F'Relin

F'Relin
1.



Teriakan setiap orang hampir memenuhi penjuru lapangan. Percikan api untuk menyalakan kompor. Membawa ember dengan air penuh.


Berada di alam perkemahan. Ya. Perkemahan yang diadakan tiga hari kini tersisa dua hari.  Perkemahan antarsekolah yang diadakan satu tahun sekali ini, melibatkan banyak anggota dewan berpartisipasi.


"Lin, ngaduk nasinya nggak kayak gitu." Siapa lagi yang mengoceh kalau bukan Bu guru mami yang tidak pernah ingin disalahkan.


"Ketauan kan kalau kamu gak pernah masak di rumah." Aku menghela nafas. Sesekali mengatur helaan nafas agar amarahku tak datang secara brutal. Sudah lama aku memendam kebencian--eh kesabaran padanya.


"Kayak Tia dong caranya." Dari awal memang niatnya senang sekali membandingkanku.


'Tabahkan aku yatuhan.' Berhubung aku bernotabene sebagai anggota dewan ya tentunya aku melakukan hal ini sejak kemarin.


 



 


"Lin, dipanggil Kak LG tuh, buat nyiapin pentas nanti malem." Seorang perempuan menghampiriku--Mei tanpa basa-basi memegang pergelangan tanganku, diajaknya seraya berlari  bergegas untuk pergi.


"Main seret-seret aja sih Mei, capek tau." Aku mengatur nafas sembari menyeka keringat di sekitar wajah.


"Lelet sih lo." Aku hanya menanggapi perkataannya dengan lirikan mataku. Bisa dibilang Mei seorang yang kuat dalam fisik, sedangkan aku rata-rata lah. Bagaimana tidak capek, pagi hingga siang dipapar panasnya matahari. Malamnya diselimuti hawa dingin. Belum lagi tempat baru membuatku susah untuk tidur nyenyak.


"Udah kumpul semuanya?. Jadi Mei nanti berperan sebagai dokternya, untuk Felin berperan jadi pasien--" karena aku sudah tahu peranku terlebih dahulu, aku hanya mengangguk-anggukkan kepala saja. Kak LG tak lain adalah pembina kami, biasanya ia akrab memanggilku Felin. Bukan hanya Kak LG tapi semua teman dan kerabatku memanggilku Felin. Tak sengaja mengedarkan pandangan mata, aku bertemu dengan matanya.


Siapa yang tak kenal dengan lelaki ini. Lelaki yang terkenal dengan julukan playboy nya. Lebih akrab disapa dengan Revaldo. Entah sudah berapa banyak wanita yang ia kencani. Faktanya kehidupan yang ia jalani penuh dengan percintaan. Karena risih kuputuskan membuang muka saat melihat senyuman picingnya yang tertuju padaku.


Akhir-akhir ini kerapkali aku bertemu dengannya. Seringai senyumnya tak luput lagi bila bertemu denganku. Padahal ia sudah memiliki kekasih, masih saja melirik perempuan lain.


"Lin, balik tenda gak?" Aku mengedarkan pandanganku ke belakang tepat saat Mei menepuk pundakku.


"Loh, Udah selesai latiannya ya?"


"Gini-nih mesti gak dengerin ya kan?" Ia mengacungkan jari telunjuk tempat di depan wajahku. Aku melihat sekeliling, dan semuanya seakan hilang saja.


"Mei, Kak LG kemana? Kok ilang sem--" tanyaku ke arah Mei.


"Lah kok ditinggal. Mei tungguin." Sebenarnya aku ingin mengejar Mei, namun jika berjalan sudah membuatku capek, bagaimana dengan berlari?.


 


Dia yang datang tanpa terpanggil, kuharap tadi menjadi terakhir kali.


 


Malam hari yang dipenuhi suara-suara backsound musik menjadi puncak terakhir malam perkemahan. Belasan kembang api tergambar pada gelapnya langit. Disamping itu, perayaan pentas seni hampir segera berakhir. Untuk pentas seni kami, telah usai sejak tadi.


Ditemani dengan sahabat dekatku--Leya kembali ke tenda karna terlalu malas dengan tontonan pentas seni.


"Lin, bantuin beresin barang-barang gue yuk." Leya memintaku saat sudah berada di depan tenda kami. Aku hanya mengiyakan permintaannya.


Tepat di belakang tenda, terdengar suara gemrusuh. Sedikit takut namun aku mulai mendekatinya. Kupikir yang membuat suara itu Leya namun rupanya hanya seekor kucing. Seekor kucing yang kelaparan tengah membuat suara dengan sebuah panci. Tunggu, tapi kenapa seekor kucing bisa ada disini?. Satu langkah aku mendekatkan diriku untuk mengambil kucing tersebut.


"Rupanya disini." Aku dibuat terkejut dengan seorang yang baru datang tepat di belakangku. Sontak aku pun menoleh. Lelaki itu berjalan melewatiku dan memgambil seekor kucing tersebut. Ia segera berdiri dan kembali menatapku dengan seringai senyumnya. Siapa lagi dia kalau bukan Revaldo.


"Lin" tepukan di bahuku membuyarkan prasangka anehku pada Revaldo.


"Lo sendiri kenapa disini? Gue kan tadi ke toilet sebentar."


"Tunggu-tunggu bukannya tadi lo nyuruh gue buat bantu beresin barang lo?" Hari ini semakin aneh saja. Kan gak lucu kalau aku tadi kembali ke tenda sendirian.


"Iya. Tapi abis itu gue tinggal ke toilet. Ehehe maaf." Leya melebarkan senyumnya padaku.


"O iya tadi--" Perkataanku terpotong setelah menengok kebelakang lagi ternyata Revaldo sudah tak ada lagi di sana.


"Apaan?" Lagi-lagi Leya membuyarkanku.


'Loh, gak ada? Apa bener tadi itu setan?'


"Udah ah, balik tenda dulu aja." Leya menarik tanganku memasuki tenda kami.


 


 



 


 


"Kenapa kamu datang padanya? Kamu juga merasakannya?" Lelaki itu mengelus bulu-bulu kucing dengan telapak tangannya. Dengan sudut bibirnya tertarik ke atas. Menikmati dinginnya malam setelah kejadian singkat tadi.


 


 


Bila hanya sekadar temu


Aku rela 'tuk merayu.