
"Siniin tangan kamu." Revaldo mengatungkan tangannya ke arahku. Ia menggendongku, kemudian ia melepaskan gendongannya tepat di atas kasur berlapis sprei yang berada di UKS. Aku duduk di tepi ranjang UKS. Sedangkan ia duduk didepanku lebih tepatnya di kursi UKS yang berada di depanku. Menunggu responku yang terlalu lama, ia mengaitkan tangannya pada telapak tangan kananku.
Ia sedikit menarik tanganku agar ia dapat melihat luka atas kejadian tadi.
Tarikannya membuat keseimbanganku hampir terjatuh. Tangan kanannya menstabilkan tubuhku memegang lengan kiriku. Saking kagetnya, aku menghempas tangannya yang menyentuh lengan tanganku.
"Sorry aku gak bermaksud." Aku hanya membalasnya dengan deheman. Ia segera mengobati tanganku. Sambil memandanginya, aku berprasangka bahwa ia orang yang baik.
"Kebetulan banget ya." Perkataannya membuyarkan pandanganku terhadapnya.
"Maksudnya?"
"Tau nggak? Kalo jam sekolah kaya gini aku tuh jarang liat kamu atau malah gak pernah liat." Aku berdiam saat ia membicarakanku.
"Anak kelas banget ya kamu." Ia berkata dengan menampilkan deret senyum pada bibirnya.
"Anak kelas? Nggak gitu juga kali." Aku tertawa renyah saat ia menjulukiku dengan julukan aneh seperti itu.
"Terus aku baru inget." Ia menanggalkan perkataannya.
"Inget apa?" Tanpa memastikan, aku mulai menjawab pertanyaannya. Yang biasanya aku hanya menjawab singkat atau bahkan meninggalkannya saat bertanya. Sekarang aku mulai merespon pertanyaannya atau mungkin kehadirannya tak bisa kuhindari.
"Inget kalo kamu tuh kecil jadi gak keliatan." Ejeknya yang sekarang menaruh obat-obat PMR di atas meja.
"Ngejek ya lo. Kalo emang kecil kenapa emang?"
"Ya gapapa sih. Gue masih suka kok." Ia menatapku dalam membuatku tak bisa melepaskan pandangan mataku padanya.
"L-lo gak masuk ke kelas?" Tanyaku sambil menghindari pandangannya.
"Males. Kalo ada kamu bawaannya pengen deket terus."
'Nggak boleh baper'
Ia kembali melekatkan tatapannya padaku. Membuat mata kami bersatu pada satu tatapan.
"Gue..balik kelas dulu." Aku segera beranjak pergi.
"Mau tau sesuatu gak?" Hanya sampai beberapa langkah, aku membalikkan badan. Tepat di belakangku ia berdiri menanyakannya.
"Kayaknya gak jadi deh, tuh liat." Ia memajukan dagunya ke arah cendela yang berada di belakangku.
Sontak aku kaget saat melihat Leya sesekali mengendap-endap melihat kedalam UKS.
"Gue balik duluan." Aku meninggalkan Revaldo sendiri di dalam UKS.
"Jangan lupa belajar ya anak kelas." Aku mendengarnya berteriak disaat aku melewati pintu UKS.
Diharap oleh diam
Hanya perlu bungkam.
Entah kenapa kehadiranmu seperti magnet tersendiri untukku. Mencoba pergi, namun kembali terseret pada dekapmu.
Kau merakit langkah seakan-akan hanya aku yang terikat oleh sekatmu. Bodohnya pula aku mengikutinya.
Percaya atau sekadar percaya semakin ku berjalan, semakin ku terjemurus pada kharismamu. Jelas-jelas ini bukan hal yang pernah kuukur sebelumnya.
Tentang dunia yang sama saja. Ya aku muak padanya, padamu, pada semuanya. Hingga akhirnya pedulimu tak pernah terjamah melebihi harapku. Ada sekalipun hanya bayangan samar semata .
"Katanya lo jatoh, ada yang luka nggak?" Leya kebingungan dan khawatir dengan kondisiku.
"Kata siapa?"
"Kata gue barusan." Kan kumat lagi si Leya. Untung saja aku masih sabar menghadapi temanku ini.
"Males deh bicara sama lo." Leya yang duduk disebelahku menenmpelkan suatu benda dengan suhu yang dingin di pipiku. Sontak aku membulatkan mata memegang benda yang ia tempelkan pada pipiku.
"Dingin Ley, seneng banget sih liat gue susah."
"Ini tuh buat lo. Lo capek kan." Ia mengarahkan botol air dingin padaku.
