F'Relin

F'Relin
20.



"Ley, gue pinjem catetan lo dong." Pintaku pada Leya. Aku sudah sembuh dan kembali bersekolah. Aku duduk di bangku bersebelahan dengan Leya.


"Lo tanya sama orang yang salah." Tuturnya.


"Gue duduk sama lo juga salah berarti ya?."


"Elah, bercanda doang. Nanti gue pinjemin punya yang lain ya. Gue males nulis soalnya." Leya melebarkan senyumnya. Sebenarnya aku sudah tahu jika Leya memang kurang teratur dalam menulis catatan. Siapa tahu selama aku tidak masuk, Leya semakin rajin. Dan terkaanku rupanya salah, Leya masih sama. Tapi dia tetap temanku.


 


√√


 


Sepanjang hari di sekolah hari ini, aku mengurungkan diri di kelas. Bahwasanya aku tidak ingin bertemu ataupun mendengar tentang Revaldo. Aku memang gampang untuk marah jika sekalinya aku peduli. Bahkan sampai tidak ingin mendengarkan penjelasan dari orang yang kupedulikan. Terus dan terus saja seperti ini aku yang menderita.


Aku masih mengingat bahwasanya aku terjatuh dari sepeda karena ulah Tama. Ia mendorong keras sepedaku membuatku terjatuh seakan tak berdaya. Aku jatuh ke samping dengan sepeda berada diatas kakiku. Naasnya daguku mencium kasar aspal di jalanan. Hari itu hujan dan dari awal aku tidak menyukai hal itu.


Sehabis pulang dari sekolah aku tidak mempir kemana-mana. Aku langsung pulang. Dari pagi aku tidak melihat keberadaan Revaldo. Sebenarnya aku merindukannya saat ia tiba-tiba mendekatiku. Aku tidak bisa acuh dengannya jika seperti ini.


Tiba di rumah, ibu menawarkanku makan dan menyuruhku segera meminum obatku. Kemudian aku tertidur di kamarku, mungkin karena faktor obat.


Belum lama tidurku, aku terbangun. Bukan karna mimpi tetapi tugas sekolahku belum terselesaikan. Aku kemudian duduk di meja belajarku. Secarik kertas beramplop di atas meja membuatku ingin membukanya. Amplop itu bewarna dan bermotif. Membuatku tertarik untuk segera membukanya.


 


Aku gak tau betul kenapa kamu marah. Tapi aku bisa jelasin besok sehabis pulang sekolah. Di lapangan futsal belakang sekolah.


R to Ferelin.


 


Aku baru ingat amplop ini dibawa Leya kemarin saat menjengukku. Aku lupa membukanya. Sekarang, aku bingung apa aku harus datang dan mendengarkan penjelasan Revaldo?. Jauh di dalam hatiku, aku tidak bisa membohongi diriku bahwa aku merindukan sosoknya. Aku segera mengambil jaket dan memakainya.


Aku keluar rumah tanpa berpamitan karena tergesa-gesa dan juga keluargaku sedang tidak ada di rumah. Aku mengayuh sepeda cepat diterangi dengan lampu sepeda yang menyorot kuat saat aku mengayuhnya cepat. Menerjang hawa dingin di malamnya hari aku melakukannya untuk bertemu dengan Revaldo.


"Aku pikir kamu nggak akan dateng." Aku melihat Revaldo mendekatiku. Ia menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggungnya.


Banyak kata yang ingin kulontarkan padanya, saking banyaknya aku malah mendiaminya saat dia bicara padaku.


"Kamu ....semenjak kapan disini?" Aku memberanikan diri untuk berbicara dengannya. Aku berdiri dengan benar berbicara padanya.


"Udah dari tadi. Aku liat kamu lari-lari kecapekan. Buat liat aku kan?." Ia menyunggingkan senyumnya. Kemudian duduk menselonjorkan kakinya.


"Kamu nyuruh aku kesini cuman buat tontonan?" Ujarku melipatkan kedua tanganku di depan dadaku. Aku duduk di samping Revaldo. Kedua lututku tertekuk kedepan memeluk tubuhku.


"Emang aku sejahat itu?" Ucapnya. Revaldo kemudian menunjukkan kertas yang sedari tadi disembunyikannya. Ia menunjukkannya di depanku.


"Sertifikat?" Karena kurang pencahayaan, aku mengernyitkan alisku mencodongkan wajahku saat Revaldo menunjukkannya di depan dadanya.


"Mau pamer... gitu?" Aku melihat sertifikat bertuliskan namanya menjuarai lomba voli mewakili sekolah waktu itu.


"Pengennya gitu. Tapi kamu lagi marah, pamernya jadi ketunda deh." Ucapnya. Kedua tangannya menumpu badannya di belakang. Sedangkan aku memegang sertifikatnya.


"Di kertas yang kamu tulis kamu cuman mau ngejelasin bukannya pamer." Tuturku. Dalam hatiku aku bangga Revaldo menorehkan prestasi yang ia tekuni.


"Sampek kapan kamu marah-marah kayak gini?. Emang kamu gak bosen seharian gak liat aku?."


 


Yang membuat takutmu itu pemikiranmu sendiri.