F'Relin

F'Relin
17.



"Lo udah masuk Lin?" Leya menanyakannya saat aku tiba di bangku. Aku membalas dengan senyuman pahit saja.


Hari ini nampak suram. Seperti gelegar petir yang semu terdengar. Untuk empat hari kedepan, Revaldo tidak akan pergi sekolah. Ia beserta yang lainnya mengikuti lomba yang entah dimana aku tidak tahu tempatnya. Di sisi lain, kata-kata perpisahan yang ingin kudengar dari Revaldo tak pernah terucap olehnya. Bahwasanya ia mencariku saja, tidak dilakukannya. Jika memang dia pemain hati, apa ia tak lelah bertengkar bersama hari?.


"Siapa saja hari ini yang tidak masuk?" Leya menggenggol bahuku, saat aku memikirkan Revaldo. Seorang guru datang ke kelas mengampu bidang studi sejarah.


"Risya, bu." Celetuk seorang temanku yang duduk di belakangku. Pasalnya ia duduk bersebelahan dengan Risya. Aku menengok ke mejanya, ternyata memang Risya tak kudapati.


"Kemana?" Sang guru yang duduk di kursi menanyakan kembali.


"Itu ada suratnya Bu." Ujar murid lainnya menudingkan ke arah meja guru. Kemudian beliau membukanya. Dan menulis ke daftar absen. Beliau lalu memandang kelas kami, seakan menghitung murid yang ada di kelas.


"Emang Risya kemana, Ley?" Tanyaku ingin tahu keberadaan Risya.


"Lo gak tau? Dia kan juga ikut lomba voli." Jawabnya seraya berbisik.


Selama pembelajaran berlangsung hingga selesai, pikiranku risau dibuat oleh Revaldo. Kejadian kemarin, kejadian hari ini membuat perasaanku kaku. Membuat pikiran murniku terhenti dan berketerusan memikirkan Revaldo. Entah energi negatif mana yang memengaruhiku jika Revaldo nantinya bermesra-mesraan dengan Risya di tempat lomba.


"Lin, ke kantin yuk." Ajak Leya membuyarkan lamunanku. Karena Leya memohon agar aku menemaninya, akhirnya aku menurutinya.


Ia memesankanku semangkuk bakso. Tanpa kusadari, ia menuangkan banyak sendok sambal pada mangkuk baksoku. Tanpa pikir panjang aku menyantap semangkuk bakso di hadapanku dengan tatapan kosong.


"Sstt.. Ley..kokk pedes bangett" aku mengibaskan kedua tanganku pada mulutku. Sebab aku tidak doyan pedas. Bukan aku yang tidak doyan, tapi perutku yang menolaknya.


"Biar kamu berhenti nglamun." Jawabnya dengan tertawa terbahak-bahak.


Aku melihat diatas meja tak ada air. Aku berlari berniat memesan minuman. Leya terus saja tertawa di kursinya melihat gelagatku yang kepedasan. Tiba-tiba seorang lelaki bersama tiga orang temannya menghalangi jalanku. Tanpa sengaja aku menabraknya.


"Liat-liat dong kalo jalan." Omelnya membuatku mendongak ke wajahnya. Pasalnya minuman yang dia bawa membasahi depan rokku, dan membasahi sepatunya.


"Yang ada lo yang ngehalangin jalan." Tunjukku tepat di wajahnya. Siapa lagi kalau bukan Tama. Melihatnya, rasa pedas di lidahku berubah menjadi gatal.


"Jalan lebar Mbak." Tangan Tama menunjuk ke segala arah.


"Mbak-mbak gue gak sudi punya adek kayak lo." Teriakku penuh kemarahan pada Tama.


"Nyolot lo hah.."


"Gara-gara gue rok lo jadi basah." Sebelum ke kelas Leya mengantarkanku ke kamar mandi.


"Gue cuman nggak pengen lo ngelamun terus, diem terus. Emangnya Revaldo ngapain lo?" Leya menatapku dengan sorot khawatirnya.


"Gak ada apa-apa kok gue sama Revaldo." Aku menenangkan Leya dengan perkataan yang halus.


"Terus kemarin Revaldo ada di rumah?"


"Ada kok." Leya menghela nafas lega mendengar ucapanku. Kali ini maafkan aku jika aku berbohong. Aku tidak tahu harus menjelaskannya mulai dari mana.


"Gue tau, lo pasti kangen kan sama Revaldo. Makanya lo kepikiran Revaldo terus dari tadi."


"Yang ada Revaldo yang kangen sama gue." Aku melebarkan senyumku.


"Dih PD banget. Ini tuh masih sehari Lin gimana kalo udah besok? Yang ada lo itu mati diselimuti rindu." Jelasnya dengan tertawa.


"Emang ada?. Mati karna tertawa baru nyambung. Dasar." Aku menyentil kepala Leya yang asyik dengan tawaannya.


 


Rindu bertamu dikala


Hati tak bertuan.


 


Tiba saat pulang sekolah, aku berjalan sendiri ke parkiran. Aku melihat sepedaku, melihat ban belakang sepedaku kempis tak berisi. Pasti tadi ada yang meminjam sepedaku tanpa izin. Atau mungkin seseorang mencoba menjahiliku.