
Sesuai permintaan Ayahnya, Bram mengurus semua perusahaan dan Aset-aset milik Ayahnya dialihkan kepada ke 3 Cicit-cicitnya, dan karena Mereka masih sekolah maka perusahaan milik Leon dan Leo akan dikelolah Oleh Bram dan juga Diky,
Namun Leo dan Leon tetap harus belajar Bisnis, jika sudah pulang sekolah dan di waktu senggang, Diky dan Fikry membantu Leon dan Leo belajar berbisnis, dan meskipun Mereka masih duduk di bangku SMA tapi IQ mereka sangat tinggi, sudah terbukti saat mereka masih kanak-kanak, Mereka sangat mudah memahami pelajaran dan juga akan selalu mengingatnya,
Sedangkang Hotel dan Beberapa Kafe milik Anjani dikelolah Diandra dan juga sesekali dibantu Oleh suaminya,
Setelah semua urusan pengalihan perusahaan nya selesai, kakek kini bersedia menjalankan operasi, yang dilakukan oleh Dokter ahli beda, namun operasi nya dilakukan diluar negeri di rumah sakit ternama, tentu dengan alat-alat medis yang lengkap.
Seminggu setelah operasi beliau sudah diizinkan pulang ke negaranya, kondisinya juga sudah membaik, selama selesai Operasi, Bram tak perna maninggal kan Ayahnya, meskipun jika ada keperluan maka Dia akan menyuruh Asistennya.
Setelah sampai dikediamannya, Kakek Tama disambut oleh keluarga kecil Diky, yang membuat kakek sangat bersyukur karena masih bisa melihat kebahagiaan Anak dan keluarga Cucunya,
Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama, sebab seminggu setelah datang dari luar negeri menjalani operasi, penyakit lamanya kambuh dan Drop hingga menghembuskan nafas terakhirnya,
Setelah acara pemakaman selesai, satu persatu pelayat meninggalkan area pemakaman tersebut, kini tinggal keluarga Diky dan Papa juga Mamanya,
"Nak, kita kerumah utama dulu ya !" Pinta Pak Bram pada Anaknya.
"iya Pa, aku juga ingin membicarakan tentang beberapa perusahaan yang telah kakek berikan pada Anak-anak." jawab Diky
"iya, sebaiknya kita bicarakan dirumah setelah makan malam."
Mereka akhirnya pulang kerumah utama juga termasuk Leo dan Leon. Mereka lalu makan malam bersama,
Selesai makan, Diandra dan Mama Ziea memilih nonton TV menemani Anjani yang lagi marajuk, sedangkan Leo dan Leon sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing, Bram dan Diky menuju ruang kerjanya untuk membicarakan masalah bisnis.
"ingin bicara soal apa Dik?" tanya Bram pada Anaknya tanpa basa-basi.
"proyek yang ada di pulau Xx sedang dalam masalah Pa, Aku rasa ada penggelapan dana, karena anggaran tidak sesuai hasil, dan seharusnya jika sesuai target, proyek tersebut sudah kelar bulan lalu, tapi menurut laporan baru 70% yang selesai, dan juga cabang perusahaan yang ada di pulau sebelah juga ada masalah, mungkin aku harus turun tangan dengan Fikry, Aku curiga ini perbuatan beberapa saingan bisnis kita, tapi Aku butuh seseorang untuk menghandle pekerjaan ku disini, dan Aku belum menemukan seseorang yang bisa aku percaya." Diky menjelaskan secara detail tentang masalah yang ia Alami berharap Papanya bisa membantunya,
"iya, kamu benar, semenjak kakek mengalami kecelakaan waktu itu, kita sibuk mengurus kesembuhan kakek, aku rasa itu trik mereka menghancurkan perusahaan kita,
Jadi Kapan rencana kalian akan berangkat?" tanya Pak Bram.
" Mungkin kami akan berangkat besok pagi setelah sarapan, aku serahkan perusahaan ku sama Papa dulu." pinta Diky.
"Baiklah, lebih cepat lebih baik, kamu jangan khawatir pekerjaan disini akan aku urus, berangkat lah."
"Makasih pa !" Ucap Diky tulus, sambil memeluk Papa nya
"iyya, berapa lama kalian pergi?"
"Mungkin sekitar 2 Minggu, jika kerjaan lancar, aku akan meninjau proyek dulu, baru ke pulau sebelah."
