo terus saja  berusaha menjelaskan kejadiannya padaku. Di samping itu, aku selalu menghindar saat ia mencoba mendekatiku. Rasanya baru kemarin aku dibuat bahagia dengan Revaldo. Rasanya waktu adalah musuh jahat yang mengelilingiku.


Hujan lebat mengguyur tempat tinggal dan sekolahku. Aku jadi pulang agak telat menunggu hujan terhenti. Aku celingak-celinguk samar jika Revaldo ada di dekatku. Leya menemaniku menunggu hujan berhenti di depan kelas. Aku lupa tidak membawa jas hujanku. Sedangkan Leya menanti jemputan karena ia pergi ke sekolah diantar.


"Lin, lo gak papa kalo gue duluan?" Aku melihat ayah Leya menaiki motornya. Aku melihat ayah Leya mengenakan jas hujan.


"Udah dijemput? Iya deh gak papa." Lontarku dengan senyuman pahitku.


"Maaf ya gue gak bisa nemenin lo." Aku hanya menganggukkan kepalaku. Ia kemudian pergi meninggalkanku. Nampak punggungnya semakin menjauh. Aku tidak memberitahu pada Leya jika aku kecewa dengan Revaldo. Aku tak banyak bicara jika hatiku sedang terluka.


Bukan hanya aku yang menanti hentinya hujan tetapi masih ada murid lain yang sama mengalami keadaan serupa denganku hanya saja aku tidak mengenalnya karena beda kelas.


Menit demi menit aku menanti. Hujan terlihat agak reda. Jika aku terus menunggu, waktuku akan sia-sia. Aku akhirnya memberanikan diri menerobos hujan yang lumayan rintik.


Aku mengemudikan sepedaku tak peduli jika lama-lama bajuku basah karena rintikan hujan. Hal ini mengingatkanku dengan apa yang Revaldo berikan padaku sewaktu hujan. Sampai hatiku buta karenanya, membuatku tak sadar di sepanjang jalan aku menangisinya. Aku beruntung adanya hujan dapat menutupi air mataku.


Tiba-tiba seorang lelaki dengan sepedanya menghalangi jalanku.


"Maksud lo apa sih?." Aku memberhentikan kayuhan sepedaku. Lelaki itu yang tak lain adalah Tama kemudian melangkah mendekat ke arahku.


"Mau gue....?"


Bugh


Aku terjatuh di samping sepedaku. Tama memicingkan senyumnya saat aku jatuh.


"Mau gue cuman satu. Buat lo menyesal karna lo gak tau apa itu arti minta maaf." Ia segera pergi dengan menaiki sepedanya. Meninggalkanku terjatuh lunglai. Aku justru tersenyum melihat kepergiannya. Baru kali ini aku merasakan rasanya dipukul. Namun masih menyakitkan dengan pukulan masalah yang mencabik-cabik di hati.


Aku melihat memar di rahang sebelah kiriku setibanya di rumah. Aku mengobatinya dan segera membalut lukaku agar orang-orang yang peduli denganku tidak mengkhawatirkanku.


 


Esoknya, aku izin tidak masuk sekolah karena sakit. Aku lelah jika terus-terusan disiksa saat bertemu dengan Revaldo. Beberapa kali Revaldo mendekat, aku berupaya menjauh.


Sebelum itu, aku pernah mendekatinya lebih dulu saat ia tidak melihat kehadiranku. Aku ingin bertanya secara baik-baik padanya kemudian niatku terurung saat tahu ia berbicara dengan Risya di kelasnya. Sejak itu pula, aku tidak berusaha menerima penjelasannya.


"Assalamualaikum." Aku mendengar suara salam dari kamarku. Sekarang aku di rumah sendiri karena kedua orang tuaku bekerja dan adikku sedang sekolah.


"Leya?" Aku membuka pintu melihat Leya membawa buah-buahan di bingkisan.


"Nggak dibolehin masuk nih?" Leya membuyarkan lamunanku.


"Ehh masuk aja." Leya dan aku duduk di sofa ruang tamu.


"Lo gak sekolah apa?" Tanyaku membuka percakapan.


"Kenapa akhir-akhir ini lo jadi sakit-sakitan?"


"Maklumlah cuaca lagi gak mendukung." Jawabku penuh kebohongan.


"Bukan karna Revaldo kan?" Aku terdiam saat Leya menanyakan Revaldo terhadapku.


"O, iya. Hampir lupa." Leya membuka tasnya, mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.


"Nih, Revaldo ngasih ini. Dia tau kalo gue mau ke rumah lo." Jelasnya.


Saat aku hendak membukanya,


"Dagu lo kenapa Lin?" Aku refleks menutupi daguku walaupun daguku sudah kubalut.


 


 


"Oh ini, semalem gatel terus gue garuk-garuk malah keluar darah." Jelasku.


"Tau gitu gue bawain bawain bedak anti gatel. Tapi sekarang lo udah sembuh beneran kan? Revaldo nanyain lo mulu."


"Mulut gue sampek dower ngejawab pertanyaan Revaldo." Tambahnya. Aku menarik sudut bibirku tersenyum karena ucapannya.


"Kalo gitu gak usah dijawab."


 


Terus saja menghindar


Sekalipun mimpi,


Tetap akan kukejar.