Duda Perjaka Sang Ceo

Duda Perjaka Sang Ceo
Istri Sah VC Mantan



"Mel, kita kesana yuk, aku mau liat Tas import pengeluaran terbaru, hari ini aku  gajian,"


Ucap Nita penuh semangat.


"Baiklah tapi jangan lama-lama ya, aku nggak bisa lama, aku mau beli  Hb sama Cream Wajah."


kata Amelia.


"Iya, bentar aja kok,, kamu nggak mau lihat-lihat juga, suami kamu kan tajir."


 Kata Nita dengan tawa.


"Iya, tapi aku nggak hobby aja, lagian yang kaya kan Dia bukan Aku." Ucap Amelia cuek.


"Nita hanya mangut-mangut."


**Diluar**


"Akhirnya kita nyampe, kamu mau beli apa?" Ucap Diky pada Diandra.


"Aku nggak tau, udah lama juga aku nggak perna kesini."


(Ucapnya malu- malu) tapi memang benar semenjak Bapaknya meninggal Dia jadi tulang punggung keluarga, Dia harus tahan baja, kerja siang malam demi untuk makan Adik-Adik dan juga Ibunya yang saat ini sedang sakit.


"Kalau gitu kita jalan-jalan aja dulu ya, sambil liat-liat siapa tau ada yang minat di hati kamu."


"Terserah kamu aja"


       Akhirnya mereka masuk dengan Diandra menggandeng lengan Diky.


       Sementara ditempat yang berbeda, 2 sahabat sedang memilih tas import pengeluaran terbaru, intinya hanya Nita yang memilih sedang Amelia menunggu nya.


"Nita, udah belum, aku pegal nih nungguin kamu?"


"iya, bentar lagi."


"Akhirnya dapat, yuk." Ajak Nita pada Amelia.


      Selesai dengan beli Tas akhirnya mereka menuju tempat kosmetik dimana Amelia pengen beli keperluan pribadinya, sekalian juga peralatan mandinya.


      Saat sedang memilih- milih, tak sengaja Nita melihat Diky dengan  seorang Gadis Cantik.


" Mel, Mel, Amelia"


"liat deh tuh siapa?" (Ucap Nita sambil menyenggol Amel yang sedang memilih keperluannya).


"apaan sih Nita, nggak liat aku masih milih-milih."


"buruan, itu laki loh ama siapa?" tanya Nita, sambil nunjuk kearah dimana Diky dan Diandra sedang berjalan.


Amel yang sedang fokus, jadi teralihkan saat Nita menyebut nama suaminya.


"Kamu jangan ngaco' deh, Kak Diky itu katanya kerumah Fikry tadik." Ucap Amelia yang masih belum percaya dengan apa yang Nita katakan tentang Suaminya.


Nita yang nggak mau dibilang ngaco' akhirnya memutar tubuh Amelia,


Dan_


        Amelia sedikit terkejut juga sedih, Istri mana yang nggak sedih liat sang Suami jalan sama cewek lain,, tapi Dia pura-pura tersenyum.


"Oh, itu mungkin kerabatnya,"


 Ucap Amelia sambil balik mengambil barang belanjaan nya.


" Nita, kita pulang ya kepalaku tiba-tiba pusing."


[Bukan pusing sih tapi Dia nggak mau kalau Nita memergokinya sedang sedih].


"iya udahh, tapi kita nggak makan dulu, Aku lapar." Ucap Nita.


"Kamu mampir aja kerumah kita makan disana."


"Benaran, tapi apa Suami kamu nggak masalah?"


"iya, nggak apa-apa kok."


"Yuk, sambil menggandeng tangan Nita."


     Setelah selesai mengantri di kasir, saat Amelia balik badan niat ingin cepat-cepat pulang, Dia mala menabrak seseorang,


 Brak


dengan tergesa-GESA Amelia mengambil barang belanjaan nya yang sempat jatuh lalu minta maaf.


"Maaf aku nggak sengaja." Ucap Amel tulus.


        Namun saat bangun, ia mala terkejut melihat orang yang bertabrakan dengan nya.


"Kak Diky?"


Ucap Amel kaget, niat pengen menghindar mala tertabrak dengan nya.


 Ucap Diky hampir bersamaan dengan Amelia memanggil namanya, Dia juga kaget campur malu karena ketahuan telah berbohong.


          Diandra yang sedang menggandeng tangan Diky cepat-cepat melepasnya, dan Dia yakin kalau Dia adalah Amelia istri sah Diky.


         Diky yang gugup dan sempat bengong  akhirnya nya membuka mulut.


" Kenalin Dia Diandra Teman lama Aku."


           Amelia yang masih kurang percaya dengan Omongan Diky, tersenyum masam namun tetap berkenalan bagaimanapun ini tempat umum, dan Dia tidak punya Hak marah-marah sama Diky, karena ia tau, kalau Dia belum bisa menjadi istri yang baik untuk Diky.


"Amelia."


"Diandra."


Setelah selesai berkenalan Amelia memilih pamit pulang.


"Kak aku pulang duluan ya, aku masih banyak kerjaan dirumah."


"iya, hati-hati dijalan, mungkin aku pulangnya sore, masih ada yang pengen aku urus."


(urusan sama Diandra) bathinnya.


