
"Ganti baju dulu atau ke kantin nih?" Tawarku pada Leya yang duduk menselonjorkan kakinya sambil mengatur nafasnya sehabis lomba lari.
"Capek. Kelas dulu." Jika Leya sudah kecapekan, baginya menjawab pertanyaan hanya singkat. Ya aku memakluminya. Untuk aku sendiri, akan mengambil nilai lari minggu depan karena waktunya tak cukup. Bukan hanya aku saja tapi masih ada siswa lain yang belum mengambil nilai untuk lari.
Tiba di kursi, Leya mengibas ibaskan buku tulis ke arah wajahnya sesekali menyeka keringat. Saat aku hendak mengambil tisu, aku dikejutkan dengan benda yang berpermukaan dingin menyentuh telapak tanganku. Tepat di sebelah tas ku, aku melihat sebotol air dingin dengan note berukuran kecil. Aku tidak tahu siapa yang menaruh sebotol air pada kursiku. Pasalnya aku jarang membawa sebotol air.
Kuletakkan botol air tersebut ke atas meja, kemudian mengambil note berukuran kecil itu.
Bila saja aku menampakkan muka, tak usah kubeli air segala. Karena hanya dengan melihat wajah rupawanku, hausmu akan menghilang.
R to Ferelin.
Tidak usah ditanya aku pasti tahu siapa dibalik botol ini.
''Tumben bawa air." Leya menyahut botol itu. Belum sempat aku memberitahunya namun ia sudah meneguknya. Siapa tahu dibalik air itu ada racun atau ramuan lain.
"Itu bukan milik gue." Mendengar ucapanku ia menoleh ke arahku memberhentikan tegukannya. Menyemburkan air yang sudah ia minum tepat di wajahku. Seketika itu aku diam mematung.
"Yaampun Lin, aduh sorry. Lo gak papa kan?." Ia kebingungan melihat wajahku, sedangkan aku mencoba meredam amarah.
"Bentar bentar gue bersihin." Ia mengambil tisu yang ada di dalam tas ku. Untuk Leya sendiri sih kuperbolehkan untuk menggeledahi tas ku, yang lainnya harus ijin terlebih dahulu pada pemiliknya. Tanpa pikir panjang ia mengelapinya. Namun karena ia terlalu panik aku semakin risih.
"Ley stop. Gue bisa sendiri." Aku mengambil dengan paksa tisu yang ia gunakan untuk membersihkan wajahku.
"Jangan marah dong Lin, gue tadi nggak niat giniin lo. Gue kaget barusan." Jelasnya panjang lebar padaku. Sambil menarik nafas kemudian menghembuskannya berulang kali, aku mengiyakan permintaan maafnya.
"Beneran jangan marah ya. Jangan diemin gue." Pintanya padaku. Sebab Leya tahu kebiasaanku ketika aku marah aku akan mendiami orang yang telah membuatku marah.
Aku keluar kelas membuang tisu bekas yang telah kugunakan. Kemudian kembali ke bangku duduk.
"Lin, ini apa? R siapa?" Leya membuka note berukuran kecil menunjukkannya padaku.
"Minuman tadi dari dia yang ngasih gombalan ini?" Aku mengendikkan bahu agar Leya tak tidak menasihatiku lagi.
"Widih selain lo ternyata ada yang bisa buat gombalan gembel kayak gini ya." Ia sesekali meledekku dengan senyuman penuh ledeknya.
"Bilang sekali lagi coba." Aku memajukan daguku ke arahnya.
"Enggak bercanda. Kalo dia mah kelas Z, kalo lo udah level A." Jelasnya agar tak membuatku marah untuk kedua kalinya. Lebih tepatnya bukan kedua kalinya tapi kesekian kalinya.
"Emang R siapa sih Lin?"
"Ya mana ya gue tahu." Aku berpura-pura tidak tahu agar aku tidak lagi mendengar celotehan Leya atau mungkin ejekan bila tahu jika note itu ditulis oleh Revaldo.
Hancurkan gembok hatinya
Pagi diselimuti dingin yang menyeruak. Ditambah derasnya hujan yang berkali lipat menambah nuansa kedinginan. Aku berangkat ke sekolah. Kali ini bukan berjalan kaki tetapi aku menaiki sepeda baru. Sepeda ini kuperoleh dari gudang lama yang ada di belakang rumahku. Meski sedikit usang, namun jika diperbaiki akan nampak lebih baik. Tidak lupa, kukenakan mantel jas hujan sebagai pelindung baju dan tubuhku.
Sudah dari semalam hujan tidak berhenti-henti. Membuat genangan air menyebarluas. Perjalanan cukup becek membuatku harus berhati-hati, belum lagi saat hujan aku tak bisa melihat sekelilingku dengan jelas. Aku sempat trauma.
Dulu saat yang sama sedang menaiki sepeda dalam kecepatan cepat aku mengayuh pedalnya. Namun karena penglihatanku buram saat hujan tiba, hampir saja aku menabrak sepeda yang berada di depanku. Bukan hanya sepeda yang ada di depanku tapi juga mobil yang berjalan lambat di depanku. Karena sempat trauma dengan kejadian itu, aku tak lagi menaiki sepeda dan berniat menjualnya. Sekarang aku harus melawan hal yang kutakuti agar esok tak dapat kusesali.
Sebelum sampai di gerbang sekolah, aku melewati pertigaan depan sekolahan. Naasnya hal yang kutakutkan itupun terjadi hari ini. Aku menabrak sepeda seorang murid yang bersekolah sama denganku. Karena aku mengerem sepeda mendadak, ban belakang sepedaku meliyuk-liyuk menjadikanku tak seimbang. Akupun tergelincir jatuh. Ini memang salahku, aku terlalu tergesa-gesa hingga membuatnya juga terjatuh. Kali ini yang terluka parah adalah aku. Siku kananku menumpu badanku membuat banyak darah yang keluar.
"Gimana sih, kalo naik sepeda yang ati-ati dong. Sakit nih kaki gue." Aku melihat ia berdiri sambil memegangi kakinya. Niatku ingin meminta maaf namun setelah mengetahui bahwa yang kutabrak adalah Tama aku mengurungkan niatku. Sebab aku masih mempunyai dendam dengannya. Ia merebut sahabatku. Ia merebut waktuku bersama sahabatku.
"Lebih parah mana sama gue?" Aku segera bangkit dan membangunkan sepedaku. Persetan dengan luka di siku tanganku. Aku menaiki sepeda kembali namun ia menarik sepedaku dari belakang.
"Udah salah gak mau minta maaf lagi. Tanggung jawab lo mana." Dari situ aku sudah mulai geram dengannya. Ia mulai mendekatiku.
"Tam, ditungguin princess lo tuh didepan kelas." Suara itu membuyarkan emosi Tama.
"Awas lo." Tama menudingku dan pergi meninggalkanku.
"Kamu baik-baik aja kan?" Dia lelaki yang tak lain menengahi permasalahanku dengan Tama ialah Revaldo. Bukannya menjawab aku malah meninggalkannya.
Aku berjalan pelan menuju kelas. Kusampirkan jas hujanku menutupi sepedaku. Tanpa kuketahui, Revaldo dengan agak berjongkok memunggungiku menggendongku ke punggungnya.
"Eh, turunin gue. Turuninn." Aku sontak kaget atas perlakuan Revaldo. Aku memukuli kedua bahunya, agar ia melepaskanku. Namun ia tetap menggendongku dan membawaku ke UKS.
Meski perhatianku kau elak
Sampai kapanpun kau menolak
Aku akan tetap berdiri tegak.