F'Relin

F'Relin
3.



Aku sudah siap bersantai dengan buku novel yang kupegang. Ditemani bulan pada malam yang menjadikannya tak lagi kelam. Aku duduk diatas kasur sesekali berbaring sambil membacanya.


"Kenapa?" Sahutku seakan nampak membenci kehadiran Keyra.


"Ini." Keyra memberikan sepucuk kertas padaku.


"Apa?" Aku segera mengambil kertas yang ia berikan padaku.


"Itu dari Kak Revaldo." Aku menatapnya bukan lagi dengan wajah membenci. Namun penuh dengan kebencian.


'Apa? Kak? Bukannya kita itu seangkatan ya sama Revaldo? Dih dasar Keyra alay.'


"Kok dikasih ke gue? Ambil lagi deh." Aku menarik tangan Keyra melekatkan kertas itu pada tangannya. Sebab aku tak ingin lagi berdekatan dengan Revaldo.


"Itu jelas ada tulisan lo disana. Udah gue duluan." Ia meninggalkanku begitu saja. Belum sempat mengikutinya lalu menanyakannya, namun suara sepeda berayun melewatiku mendekati Keyra. Ya itu pasti kekasih pujaannya Keyra. Disitu aku memelankan langkahku dan membuang muka bila ia melihatku.


Aku memberhentikan bacaan novelku, mencari kertas yang diberikan Keyra padaku. Aku membuka resleting tas satu persatu dan mencarinya namun nihil tak ada. Sepertinya aku lupa menaruhnya, atau mungkin terselip buku. Tetap saja tidak ada. Aku membuka almari baju, meraih kantung saku. Rupanya ada didalamnya.


Kukira aku tidak dapat menemukanmu ketika malam, namun malam itu menemukanku padamu. Kucatat malam itu menjadi malam pertama kita bisa saling bertukar bicara.


R to Ferelin


Apa ini? Tidak mungkinkan jika dia menyukaiku?. Yang benar saja, lagipula malam apa yang dia maksudkan? Apa mungkin malam saat di perkemahan. Itu hanya kebetulan, atau dia yang membuat jalan ceritanya berbeda.


"Lin, ada telepon buat kamu." Aku beranjak dari tempat tidur mendengar ibuku memanggilku.


"Dari siapa Bu?"


"Nggak tahu katanya sih temen kamu." Ibu meninggalkanku bersama pesawat telepon yang ada di rumah kami.


"Iya, siapa?"


"Hai, gimana udah nerima suratnya?"


Aku mengenal suara ini, aku tahu siapa dia.


"Revaldo?"


"Yah ketauan. Langsung hafal sama suara aku ya."


"Nggak usah ganggu deh. Gue gak suka diganggu." Bicara dengannya harus memiliki kesabaran yang beruntun.


"Kalo dianggep gimana?"


Aku segera menutup telepon darinya. Siapa suruh ngomong dulu baru mikir.


 


 


Bila kuberi hati,


Mungkinkah kau akan pergi?


 


 


Tiba di sekolah dengan keadaan yang ngos-ngos an. Untung saja masih belum terlambat. Namun saat aku melewati parkiran sekolah, aku melihat Tama--lelaki Keyra. Ia nampak menunggu sesorang dengan menduduki sepedanya. Kupikir ia menunggu Keyra, rupanya aku salah memprediksinya.


"Tam" celetuk seorang lelaki yang melewatiku begitu saja dari belakang. Ia mendekati Tama dengan raut wajah kesal pada Tama.


"Berani banget lo ninggalin gue." Ia pun tanpa pikir panjang memarahi Tama.


"Pagi-pagi udah pacaran aja sih lo. Kan bisa-bisa gue nanti telat." Jelasnya. Aku melewati mereka begitu saja. Tidak peduli dengan percakapan mereka berdua.


"Lin"


'Revaldo?'


Ia yang tadinya berada di parkiran, dengan langkah panjangnya kini menyamai langkahku.


"Mau tau sesuatu nggak?" Tawarnya padaku. Aku masih fokus kedepan tidak memperhatikan ucapannya ataupun hadirnya yang ada di sampingku.


"Nggak." Jawabku singkat.


"Kan lo pacaran lagi." Tiba-tiba Tama melewati kami berdua. Ia mengucapkannya sambil memukul kepala Revaldo dengan tas yang dibawanya. Lalu berlari setelah mengatai Revaldo. Dengan begitu aku mempercepat langkahku agar Revaldo tidak lagi menggangguku.


"Sakit gob--" Revaldo memenggalkan perkataannya. Sebab ia sekarang  berada di dekat Ferelin. Takut jika Ferelin mendengarnya, kemudian semakin menjauhi Revaldo. Bahkan jika Ferelin tak mendengarnya, Ferelin juga sudah jauh dengan Revaldo.


Melihat Ferelin sudah tak ada di dekatnya, ia merasa gagal menjalankan rencana dadakannya.


"Sakit ***." Di sisi lain Revaldo puas saat Ferelin sudah pergi ia dapat mengumpati Tama yang tadi sempat memukul kepalanya. Ia meneriaki Tama namun percuma Tama sudah hilang dari penglihatannya begitu juga Ferelin.


 


 



 


 


"Kok lo keringetan sih Lin. Belum mandi ya lo." Leya duduk di bangkunya dengan sebuah buku diatas mejanya.


"Sembarangan. Ini gue abis lari tadi." Jawabku sambil duduk dibangkuku, dimana aku duduk sebangku dengan Leya.


Sepertinya bukan hanya perjalananku ke sekolah yang membuatku berkeringat, namun juga hadirnya yang tiba-tiba yang membuatku ingin mencari tahu. Aku menepis pemikiran gila itu. Tidak mungkin jika aku menyukainya.


"Lomba larinya kan nanti, antusias banget sampek lari pagi sebelum lomba." Ia menyenggol tanganku. Ah benar, sehabis pelajaran ini kelas kami akan dimulai praktek lomba lari. Sudah capek, nantinya capek juga lagi.


"Kok lo kemarin gak masuk sih. Gue kan sendirian jadinya."


"Ciee. Meskipun sendiri lo nggak kenapa-napa kan." Jawabnya enteng sekali sambil menertawai perkataannya. Gini nih kalau Leya gak dibercandain malah bercanda, ganti dibercandain malah serius. Kulayangkan tatapan sinisku saja  padanya. Pasti dia tahu maksudku. Jika aku sudah lelah bicara, aku akan menatapnya saja. Banyak temanku bilang jika aku memiliki mata yang sipit, semakin diam dilihatnya semakin melirik.


 


Dengan dirinya, ceritaku dimulai.