F'Relin

F'Relin
2.



Menengok gebyar kembang api dari balik tenda, ditemani secangkir kopi sambil berbaring di atas tikar.


"Pernah denger cerita tentang tempat ini gak Lin?" Leya menyodorkan pertanyaan itu padaku. Ia berbaring menempatkan kepalanya diatas tas dengan memakan sebungkus camilan.


"Cerita apaan?" Terdengar seperti akan bercerita, aku duduk menyilangkan kedua kakiku, menghadap pada Leya.


"Lo tau kan tadi temen kita ada yang kesurupan?" Aku antusias mendengarnya sebab aku lebih tertarik ke cerita horror atau cerita aneh-aneh lainnya. Yang dikatakan Leya memang bener sih, ada sebagian banyak teman kami yang mengalami kesurupan atau hal yang janggal disini.


"Nah, itu karna tenda kita di pojok."


"Hubungannya apa dong?" Tenda dipojok dengan kesurupan? Sepertinya hal yang tidak masuk akal. Sebab dari awal aku berfikir, orang yang kesurupan berarti imannya lemah atau mungkin tidak beriman--tapi tidak mungkin.


"Lo gak tau? Sama sih gue juga gak tahu."


"Yaelah, gue kirain tahu." Aku mengambil beberapa keripik dari dalam snacknya kemudian kulemparkan di sekitar wajahnya. Siapa yang tidak kesal coba, sudah baik-baik kudengarkan eh malah bercanda.


"Ih Lin, jangan gitu dong. Kena wajah nih." Ia membenarkan diri tidur memunggungiku.


"Biarin. Ketemu hantu sono lu."


"Eh tapi bener, intinya tempat ini itu angker." Leya mengatakannya dengan posisi masih memunggungiku.


"Bodo."


"Yeu dibilangin. Gue mau tidur, jangan ganggu." Kami masih di tenda berdua. Untuk lainnya? Masih membereskan tempat diadakannya pentas seni. Karna aku dan Leya sudah tahu agendanya, akhirnya kami pun bersembunyi di tenda agar tidak mengikuti hal-hal yang membosankan.


"Gue tinggal ah" ejekku agar ia terlihat cemas. Buat balas dendam lah, siapa suruh php. Namun Leya terdiam tak bersuara. Mungkin dia sudah tertidur. Biasanya kan dia takut kalau ditinggal sendirian. Dengan mendekati Leya secara hati-hati, Oh rupanya benar dia sudah tidur.


Saat aku hendak ingin berbaring, sepertinya kakiku menyenggol sesuatu yang lunak. Apa yang ada di sekitarku sekarang? Apa ular? Ataukah hantu? Secara pelan aku mulai menengok dan yang bener saja itu hanya lah seekor kucing. Sebentar kucing? Kupikir aku pernah melihatnya.


Kepikiran cerita Leya tadi, apa bener di belakang tenda? Kucing ini tiba-tiba hilang?--Namun kucing ini terlihat lucu, aku segera menangkapnya. Kemudian berjalan keluar tenda.


"Syukurlah kalau kau bukan hantu." Ucapku sambil mengelus bulu kucing tersebut.


"Kayaknya dia suka sama kamu." Aku mendengar suara itu. Mengetahui siapa yang berkata, aku memundurkan langkahku. Aku tidak ingin terlibat dengannya.


"Ini punya lo kan?" Dengan menghilangkan rasa cemas, aku menyodorkan kucing itu pada Revaldo. Iapun segera mengambilnya.


"Kemah ini buat manusia bukan buat  kucing. Suruh pergi deh itu kucing." Aku melangkahkan kakiku kembali ke dalam tenda


"Kalau aku berkemah di hati kamu, boleh?." Aku memberhentikan langkahku mendengar perkataan anehnya.


"Lo tau ini malem kan? Jangan berani-beraninya kesini. Ini kawasan tenda perempuan. " Tegasku mencuekinya.


"Berarti kalau siang boleh dong."


'Lah kok nyolot.'


Lebih baik aku aku tidak menjawab pertanyaannya dan pergi ke dalam tenda, meninggalkannya.


 


 


Untuk perasaan yang nyata


Bersabarlah,


Satu jangkah t'lah kulangkah.


 


"Jangan ngagetin dong Ley, astaga." Aku mendekatinya, duduk disampingnya.


"Gue kayak kenal lo tadi bicara sama siapa." Aku memandangnya keheranan.


"Lo nguping ya."


"Kedengeran aja." Jawabnya enteng.


"Dia tuh playboy nya naudzubillah, jangan deket-deket dia deh." Serasa tak paham dengan topik yang dibicarakannya aku mengerutkan kedua alisku.


"Kan, lo pura-pura bego." Timpalnya seakan tak ada ruang untukku bicara.


"Lah--"


"Revaldo tuh banyak mantannya, sekali putus numbuh seratus." Jawabnya panjang lebar. Sepertinya Leya tidak suka bila aku berdekatan dengan Revaldo. Jangankan Leya, aku pun juga tak ingin lagi bertemu dengannya. Baiklah, tadi hanya kebetulan. Memang, bagi siapa saja yang langsung melihat Revaldo mungkin dalam batinnya Revaldo itu keren atau lumayan perfect namun dibalik itu, kepribadiannya justru kebalikan dari wajahnya.


"Kok lo marahin gue sih. Gue juga gak suka kok sama Revaldo." Tegasku segera mengelak pernyataan Leya.


"Gue cuman nasihatin Lin, gue kan sahabat lo. Gue udah tau modelannya si Veraldo."


"Jangan-jangan lo..mantannya Revaldo ya?" Aku mengangkat kedua alisku mecondongkan tubuhku ke depan tubuhnya.


"Dih, siapa juga yang mau." Ia mendorong tubuhku ke belakang. Aku menanggapinya dengan tawaku.


 


 


Bukan aku yang berkata


Tapi hadirmulah yang nyata.


 


 


Seharian penuh tanpa Leya membuatku bosan kemana-mana. Hari ini memang sudah masuk jadwal seperti biasa. Namun karena Leya sakit, aku tak bisa mengobrol dengannya. Biasanya sih ia cukup pendiam. Tapi kalau udah diganggu yakin deh berisik Leya jadinya.


Seperti biasa, aku berjalan kaki sepulang sekolah. Biasanya sih aku tidak sendiri, seorang teman masa kecilku kerapkali menemaniku. Itu sudah dulu. Dia sekarang berbeda, dia berbeda semenjak bersekolah disini. Itu membuatku membencinya, pernah aku melupakan rasa benciku tapi ia selalu saja menyulutnya.


"Fel" panggil seorang perempuan, aku menoleh melihat keberadaannya. Sambil berlari ringan ia datang padaku. Dia adalah orang yang kumaksud. Keyra.


"Kenapa?" Sebenarnya aku sudah muak dengan perilakunya. Kupikir dia menganggapku teman, namun dia datang hanya sekadar perlu.


Ingin tahu kenapa aku membencinya, itu karena sebelum kami bersama di sekolah ini, kami sangat akrab. Kemudian saat ini, semenjak dia mengenal cowok, semenjak itulah pertemanannya padaku seakan lenyap. Bukan karena berebut lelaki, tapi pandangannya terhadap lawan jenis itu terlalu berharap tinggi. Sedangkan aku, aku tak suka perilakunya sekarang yang hanya mengesampingkanku.