F'Relin

F'Relin
12.



Selagi Keyra memanggil Tama, aku segera kabur dari hadapan Tama. Aku berlari bak dikejar hantu. Sebelum sampai kantin, tanpa sengaja aku menabrak Revaldo.


"Aduh." Untung saja aku tidak terjatuh.


"Ehh, kamu gakpapa?" Tanya Revaldo memegangi kedua bahuku.


"Oh..gue biasa aja." Jawabku dengan nada ngos-ngosan. Revaldo menyodorkan sebotol minuman padaku.


"Nih--" Aku memenggalkan perkataan Revaldo.


"Oh-iya makasih." Aku segera membuka tutup botol itu kemudian meminumnya.


"Tadi Tama nyariin kamu. Dia gak ngapa-ngapin kamu kan?" Aku membulatkan mataku mendengar Revaldo menanyakan Tama padaku. Air minum yang kuminum tanpa sengaja tersembur ke wajah Revaldo.


"Maaf. Aduh maaf banget." Aku seperti khawatir dengannya. Tanganku berupaya menghapus semburan air di wajahnya. Namun ia menahan pergelangan tanganku.


"G-gue ke kantin dulu." Aku terlihat salah tingkah saat Revaldo memegang tanganku. Revaldo menatapku, bukan dengan membenci. Entahlah aku tidak mengerti setiap tatapan Revaldo pada seseorang. Meskipun ia terlihat marah namun tatapannya berkata lain. Aku meninggalkannya pergi ke kantin. Aku melihat Leya duduk di kursi kantin sedang memakan mie pangsit disana.


"Eh Lin, lo dari mana aja." Leya melihatku duduk di depannya.


"Biasa ada sedikit masalah."


"Iya ya. Yang sekarang lagi sibuk. Jadwalnya padat." Leya berkata seperti menyindir ke arahku.


"Gitu aja ngambek ih. Gimana kelas kita menang gak?" Tanyaku mengalihkan perhatian supaya Leya tidak marah kepadaku.


"Lo sih gak liat. Tadi juga ada masalah terus Revaldo ngebantuin masalah kelas kita. Menang deh." Jelasnya sambil meneguk segelas es teh di depannya.


"Ih beneran? Emang masalah apa." Aku menanyakan serius. Entahlah aku semakin ingin tahu dengan Revaldo.


"Lin bisa bicara sebentar gak?" Tiba-tiba Keyra datang ke mejaku. Aku menelan ludah habis-habisan. Aku berusaha untuk biasa karena aku tidak salah soal kejadian tadi.


"Ley bentar ya." Aku mengikuti Keyra dari belakang. Ia berhenti di dalam ruang seni yang sudah tak terpakai lagi. Sebelumnya ruang itu untuk les melukis atau menggambar namun sekarang sudah seperti tempat buku-buku yang sudah usang .


"Maksud lo tadi sama Tama apaan?" Tanya Keyra mengarahku. Ia menutup pintunya agar semua orang tidak mendengar percakapan kami.


"Oh itu cuman salah paham." Aku merautkan wajah dengan masa bodoh. Aku tau aku sudah mengenal Keyra dari dulu. Ia tak mungkin berniat jahat padaku. Ia tak pernah membentakku. Ia tak pernah membenciku sekalipun aku selalu membencinya.


"Lin please jauhin Tama. Gue capek ngejar Tama. Gue udah dapetin dia. Lo malah ngrusak semua?." Keyra dengan nada memohon medekatiku.


"Gue gasuka Tama. Tamanya aja yang ngedeketin." Jelasku pada Keyra. Entah kenapa dia dibabi buta oleh Tama. Tama saja mungkin tak peduli dengan Keyra.


"Maksud lo ganggu apa? Lo sadar gak sih semenjak Tama ada, lo kayak ngrendahin diri lo. Bukan ngrendahin tapi nginjak harga diri lo. Jadi Tama itu pilihan terbaik lo? Lo berubah semenjak ada Tama." Aku meneriaki Keyra. Ia berhenti saat aku menyindirnya.


"Gue berubah lebih baik karna Tama." Jawabnya kemudian membuka pintu dan keluar meninggalkanku sendiri di dalam ruang itu. Aku sempat mendengar ia menahan tangisnya saat kumarahi.


Sepanjang perjalanan aku terus mengumpati perkataan terakhir Keyra. Aku tidak habis fikir ia terlalu memikirkan Tama sebegitunya. Mungkin memang aku harus berhenti. Membiarkan semuanya berlalu dengan seadanya.


"Nak kelas." Celetuk Revaldo dari kejauhan. Aku melihat dia mendekatiku.


"Apaan." Jawabku singkat.


"Bukunya gimana? Bagus ceritanya?" Jadi Revaldo datang untuk menanyai hal itu padaku.


"Lumayan. Belum semua gue bacanya." Jawabku sambil menahan untuk tegar tentang masalah yang sebelumnya kuhadapi dengan Tama juga Keyra.


"Lebih bagusan happy ending atau sad ending?" Tanyanya padaku. Entah kenapa tiba-tiba Revaldo menanyakan hal itu padaku.


"Sad ending." Jawabku singkat.


"Pasti habis itu kamu nangis kan bacanya." Ia menebak-nebak sambil menudingkan jari telunjuknya ke arahku.


"Happy ending udah pasaran. Kalo sad ending lebih membekas." Jawabku dengan penekanan padanya.


"Kalo cerita kita kamu lebih suka sad ending atau happy ending?." Aku dibuat bungkam dengan pertanyaan Revaldo yang satu ini.


 


 


Diharap oleh cinta


Terjalin dengan luka.