
Aku kembali lagi dengan pekerjaanku di lapangan. Dan begitu pula dengan Revaldo. Seusai lomba futsal, aku pulang ke rumah. Malam harinya aku teringat pertanyaan Revaldo. Aku tak bodoh dengan pertanyaannya. Aku tahu maksud dari pertanyaannya. Tapi aku masih ragu niatnya mendekati itu sebab apa. Namun aku mulai terbiasa dengan Revaldo.
•
Aku melihat keramaian di sekitar lapangan sekolah pagi ini. Bukannya perlombaan sudah berhenti kemarin dan tinggal menunggu pengumuman juara ya.
"Ley, lo gak ke kelas?" Tanyaku saat Leya berada di kerumunan.
"Lo gak tau? Hari ini kan ada lomba voli." Aku mengangguk melihat sekeliling lapangan.
"Terus siapa yang wakilin kelas kita?"
"Tenang. Udah ada. Yang penting bukan lo." Jelasnya dengan nada meremahkanku.
"Yeu. Emang gak bisa kok." Leya menyuruhku menaruh tas di kelas. Leya masih di lapangan menanti ku kembali dari kelas.
"Lin, tuh Revaldo main." Leya menunjuk Revaldo yang memakai kaos dan celana training. Aku segera mendekati lapangan. Kemudian melihatnya berlomba voli. Kaos nya nampak basah dengan keringat yang menentes. Beberapa kali ia menyibakkan rambutnya ke belakang. Membuat para wanita menyorakinya. Entah kenapa saat Revaldo dan teman sekelasnya memenangkan lomba. Sudut bibirku terangkat. Aku seperti bangga dengannya.
Aku melihat Revaldo menselonjorkan kedua kakinya bersama temannya dengan melakukan pendinginan. Sebelum itu Leya menyuruhku membeli sebotol air minum untuk Revaldo. Leya menyuruhku melakukan itu karena kemarin saat lomba futsal, Veraldo membela kelasku. Dan hari ini untuk kemenangannya.
Saat aku berjalan kesana, tiba-tiba Risya memberikan sebotol minum pada Revaldo.
"Lo pasti haus kan. Nih." Revaldo yang duduk melihat Risya mendongak. Kemudian tersenyum dan menerima sebotol air itu. Revaldo pun meminumnya.
Revaldo pergi menjauh dari teman-temannya kemudian Risya mengikutinya dari belakang. Revaldo memilih tempat sendiri tetapi masih berada di lapangan. Ia duduk. Disusul Risya duduk di sampingnya. Revaldo kemudian mengalihkan pandangannya. Ia melihatku berdiri dengan tatapan sinisku. Dengan cepatnya aku membuka tutup botol itu kemudian meminumnya sendiri. Dan meninggalkan lapangan.
Kupikir Revaldo benar-benar menyukaiku. Padahal aku sudah mulai percaya dengannya.
Aku memilih pergi ke kelas. Aku membaca buku darinya. Suasana hatiku tak tenang, membuatku tak bisa melanjutkan bacaanku.
"Lin kenapa aku gak liat kamu nyorakin aku tadi." Aku seperti mendengar suara Revaldo. Aku menoleh ke samping. Ia duduk di bangku Leya. Ia duduk di sampingku.
"Gue liat. Gue sayang suara gue kalo nyorakin lo." Aku mengahadapkan tatapanku ke buku. Meskipun aku tidak membacanya. Pura-pura sibuk saja dan membaca buku.
Ia mengambil botol yang ada di mejaku. Tepatnya di depanku. Tanpa pikir panjang, Revaldo pun meminumnya. Aku menganga tak percaya apa yang dilakukan Revaldo.
"Itu kan punya gue. Kok lo minum sih." Tetapi Revaldo masih tetap menenguknya.
'First kiss?'
"Maklumlah haus." Ia menorehkan senyumannya padaku
"Jadi itu yang buat kamu diem kaya gini." Ia tersenyum kegirangan saat aku menatapnya.
"Gak. Biasa aja." Jawabku enteng agar tidak terlihat jika memang aku cemburu. Namun Revaldo sudah mengetahuinya.
"Ciee. Diem-diem cemburu." Katanya sambil meledekku.
"Ih apaansih enggak." Aku mendorong tubuh Revaldo yang mencondongkannya padaku.
"Nak kelas cemburu ni ye." Ia terus meledekku kemudian tertawa mengarahkanku. Aku terus mengelak perkataannya. Aku dibuatnya tertawa kembali olehnya. Suasana didekatnya terasa panas. Namun aku ingin tetap di sampingnya.
Revaldo kemudian membuka kaosnya. Ia sekarang telanjang dada. Aku yang ada di sampingnya membulatkan mataku. Melihat perutnya yang terbentuk. Secara refleks aku menutup mataku dengan kedua tanganku.
"Rev, apaan sih. Pakek baju lo. Lo mau ngapain." Aku masih menutup wajahku dengan tanganku.
"Panas banget Lin." Protesnya di hadapanku. Aku sih sudah tahu jika dia sudah keringatan sebelum ke kelasku.
"Tapi nggak gitu Rev. Pakek balik gak." Pintaku tetapi tidak diindahkan oleh Revaldo.
"Curang kamu. Masa semua olahraga keringetan. Kamu nggak." Revaldo mencondongkan kembali badannya ke arahku. Aku memundurkan badanku. Aku menahan nafasku agar aku tidak menjerit di hadapannya. Aku masih menutupi mataku. Saat ia semakin mendekat, tanganku yang berada di samping meja mengambil buku kemudian menggeplaknya tepat di wajahnya. Ia menyeringai kesakitan. Sementara aku pergi dari hadapannya.
Sayangnya, perasaan itu tidak bisa
diharapkan.