
Leon dan Pak Jono masih mengobrol sedangkan Leo memilih diam saja dan jadi pendengar, tanpa terasa mereka sudah memasuki gerbang pekarangan rumah, seorang satpam segera membuka pagar untuk sang majikan.
Leo dan Leon Memasuki rumah dengan melangkah sangat hati-hati, karena samak-samak mereka mendengar suara Isak tangis seseorang,
ketika sampai diruang tamu, mereka melihat Mommy dan Daddy-nya tengah bersiap-siap, dan Anjani yang masih menangis, merengek minta ikut.
"Mom, ada apa ?" tanya Leo sambil menghampiri Ibunya yang masih sedih.
"Opa buyut kecelakaan sayang dan Dia dilarikan kerumah sakit, tolong kalian jaga Anjani ya !" Mommy dan Daddy akan berangkat sekarang.
"Kami akan ikut Mom ." pinta Leo.
" Nggak, sayang. ini darurat, kita belum mengetahui penyebab kecelakaan Kakek, bisa jadi ini perbuatan saingan bisnis Kakek yang selama ini selalu berusaha menjatuhkan Kakek lagian ini diluar pulau!" jelas Diky pada Anaknya sebelum Diandra berbicara.
"Baiklah kalau gitu, tapi kabari kami jika kalian sudah sampai."
"Iyya, kami berangkat ya, ingat jaga Adik kalian dan jangan keluyuran." Pesan Diky pada kedua Anaknya.
"Iyya, Dad, hati-hati dijalan." Pesan Leo pada Daddy-nya.
Mobil Diky meninggalkan pekarangan rumah, malaju dengan kecepatan tinggi, Dia sangat khawatir semenjak Mamanya menelpon dan memberitahu tentang kecelakaan Kakeknya yang sedang dalam perjalanan keluar pulau, untuk mengikuti tender, namun Beliau mengalami kecelakaan sebelum sampai di apartemen.
"Fik, pesankan Aku tiket penerbangan ke pulau sebelah, aku mau yang secepatnya, dan temui aku di bandara." Ucap Diky saat sambungan telpon tersambung.
"Baik, Bos. untuk berapa orang?" tanya Fikry, yang memang belum tau perihal kecelakaan Tuan besar ( Kakek Diky ).
"2 Orang, kamu kebandara ya ada hal ingin aku bicarakan dengan mu."
"Hum, baik."
Tut Tut tut
Sambungan telpon terputus.
tak butuh waktu lama Mobil Diky sudah memasuki area bandara, lalu Dia menuju parkiran sambil menunggu Fikry, selang 5 menit Fikry datang.
"Bagaimana, apa sudah pesan tiket nya?" Diky langsung memborong pertanyaan saat Fikry baru keluar dari mobil.
"Sudah Bos, aku sewa helikopter biar cepat, jadwal penerbangan pesawat masih lama." jelas Fikry, yang sudah hafal sifat Bos nya, jika Dia terburu-buru maka sudah pasti keadaan mendesak.
"kamu memang terbaik, Aku akan berangkat sekarang, Kakek kecelakaan, aku percayakan perusahaan padamu, urus mobilku juga ya." pinta Diky pada Fikry
"Kamu jangan khawatir, Aku akan urus semuanya, tapi kalau boleh tau apa penyebab kecelakaan Tuan besar?" tanya Fikry yang memang belum tau penyebab kecelakaan tersebut.
"Menurut informasi, ada mobil tronton yang melaju dengan kecepatan tinggi, sementara mobil tersebut Rem nya Blong, hingga membuat beberapa pengendara lainnya terlibat kecelakaan, termasuk mobil kakek."
"Apa kamu yakin kalau kecelakaan ini normal kecelakaan biasa?"
"Aku rasa tidak, karena kakek akan mengikuti tender proyek besar di pulau tersebut."
"Apa beliau pergi sendiri?"
"iya, awalnya Papa yang akan pergi namun karena di perusahaan pusat ada masalah dan kerjaan sangat menumpuk hingga membuat kakek hanya berangkat dengan Asisten nya, aku berangkat ya."
"i_iya. hati-hati, aku akan menyusul jika kerjaan dikantor sudah selesai."
Diky dan Diandra akhirnya berangkat dengan helikopter yang sudah disewa oleh Fikry sebelumnya, dan tak butuh waktu lama untuk Mereka sampai di pulau sebelah.
Diky dengan cepat memasuki mobil yang sudah Fikry telpon sebelumnya,
"Pak, jalannya cepat ya, pinta Diky pada Pak Sopir."
"Baik Tuan."
Tak butuh waktu lama Mereka sudah sampai disebuah rumah sakit besar, dengan alamat yang Dokter kirimkan sebelumnya tak membuat Diky kesulitan mencari ruangan perawatan kakeknya,
"Gimana keadaan Kakek saya Dokter?" tanya Diky dengan raut wajah cemas.
