F'Relin

F'Relin
11.



Esok paginya aku disibukkan dengan jadwal ekstra sekolah yang seharusnya bukan tanggungjawabku. Untung saja aku bagian timer atau mengambil bola saat bola diluar lapangan. Itu membuatku capek dan bosan.


"Hei anak bola. Ambilin bola nya." Bisa dibilang salah dari pemain futsal meledekku seperti itu. Kemudian berulang kali mengeluarkan bola dari garis lapangan.


"Wih semangat banget udah dateng dari tadi." Revaldo menepuk pundakku. Revaldo kebagian tugas sama seperti ku tetapi di area pertandingan futsal yang kedua. Kalo aku sih di area yang pertama.


"Ya biasa sih anak rajin gue." Jawabku penuh kesombongan.


"Woii anak bola. Bolanya tuh--" Ia tak habis-habisnya menyuruhku mengambil bola. Ini masih pemanasan belum juga perlombaan dimulai.


"Brisik." Jawabku singkat kemudian mengambil bola itu dan melemparkan bola tersebut ke arah regunya.


"Jadinya anak kelas, anak bola apa anak rajin nih." Tanya Revaldo menyunggingkan senyumnya padaku.


"Anak setan." Jawabku kemudian meninggalkan Revaldo. Revaldo tertawa mendengar perkataanku. Setelah itu, ia pun pergi ke tempat kedua perlombaan futsal. Tepatnya perlombaan futsal antarkelas yang diadakan di sekolah kami. Bagi kelas yang menang akan menjadi perwakilan sekolah maju ke perlombaan yang sesungguhnya.


Tidak enaknya bagianku disini selain mengambil bola adalah dikenai bola. Belum lagi mengatur jarak antara penonton dengan pemain yang sedang berlomba. Sebab saking antusias penonton menyoraki bahkan hingga melebihi garis yang dibuat. Menurutku bukan menyoraki agar kelasnya menang melainkan menyoraki doi-doi nya yang mengikuti lomba futsal kali ini.


Waktu berhenti sesuai ketentuan waktu permainan dalam futsal. Kemudian kelas yang selanjutnya mendapat giliran berlomba adalah kelas Revaldo melawan kelas yang ada di bawah kelas Revaldo. Disitu Revaldo memang tidak ikut futsal. Namun disitu aku melihat Tama melakukan pemanasan. Sedangkan Keyra menyiapkan minuman yang sekarang dipegangnya. Disamping Keyra aku melihat Risya.


"Tama..semangat" Teriak Keyra di tempat penonton disaat Tama melakukan pemanasan. Tama membalas dengan menaikkan kedua alisnya dan melebarkan senyumannya pada Keyra.


'Dasar bucin alay.'


Tiba dimulai permainan futsal kelas Revaldo. Meski begitu, Revaldo tidak melihat atau men-support kelasnya. Ia sibuk menjalankan tugasnya di bagian lain. Karena aku terlalu muak melihat wajah Tama, dan membosankan jika tidak ada teman. Aku pergi sejenak ke area perlombaan kedua. Disitu aku melihat Revaldo duduk dengan santainya.


"Woii." Revaldo yang awalnya melihat perlombaan yang tengah ditandingkan, melihat bahwa aku berdiri di sampingnya. Sedangkan ia tetap duduk.


"Kok kamu ada disini. Dimarahin lo nanti." Tuturnya.


"Terus lo kenapa duduk. Mending gantian lo disana gue disini." Perintahku pada Revaldo. Namun ia tetap duduk di kursinya.


"Itu kelas kamu kan?" Ia menunjuk ke bagian regu kelasku.


"Terus kenapa?"


"Curang semua mainnya." Aku mengerutkan alisku menatap Revaldo.


"Masa aku gak dibolehin main." Aku menghela nafas sabar mendengar ucapannya.


"Sebagian dari aku kan kamu. Masa iya gak dibolehin. Gini-gini aku bisa kok menang." Ia berkata dengan nada sombongnya.


"Noh kelas lo lagi main." Aku menunjuknya ke arah area pertama. Kemudian aku terkejut melihat waktu yang sudah habis. Lalu aku kembali kesana dengan berlari. Kemudian menghentikan permainan. Jelas disitu Tama melihatku dengan raut wajah penuh amarah.


Setelah pertandingan itu kemudian dilakukan istirahat 30 menit. Aku melihat Leya ke kelas tapi aku tidak menemukannya.


"Maksud lo ngeberhentiin waktunya tadi apa." Aku menoleh ke pintu kelas melihat Tama masuk ke kelasku. Jelas-jelas kelas sekarang sepi karena semua akan ada di lapangan kalau tidak ya di kantin.


"Lo bego? Waktunya udah habis." Aku melawan perkataan Tama.


"Lo tadi ninggalin area lomba kan. Panitia gak becus lo." Tama memakiku habis-habisan.


"Sory gue bukan panitia. Gue cuma disuruh aja." Jelasku panjang lebar namun Tama tak segera pergi dari kelasku.


"Masih kurang lo gue hajar kemarin." Tama kemudian mendekatiku menyudutkanku pada dinding kelasku.


"Dan gue yang akan hajar lo sekarang." Ia melayangkan kepalan tangannya ke wajahku.


"Tama..." Seseorang memberhentikan perlakuan Tama padaku. Aku yang sempat ketakutan dengan Tama memilih kabur dari hadapannya saat pandangan Tama tak tertuju padaku. Sontak Tama menyembunyikan kedua tangannya ke belakang badannya.


 


 


 


Pecundang hanyalah si malang


Yang mengedepankan perang.