"Hum, baiklah Aku akan mengurus perusahaan mu, lalu bagaimana Anak-anakmu ? Apakah mereka sudah belajar bisnis?" tanya Pak Bram
"Sepertinya Leo sangat Cocok jadi pemimpin perusahaan, Watak dan kemampuan juga IQ nya sangat tinggi, sedangkan Leon meskipun kepintaran nya juga hampir menyamai Kakaknya tapi sepertinya Dia masih butuh waktu untuk bisa memimpin perusahaan, kadang-kadang Anak itu teledor dan suka tebar pesona pada lawan jenisnya, Dia akan mudah diperdaya orang jika Pemimpin nya seperti Leon." keluh Diky pada Papanya, tentang watak kedua Anaknya.
"Papa rasa juga seperti itu, tapi seiring berjalannya waktu, mereka akan paham tanggungjawab nya, jangan memaksakan Anak-anakmu."
"Iyya Pa ...!"
"Daddy, jadi berangkat pagi ini?" tanya Leo saat sedang sarapan bersama dirumah utama.
"Iyya, Daddy antar kalian Mommy dan Anjani dulu, kalian jangan keluyuran ya, selama Daddy pergi ingat jaga Mommy dan Anjani." pinta Diky pada kedua Putranya.
"Baik, Daddy, tapi kami langsung menuju kesekolah habis sarapan."
*
*
Semenjak kepergian Daddy-nya, Leo dan Leon benar-benar serius belajar bisnis bersama Kakeknya, Bram mendidik Cucu-cucunya dengan sungguh-sungguh penuh dengan kesabaran,
Pak Bram juga menegaskan pada Cucunya bahwa mereka harus belajar sungguh-sungguh karena sekarang perusahaan mereka sedang dalam masalah, jika bukan mereka lalu siapa lagi yang akan mempertahan perusahaan tersebut.
Dan karena perkataan kakek Bram itulah yang membuat Leo dan Leon benar-benar belajar bisnis dengan sungguh-sungguh, karena Mereka tidak mau jika perusahaan yang telah Kakek buyutnya bangun dari Nol, hingga dikelolah oleh Kakek Bram dan juga Ayahnya, Sampai Guling tikar karena ketidak sungguhan mereka.
*
2 Minggu telah kepergian Daddy-nya kepulau Xx untuk meninjau proyek dan juga Perusahaan nya, Namun Diky belum juga datang, semenjak sudah menikah baru kali ini Diky bepergian cukup lama, membuat istri dan Kedua Putranya khawatir dan berfikir jika perusahaan yang didatangi Daddy-nya benar-benar dalam masalah.
*
"Mom, Daddy kapan pulang?" tanya Leon saat makan malam bersama Ibu dan juga Saudara-saudaranya.
"Mungkin lusa sayang."
"Apa kerjaan Daddy udah kelar Mommy?" Leo ikut menimpali.
"katanya sih di proyek udah, sekarang Daddy ada di pulau sebelah, Dia mengunjungi Anak perusahaannya yang sedang dalam masalah." jawab Diandra dengan wajah sedikit menunduk menyembunyikan kesedihannya, jujur ia khawatir dengan keadaan suaminya tak tak biasanya pergi lama dan sangat jarang menelponnya, namun sebisa mungkin bersikap tegar didepan Anak-anaknya.
"Kapan Daddy nelpon, kenapa kami nggak tau Mom ?" tanya Leo yang sedikit curiga dengan perubahan wajah Ibunya saat membahas kepulangan Daddy-nya.
"Kemarin Om Fikry nelpon, katanya Daddy belum bisa nelpon, banyak kerjaan dan sangat sibuk, Daddy juga mengirim pesan pada Mommy." jawabnya dengan tersenyum sebisa mungkin.
tanpa Dia sadari bahwa Putra sulungnya sangat pandai menilai wajah seseorang termasuk Mommynya yang saat ini sedang banyak fikiran, dan menyembunyikan kesedihannya.
*
Dua hari berlalu, dipulau sebelah Diky dan Fikry akhirnya bersiap untuk pulang, rasa rindu pada keluarganya sudah sangat dalam, selama tinggal di pulau Xx dia sangat sibuk dengan pekerjaan sehingga tak punya banyak waktu walaupun hanya sekedar nelpon.
"Fik, apa semua sudah siap?" tanya Diky saat Dia berada dipusat perbelanjaan, mereka menyempatkan waktu untuk membeli oleh-oleh untuk keluarganya.
"Sudah Bos, kita akan berangkat siang ini !" sahut Fikry
"baiklah, aku sudah sangat rindu pada keluarga ku, termasuk istri dan juga putri kecilku." guman Diky sambil membayangkan hari-hari yang telah ia lalui bersama istri dan anak-anaknya.
Setelah sampai Apartemen mereka siap-siap berangkat, Fikry menyuruh anggotanya untuk memasukkan barang-barang mereka kedalam Bagasi, Tanpa mereka sadari, sejak dari pusat perbelanjaan sepasang mata sudah mengikutinya.
πΊππΊ