"Maaf, Pak, kami harus menyampaikan kabar ini, Beliau mengalami luka cukup parah hingga keadaan nya Krit1s dan kami harus melakukan Operasi, atas persetujuan dari Tuan Bram kami telah melakukan Operasi dan Beliau masih diruang Operasi saat ini." Dokter menjelaskan kepada Diky tentang keadaan Kakeknya tanpa ada yang ditutupi.
"Baiklah, Aku akan kesana !" Guman Diky lalu beranjak pergi menuju ruang operasi dimana kakeknya saat ini.
Diky menunggu diluar, karena Lampu diruang Operasi tak kunjung padam membuatnya jadi gelisah, Diky Mondar-mandir didepan ruang operasi, setelah menunggu cukup lama, akhirnya lampu tersebut padam, pertanda operasi telah selesai, Diky berjalan menuju pintu menunggu Dokter tersebut keluar.
Ceklak..
Suara pintu terbuka, dan muncullah sosok yang ditunggu-tunggu Diky, Saat Dokter baru saja keluar dari pintu, Diky melontarkan pertanyaan padanya.
"Dok, bagaimana keadaan Kakek saya?" tanya Diky dengan wajah cemas, sementara Diandra tetap berada disisi suaminya, karena kesibukan Papa dan Mama Martuanya tidak bisa datang.
"Alhamdulillah, operasi nya berjalan lancar, tinggal menunggu pemulihan, tapi Kaki beliau mungkin akan lama mengalami pemulihan." ucap Dokter jujur, tak ingin menyembunyikan keadaan pasien pada keluarganya.
" Maksud Dokter?" tanya Diky yang kurang paham.
"Kaki kirinya kemungkinan tertindih sesuatu yang berat hingga tulangnya hampir patah, jadi kemungkinan akan butuh waktu untuk sembuh, biarkan Beliau memakai kursi Roda jika sudah membaik, Anda bisa membawanya untuk menjalankan Operasi oleh Dokter Ahli bedah yang terkenal." Dokter menjelaskan panjang lebar, juga memberikan saran pada Diky.
"Baiklah Dok, terima kasih, Kami akan menemui Kakek setelah dipindahkan keruang perawatan." ucap Diky tulus, berusaha tetap tegar.
Saat sedang menunggu sang Kakek dipindahkan keruang perawatan tiba-tiba sering ponsel membuyarkan lamunannya, Diky lalu merogoh kantong celananya dan ternyata Tuan Bram yang menelpon Papanya Diky,
"Iyya, Pa ?" tanya Diky saat panggilan tersambung.
"Gimana keadaan Kakek mu?"
"Alhamdulillah Operasi Kakek berjalan lancar, kami akan pulang saat keadaan Kakek sudah membaik." Jelas Diky, tanpa memberitahu keadaan sebenarnya, karena tidak ingin membuat Papa nya banyak fikiran.
"Syukurlah, setelah Papa pulih kalian kembalilah, nggak usah ikut tender itu, aku yakin ini perbuatan salah satu saingan bisnis Papa yang ingin memenangkan tender tersebut, kita bisa ikut lain waktu, tapi nyawa Papa dalam bahaya sekarang." Jelas Bram pada Anak semata Wayangnya.
"Apa kita tidak akan terder yang besar itu Pa, aku bisa menggantikan Kakek !"
"Lalu siapa yang akan menjaga Kakek mu?" kesal Bram pada Anaknya, yang menurutnya keras kepala sama seperti Kakeknya.
"Aku akan hubungi Fikry agar mengirimkan beberapa pengawal ."
"Nggak usah, Papa ada teman bisnis Dia yang akan mewakili Kakek mu." Bram akhirnya memberitahu Diky karena Diky masih ngotot ingin ikut tender tersebut.
"Baiklah, kalau gitu, Aku akhiri telponnya ya, Aku akan lihat kakek dulu."
"Hum, cepatlah pulang jika Kakek mu sudah lebih baik.
Tut tut tut
Sambungan telpon terputus
Diky dan Diandra masuk dalam ruangan perawatan Kakeknya, Diky sudah memesankan kamar yang luas untuk Kakeknya agar Beliau bisa beristirahat dengan nyaman.
Karena kakek nya belum juga Siuman Diky lalu memesan makanan untukNya dan juga istrinya karena mereka belum makan sejak sampai, karena khawatir keadaan Kakek nya hingga mereka lupa untuk sekedar makan.
sementara ditempat yang berbeda seseorang telah murka akibat pekerjaan suruhannya gagal tapi Dia juga tertawa berbahak-bahak bagai orang kesetanan.
"Mampus kau Kakek Tua meskipun nyawaMu terselamatkan tapi setidaknya Kau tak bisa ikut Terder ini Hahahaha, sudah Tua masih juga bersaing denganku." tawa menyeramkan menggema diruangan itu, membuat yang mendengarnya jadi merinding.
🌺🌺🌺❤️🌺🌺🌺