       Amelia dan Nita pergi tanpa banyak bicara, hati nya sedih melihat sang suami jalan dengan wanita lain, walau Dia tak bisa memberi Hak pada sang suami namun Dia juga wanita biasa dan itu bukan murni keinginannya.


Sampai rumah Dia mengajak Nita masuk, mereka memasak sambil ngobrol.


     Nita sengaja mengajaknya ngobrol banyak hal sambil sesekali bahas masa lalu, Dia yakin kalau perasaan sahabatnya saat ini sedang tidak baik alias Galau berat.


* Diky dan Diandra masih di Mall*


"Dik, tadik istri kamu?" tanya Diandra


"iya"


" Cantik ya?"


"iya, tapi Cantikan kamu"


"Gombal (sambil tersenyum) Dik, tapi aku merasa bersalah jangan sampai aku jadi perusak rumah tangga kalian" Ucap Diandra


"Rumah tangga kami sudah rusak semenjak Dia selalu menolakku" ucapnya datar


"ya udah, kamu belanja ya, aku nunggu di depan, abis itu kita nonton" lanjut Diky


      Akhirnya Diandra masuk tanpa ditemani Diky, Dia hanya membeli keperluannya saja, takut di sangka matre.


     Setelah selesai belanja  mereka lanjut nonton di bioskop, karena keasyikan nonton hingga tak terasa waktu berlalu kini sudah pukul 10:00 PM.


      Diandra akhirnya nya minta di antar pulang, Dia takut Ibu nya khawatir jika ia pulang terlalu larut malam, bagaimanapun Ibunya masih  sakit.


            Sebenarnya Diky masih pengen menghabiskan waktu bersama Diandra, namun Dia juga tidak tega pada Ibunya Diandra yang sakit, maka terpaksa Diky mengantar Diandra pulang.


"Dik, makasih ya atas waktunya, aku masuk dulu."


"Iya, sama- sama, lain kali kalau ada waktu kita jalan-jalan kepuncak"


Ucap Diky penuh harap


"Maaf ya Dik, tapi mungkin ini pertama dan terakhir, sebelum kamu pisah sama istrimu, aku nggak mau di Cap sebagai pelakor, walau pun sejujurnya aku juga masih sayang sama kamu, tapi sebagai sesama wanita aku nggak mau menyakiti hati wanita lain,


nggak apa-apa kan Dik, kuharap kamu mengerti"


"iya, nggak apa-apa, maaf ya kalau tadik kamu jadi nggak enak gitu" Ucapnya sedikit menyesal


"iya, itu bukan kesalahan mu"


     Diky pulang kerumah setelah pamit pada Diandra, saat memasuki rumah ternyata sudah terkunci untung Dia memiliki kunci serepnya.


"mungkin Amelia sudah tidur" Bathinku


        Diky masuk kamar dengan hati-hati, dan benar Amelia sudah tidur, Dia lalu membersihkan diri ke kamar mandi dan menyusul tidur.


         Semenjak saat itu Diky dan Diandra tidak lagi jalan bareng, karna Diandra menolak dengan alasan takut di Cap sebagai Pelakor, namun Diky sering kerumah Diandra hanya sekedar Cerita sama Ibu dan juga Adek- Adeknya.


Mereka juga sering komunikasi lewat Vc atau sekedar mengirim pesan hanya untuk tanya kabar.


               Diky juga sudah tak perna meminta Hak kepada istrinya, namun Sifatnya sudah banyak berubah, mulai dari sibuk di kantor, dan jika hati libur tiba Dia lebih memilih untuk jalan kerumah Diandra.


              Amelia juga tidak perna mempermasalahkan sifat Diky yang banyak berubah walaupun hatinya kecewa, istri mana yang tidak kecewa melihat suaminya dekat dengan wanita lain, apalagi mereka perna menjalin hubungan sebelumnya, Namun Dia tak bisa menuntut banyak karena Dia cukup tau diri penyebab sang Suami berubah, tapi pada dasarnya Dia juga tidak mengerti kenapa saat bersama Suaminya Dia merasa perasaan dan Nyawanya berada ditempat lain hanya Raga nya yang bersama sang Suami.


            Walaupun Ibunya sering mengeluh karna Diky tak lagi mengirim uang bulanan untuk Nya, tapi Amelia bisa mengatasi nya, Dia juga sering memberikan Ibu nya Uang sisa belanja Bulanan yang Diky berikan, walaupun tak sebanyak sebelumnya, tapi Amelia bilang kalau perusahaan Suaminya lagi ada masalah, jadi Ibu nya bisa percaya.


            Waktu berlalu begitu cepat hingga 6 bulan sudah mereka tinggal bersama dan hubungannya semakin hari semakin dingin, hingga akhirnya Diky memutuskan kan akan mengurus perceraian mereka jika Amelia masih tetap pada pendiriannya, tidak bisa memberikan Hak nya, kecuali kalau Dia mau dimadu, dan tentu ini aka dibicarakan Oleh keluarganya dulu terutama sang kakek, dan Diky sudah bulat pada keputusan nya untuk menikahi Diandra.


"Entah apa keputusan kakek yg jelas Akupun tetap pada pendirian ku." Kata Diky dalam hati.


"Cukup sudah kesabaran ku 6 bulan ini, maafkan Aku Dek," bathinku.