
Aku sudah tidak kuat bertahan di kelas. Aku sudah menyerah memampangkan wajah ceriaku.
Leya memberitahu salah dari guru di sekolah ini. Ia menceritakan bahwa aku sakit. Setelah itu, aku diantar guruku menuju rumahku. Guruku memilih untuk kembali ke sekolahan setelah mengantarku.
Suasana di rumah sepi. Rupanya ayah sudah kembali bekerja, begitupun dengan ibu. Adikku, ia juga sedang sekolah.
Aku memilih tidur di kasur, menarik selimut sampai menutupi kedua tanganku. Sesekali menelingkupkan tubuhku agar aku bisa tertidur. Sebab penghilang rasa sakit hanyalah tidur bagiku.
Tak terasa aku tertidur hingga siang. Saat kubangun, aku tidak merasakan pusing lagi. Aku keluar kamar, melihat ibuku membawakan makanan padaku. Aku menyantapnya, namun tidak kuhabiskan. Karena kurasa badanku sudah agak baikan, aku memilih mandi. Dan kuputuskan setelah itu aku pergi ke rumah nenek Leya untuk menanyakan tugas yang kutinggalkan seharian ini.
Sebenarnya ibu melarangku, karena menurutnya kondisiku belum sepenuhnya pulih. Aku menenangkan ibuku, dengan bersepeda mungkin akan mengembalikan kesehatanku.
"Leya...assalamualaikum" sambil mengetok pintu rumah nenek Leya.
"Eh waalaikumsalam. Felin, loh udah sembuh?" Ia terlihat kebingungan mengingat kondisiku sewaktu pagi sudah terlihat sakit.
"Lumayan." Ia menyuruhku duduk di kursi ruang tamu.
"Jangan bilang tangan Revaldo tadi yang nyembuhin lo." Aku tersenyum mendengar perkataan Leya yang aneh-aneh.
"Ih Felin, gue serius. Jangan ketawa dong."
"Abisnya lo ngomong ngawur banget."
"O iya tadi ada tugas apa aja Ley?" Tambahku.
"Lo lagi sakit. Lo gak boleh mikir." Ucapnya penuh penekanan padaku.
"Jadi lo gak akan bisa nyontek lagi dong." Timpalku.
"Eh tadi ada di lks cuma mtk doang." Aku tertawa melihat gelagat Leya. Biasanya Leya menyontek tugasku. Saat aku tidak bisa mengerjakannya, ia akan memikirkan caranya--cara untuk menyontek jawaban lain.
"Tadi Revaldo nyariin kamu." Aku mendengarkan jelas Leya mengatakan Revaldo padaku.
"O iya, besok Revaldo lomba voli loh mewakili sekolah. Mungkin itu yang Revaldo pengen bicarain sama lo." Jelasnya.
"Lomba voli? Pasti Revaldo menang lomba antarkelas." Aku sudah memastikan hal itu.
•
Aku melajukan sepedaku. Leya memberiku kesempatan untuk mendatangi rumah Revaldo yang tak jauh dari kompleks neneknya. Di sepanjang perjalanan aku terngiang penjelasan-penjelasan Leya. Leya tak segan-segannya memberitahukan keberadaan Revaldo tinggal.
Aku mendatangi rumah Revaldo. Aku berulang kali memanggil namanya. Namun tak satupun keluar dari pintu rumahnya. Akupun memilih untuk pulang.
Sesaat aku melewati lapangan yang kerapkali digunakan Revaldo berlatih. Kali ini aku melihatnya disana. Saat aku ingin mendekatinya, aku mengurungkan niatku mengetahui Revaldo saat ini tengah bersama Risya. Mereka bermain bola voli bersama. Dengan net sebagai pembatas. Aku melihat seorang lelaki lagi yang saat ini duduk menyeimbangi net. Kupikir dia menjadi wasitnya.
Yang benar saja bahwa aku cemburu. Tanpa pikir panjang aku pergi dari tempat itu. Padahal aku ingin mengucapkan selamat atas kemenangan lomba voli antarkelas, dan selamat bahwa Revaldo ditunjuk menjadi salah satu anggota club bola voli. Bukan sekadar ucapan saja, tetapi aku merindukannya.
Rupanya aku terlambat.
Hingga malam tiba, aku mengurungkan diriku di kamar. Mengingat Revaldo begitu akrab dengan Risya membuatku cemburu. Bahkan setelah aku menyerahkan seluruh hatiku pada Revaldo.
Aku lebih memilih diam menjerit dalam batinku. Meskipun beberapa kali merusak perasaanku. Rupanya dihantui kecemburuan itu menyiksa. Melihat dari sisi percaya kita sendiri. Tanpa peduli apa yang orang lain jelaskan.