"Lo gila? Cuaca dingin kayak gini ngasih minuman es ke gue?" Omelku pada Leya.
"Ini bukan salah gue. Orang ini dari penggemar lo." Aku mengernyitkan kedua alisku. Setahuku aku tidak populer, aku tidak seterkenal itu sampai-sampai ada yang menggemariku.
"Yang tadi di UKS sama lo." Jawabnya enteng.
"Nih." leya memberikan note kecil yang terlipat. Aku mengambilnya.
"Lo udah baca ini?" Tanyaku memprediksinya.
"Ya udah dong. Gue kan sahabat lo jadinya harus tau semua." Ia memamerkan smirk sombongnya padaku.
Air ini kuperoleh dari hujan tadi. Tau kenapa? Karna hujan ini, hujan pertama ini mendekatkanku padamu. Jadi simpanlah. Ingat, jangan sampai diminum.
R to Ferelin
Aneh itu kesan pertamanya.
"Jadi lo udah tau Ley?" Aku menutup note kecil itu menaruhnya di kolong meja.
"Nggak terlalu tau persis. Lu utang cerita sama gue." Rupanya botol itu sudah ada sebelum aku dan Leya berada di kelas. Lalu bagaimana bisa Revaldo dengan cepatnya memberikan botol itu ke kursiku?. Jangan salah kira, kelas Revaldo berada disamping kelas ku. Berhubung aku tidak melihat sekeliling bangkuku. Dengan tiba-tiba Leya mengambil botol itu dan membacanya ketika aku mengalihkan perhatianku padanya.
Aku menceritakan semua hal yang bersangkutan dengan Revaldo pada Leya. Awalnya ia marah, bukan marah cemburu. Tetapi Leya juga tahu kepribadian Revaldo seperti apa jadi dia tidak bisa membiarkan sahabatnya sendiri masuk ke kehidupannya Revaldo. Setelah mendengarkan kisahku, ia mendukung saja selagi itu yang baik padaku.
"Lin, dengerin cerita gue ya." Titah Leya padaku. Aku dan Leya sedang duduk di kantin dengan camilan dan minuman yang berada di depan kami.
"Cerita apaan." Aku memajukan kursiku untuk mendengar ceritanya. Aku dan Leya terhalang meja kantin belum lagi suara ramai di kantin.
"Tapi raut wajah lo biasa aja dong." Aku mengambil snack di atas meja melemparnya ke arah Leya. Karena Leya tahu pergerakan tanganku, ia menangkap cepat snack yang kulemparkan padanya.
"Ini tuh udah paling biasa."
"Jadi lo inget waktu kita kemah dulu nggak?" Aku menganggukkan kepalaku sambil menyeruput segelas teh hangat di depanku.
"Nah--" karena ucapan Leya penuh penekanan, aku dibuatnya kaget.
"E setan biasa aja dong kalo ngomong." Aku yang sedari tadi santai dibuatnya terkejut. Leya hanya tertawa penuh cengirannya.
"Lo udah liat fotonya Revaldo disana belum?" Ia tiba-tiba menanyakan Revaldo padaku.
"Emang kenapa?"
"Fotonya aneh. Masa matanya ada tiga sih, kan serem." Ia menautkan wajah takutnya. Kupikir Revaldo berfoto dengan perempuan eh ternyata hanya berita seperti itu.
"Mana ada? Lo tau dari mana?" Aku kurang percaya hal seperti itu.
"Waktu itu lo nggak ada disekitar tenda, terus Revaldo nunjukkin foto itu sama sebagian anggota dewan." jelas Leya padaku.
"Masa sih? Terus fotonya mana?" Aku tidak percaya dengan perkataan Leya.
Bukan karna dia tak dapat dipercaya.
"Ciee yang pengen liat fotonya Revaldo." Ia memamerkan tatapan penuh ejeknya padaku membuatku geli melihatnya.
"Jadi ini cuman boongan lo ceritanya?" Aku menimpali balik perkataannya.
"Suer deh itu bener. Kalo pengen tau pinjem aja kameranya Revaldo."
"Nggak." Jawabku sesingkat mungkin pada Leya.
"Gak ingin karna malu atau gak ingin keliatan ke semua orang kalo lo pacaran sama Revaldo." Ledek Leya menampilkan deret giginya.
"Siapa juga yang pacaran sama dia. Sok tahu deh." Aku memalingkan muka saat Leya terus saja meledekku.
Satu hal yang kutau,
Hadirmu yang kiankali mencambukku.