F'Relin

F'Relin
7.



Sesuai perjanjianku kemarin dengan Leya, akupun pergi ke tempat nenek Leya. Di bawah siang yang begitu terik. Seperti dibakar oleh matahari. Hampir sampai di depan rumah nenek Leya, Leya melambai-lambaikan tangan ke arahku. Rupanya ia sedang menungguku. Mungkin takut aku salah jalan.


Aku disambut baik oleh nenek Leya. Setelah itu nenek Leya pergi meninggalkanku dan Leya di rumah sedangkan nenek Leya pergi ke sawah yang ada tak jauh dari rumah ini. Tak lupa sebelum itu, nenek Leya menyuguhkan beberapa camilan di meja. Sesekali kumakan camilan itu hingga tak kurasa pekerjaan kelompokku dengan Leya sudah selesai.


"Lin, lo kesini tadi nggak liat Revaldo?" Aku dan Leya sedari tadi duduk di atas tikar. Tempat dudukku dan Leya ditengahi dengan meja yang diatasnya terdapat lembaran kerja kelompok kami.


"Dimana-mana ngomongin Revaldo. Emang Revaldo dimana-mana apa."


"Hah?" Perkataanku membuat Leya tidak bisa menanggapinya. Ya, kapasitas otaknya dengan otakku itu berbeda--eh nggak. Sebenernya sama aja sih. Di kelas aja kalo soal ranking selip-selipan. Rankingnya biasa-biasa aja kok. Kalaupun tinggi pun mungkin juga beruntung.


"Lo tadi kesini nglewatin lapangan gak sih?" Tanya Leya.


"Lapangan buat kemah dulu?" Tanyaku balik pada Leya. Ia menjawab dengan dehemannya. Memang lapangan itu berada di sekitar rumah nenek Leya. Leya beruntung waktu itu, di jam istirahat ia bisa pulang, bisa makan, bisa mandi tanpa harus mengantre. Tetapi waktu kemah Leya tidak memanfaatkannya karena jarak lapangan itu dengan rumah nenek Leya terbilang jauh jika ditempuh dengan jalan kaki. Belum lagi agenda kemah harus tepat waktu.


"Kalo gak lewat situ, gue lewat pintu dapur lo gitu?" Yang benar saja, jelaslah aku hanya lewat jalan itu, sebab hanya itu yang dekat.


"Apaansih Lin, gak lucu. Gue tanya beneran sama lo."


"Ya kalo gue lewat situ terus kenapa? Ada hantunya? Lo masih ngungkit cerita horror lo itu." Jawabku panjang lebar.


"Ini kan gue mau ceritain Revaldo bukan hantu." Leya berdiri, menyuruhku pula untuk berdiri. Ia menarik tanganku. Ia menuntunku berjalan keluar pintu. Ia menunjuk perumahan yang berada di depan rumahnya namun terlihat sedikit jauh.


"Tuh, disekitar situ ada rumah Revaldo." Aku melihat tunjukkan jarinya.


"Benaran? Yang mana rumahnya?"


"Ya kan gue nunjuk jalan ke rumah Revaldo bukan rumah Revaldo." Aku mendorong ke bawah kepala Leya. Ia membuatku emosi saja. Aku pun kembali duduk, masuk ke dalam rumahnya.


"Ngapain? Terus lo kok tau?"


"Jelaslah gue tau. Apalagi nenek gue. Gue mah enek."


Leya pun menjelaskan bahwa Revaldo tinggal sekompleks dengan nenek Leya. Revaldo sering ke belakang rumah nenek Leya sebab Revaldo dengan teman-temannya memanfaatkan waktu untuk memancing. Pas sekali dengan bulan-bulan ini yang cuacanya penghujan. Tidak disangka rupanya nenek Leya memiliki kolam ikan di belakang rumah yang berseberangan dengan selokan yang apabila musim hujan bisa mengakibatkan banjir.


Leya juga tahu jika Revaldo sering mengikuti lomba voli antar desa ataupun antar sekolah. Biasanya Revaldo bermain voli di lapangan. Leya tidak tahu selebihnya, karna nenek Leya yang menceritakannya.


Di tengah cerita yang Leya tahu tentang Revaldo, terlihat bola menggelinding dari luar ke dalam rumah Leya. Ya karna pintu dibiarkan terbuka. Bola itu kemudian kuambil. Sesaat setelah itu, seorang lelaki berdiri di depan pintu. Tangan lelaki itu mengetuk pintu namun setelah beberapa ketuk lalu terhenti. Aku tidak percaya jika itu Revaldo. Ia mengenakan kaos yang basah karena keringatnya dengan nafas yang tersengal-sengal.


 


 


Mengikatmu padaku sama saja


Mengikat luka ditubuhku.