F'Relin

F'Relin
8.



Leya membisikkan sesuatu padaku. Membuyarkan pandanganku yang dihadapkan dengan Revaldo.


"Ini bola lo?" Tanyaku memulai percakapan dengannya.


"Eh, iya." Aku memegang bola itu mengulurkannya pada Revaldo. Tanganku jelas tak sampai, membuat Revaldo harus masuk ke dalam rumah. Namun saat hendak melangkah Leya melarangnya.


"Tunggu.." Leya mengambil bola itu kemudian melemparnya keluar namun bisa ditangkap oleh Revaldo.


"Kalo lo masuk rumah gue. Yang ada tuh tambah kotor." Tambah Leya. Ia memarahi Revaldo.


"Rumah lo? Woii. Lo kemana aja nggak pernah ngebersihin rumah ini. Yang ada nenek yang tinggal disini yang ngebersihin." Revaldo menjelaskannya nampak akrab dengan lingkungan disini. Membuat Leya membenci Revaldo. Namun bisa dikatakan Leya tidak begitu akrab dengan lelaki. Jadi Leya memilih untuk tidak menanggapi atau memilih menjawab singkat.


"Bukan urusan lo." Jawab Leya singkat.


"Dasar cucu durhaka." Revaldo meninggalkan rumah nenek Leya setelah mendapatkan bolanya. Namun sesaat beberapa langkah dari jalannya, ia terhenti dan membalik badan.


"Lin, jangan ngelamun. Jangan cemburu nanti aku bingung." Revaldo memamerkan senyumnya lalu pergi. Aku yang mendengar itu hanya mampu diam. Sebab aku hanya melihati Leya dan Revaldo saat berbicara tadi.


"Beneran Lin, lo cemburu?" Tanya Leya. Wajahnya tiba-tiba berada di depan wajahku. Seperti orang yang ingin tahu segalanya.


"Nggak tuh." Mungkin dari perbicaraan yang Leya dan Revaldo bincangkan tadi, aku merasa terpojok. Sepertinya Revaldo tahu banyak tentang nenek yang tinggal disini bisa jadi dia tahu semua hal tentang Leya. Begitupun Leya yang sempat menceritakan Revaldo padaku. Mungkin Leya tau semua yang berkaitan tentang Revaldo. Tapi Leya tidak begitu, aku tidak ingin curiga dengannya.


"Gitu aja ngambek. Gue nggak bakal suka kok sama Revaldo lo. Dia kan playboy-nya lo." Leya mencubit pipiku.


"Apa sih Ley. Gue mau pulang dulu." Aku memberesi buku di meja ke tasku.


"Jangan marah dong Lin. Revaldo kan juga sukanya sama lo." Aku menatapnya dengan wajah tak percaya. Sebenarnya aku tak percaya jika Revaldo menyukaiku, kupikir aksinya mendekatiku itu palsu. Seperti tidak bisa dipercaya tindakannya.


"Sampein salam sama nenek lo ya." Aku menggendong tasku di punggungku. Melewati pintu rumah nenek Leya.


"Oke. Ati-ati Lin." Leya melambaikan tangannya. Saat aku sudah mengayun sepeda cukup jauh dari rumah nenek Leya. Namun Leya masih melihat kepergianku.


Saat melewati lapangan yang dibicarakan Leya, aku memelankan kayuhan sepadaku. Aku melihat lapangan itu nampak kosong tidak ada seorangpun. Sekarang mungkin sekitar jam 5 sore. Tidak akan sampai maghrib jika pulang ke rumah.


"Kok lo ada disini?" Tanyaku kebingungan melihat Revaldo datang-datang menanyaiku. Untung saja aku tidak memiliki riwayat jantung.


"Apa salahnya nemenin anak kelas pulang ke rumah?" Aku mengerutkan alisku. Masih saja dia bergurau tentang hal itu padaku.


"Apaan sih gue bisa pulang sendiri." Sedari tadi Revaldo memberhentikan sepeda di depanku. Aku mulai mengayuh sepeda dan meninggalkannya. Namun Revaldo yang ada didepanku, meluruskan tangannya ke samping. Membuat jalanku terhenti. Aku pun mengerem sepeda mendadak. Tepatnya saat ia meluruskan tangannya di depan tubuhku.


"Aku gak percaya kamu bisa balik sendiri. Ini kan di luar bukan di kelas." Revaldo menatapku seperti penuh dengan ejekannya jangan lupa dengan tawa ejeknya.


"Eh maaf  jangan ngambek dong. Kan cuma bercanda." Melihatku terdiam, ia nampak bingung jika nantinya aku marah padanya.


"Iya gue marah sama lo." Jawabku sambil menatapnya dengan wajah yang kesal.


"Maaf deh. Aku anterin pulang ya." Pinta Revaldo.


"Gak usah." Aku menoyorkan tanganku ke kepala Revaldo membuatnya hilang seimbang dan terjatuh. Di samping itu aku memanfaatkan kabur darinya.


"Lin, sakit tau." Aku mendengar teriakan Revaldo sesekali aku menoleh ke belakang melihat Revaldo dengan wajah kesakitan membuatku tertawa lepas di jalanan. Entahlah seperti hanya ada aku dan Revaldo di jalan ini. Baru kali ini aku melihat Revaldo kesakitan, sesekali lah aku yang menjahili. Bukan harus dia saja.


 


Melepas tawamu tak semudah


Membuat rasamu untukku.